Senin, 27 Mei 2024
32 C
Semarang

Pergantian Hari Jadi Provinsi Jateng, Komisi A DPRD: Otomatis Usiannya Bertambah 5 Tahun

Berita Terkait

PORTALJATENG.ID – Ketua Komisi A DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh menyatakan setelah hari jadi Provinsi Jawa Tengah resmi diganti menjadi 19 Agustus 1945, memberikan dampak pada usia provinsi Jateng. Menurutnya, usianya Jateng tahun ini akan bertambah lima tahun.

Perlu diketahui, sebelumnya hari jadi Jateng jatuh pada tanggal 15 Agustus 1950. Pergantian ini berdasarkan landasan hukum yang telah disepakati dan disahkan. UU Nomor 11 Tahun 2023 telah merevisi UU Nomor 10 Tahun 1950, sehingga mulai tahun ini peringatan hari jadi Jateng dilakukan tiap 19 Agustus.

Ketua Komisi A DPRD Jateng Mohammad Saleh mengatakan, jika peringatan hari jadi Jateng diperingati setiap tanggal 15 Agustus 1950, maka tahun ini usianya ke-73. Berhubung hari jadi resmi diganti, usianya tahun ini otomatis akan bertambah 5 tahun, yaitu menjadi 78 tahun.

“Mulai tahun ini kita nambah 5 tahun umur kita. Tidak lagi 72, kan kalau hari jadinya 1950 terakhir kan 72, tahun besok 73. Tapi kalau hari jadinya tahun 1945, kita nambah 5 tahun. Berarti umurnya 78, kan sama dengan HUT kemerdekaan kita. Bukan nambah umur secara tiba-tiba. Tapi dasarnya Undang-undang,” jelas Saleh.

Dia pun menjelaskan alasan pergantian hari jadi provinsi Jateng jatuh pada tanggal 19 Agustus. Yaitu pihaknya berdasarkan usulan dari kelompok veteran atau bekas prajurit kemerdekaan dan Dewan Harian Daerah Badan Pembudayaan Kejuangan 45.

Usulan itu langsung dibawa oleh Komisi A ke DPR RI. Akhirnya, Komisi II DPR RI mau mengubah Undang-undang Nomor 10 Tahun 50. Pasalnya, UU 10 Tahun 50 dibentuk pada zaman Republik Indonesia Serikat (RIS) dan tidak berlandaskan UUD 45.

“Sehingga ini harus diganti dan disesuaikan,” imbuh Saleh.

Ia mengungkapkan, alasan kelompok veteran dan DHD 45 ingin mengubah hari jadi Jateng lantaran dalam catatan sejarah, provinsi ini terbentuk pada 19 Agustus 1945 dengan Raden Pandji Soeroso sebagai Gubernur pertama.

Mereka menganggap jika hari jadi Jateng jatuh pada 15 Agustus 1950, maka ada tiga gubernur yang seolah-olah tidak dianggap. Yakni Raden Panji Soeroso (19 Agustus 1945-13 Oktober 1945), KRMT Wongsonegoro (1945-1949), Raden Boedijono (1949-1954).

“Kalau kita jadikan Jateng lahirnya di 15 Agustus 1950 ada gubernur yang tanda kutip seolah kita tidak menghargai gubernur itu,” kata Saleh.

Ia mengatakan, urgensi pergantian hari jadi provinsi Jawa Tengah tersebut bukan persoalan dampaknya. Namun lebih kepada sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan kepada para gubernur di zaman itu.

“Bukan masalah dampaknya. Sekarang bayangkan simbah kita menjadi Gubernur pada waktu itu kenapa kita seolah-olah meniadakan. Kita sebagai anak cucunya berati kan simbah kita gak diakui sebagai gubernur. Kita hanya masalah batin saja. Menghargai orang yang sudah berjuang,” pungkas Saleh.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru