Selasa, 10 Februari 2026
25 C
Semarang

Di Balik Kemudi yang Lelah: JSB Gelar Safety Campaign untuk Antisipasi Risiko di Ruas Tol Batang-Semarang

Jaga Keselamatan di Tol Batang-Semarang, JSB Gelar Safety Campaign untuk Pengguna Jalan

Berita Terkait

SEMARANG – Berangkat dari data bahwa faktor manusia seperti kelelahan dan kurang fokus masih menjadi penyumbang utama kecelakaan, PT Jasamarga Semarang Batang (JSB) mengambil langkah proaktif. Perusahaan menggelar Safety Campaign secara langsung kepada pengguna jalan di Rest Area KM 379 A Ruas Tol Batang-Semarang, Kamis (5/2/2026). Kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tetapi upaya konkret menyentuh akar masalah, kondisi pengemudi dan kesiapan kendaraan.

Kampanye ini melibatkan edukasi interaktif tentang pentingnya istirahat saat lelah, menjaga batas kecepatan, dan memastikan kondisi kendaraan prima. Yang menarik, JSB juga menyediakan pemeriksaan kesehatan gratis oleh dokter dari Jasa Raharja serta pemasangan stiker reflektif pada kendaraan untuk meningkatkan visibilitas di malam hari atau cuaca buruk.

“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengingatkan kembali pentingnya kesiapan fisik pengemudi, kelayakan kendaraan, serta kepatuhan terhadap rambu dan aturan lalu lintas,” tegas Direktur Utama PT JSB, Nasrullah.

Data Kecelakaan: Potret Kerentanan di Segitiga Emas Lalu Lintas

Kampanye ini menemui konteksnya yang nyata ketika melihat data dari Polres Kendal. Meski frekuensi kecelakaan di ruas tol ini cenderung menurun dalam beberapa bulan terakhir, dampak setiap kejadian bisa sangat masif.

AKP Panji Yugo Putranto, Kasatlantas Polres Kendal, dalam wawancara melalui telepon mengatakan, bahwa ada catatan yang mengkhawatirkan. Pada Oktober 2025, satu insiden tunggal kecelakaan bus PO Haryanto yang terguling di KM 354 menelan 3 korban jiwa dan 20 korban luka. Analisis awal mengarah pada kombinasi faktor kelelahan pengemudi dan cuaca buruk. Sementara di September 2025, selain kebakaran bus akibat ban pecah, juga terjadi tabrakan yang diduga karena kurang menjaga jarak aman.

“Rata-rata, dari tiga kejadian yang tercatat September-Oktober 2025, setiap insiden menimbulkan sekitar 8 korban. Ini angka yang serius. Penyebab dominannya adalah kelalaian pengemudi: mengantuk, tidak fokus, dan tidak menyesuaikan kecepatan dengan kondisi,” jelas AKP Panji.

Data ini memperkuat filosofi kampanye JSB, bahwa keselamatan dibangun dari hal-hal mendasar yang sering diabaikan.

Lebih Dari Sekadar Stiker, Membangun Kultur “Safety First” dari Hal Paling Dasar

Safety Campaign JSB mencoba menjawab penyebab-penyebab dasar tersebut dengan tindakan preventif yang langsung terasa:

  1. Cek Kesehatan Gratis: Mendeteksi dini kondisi seperti tekanan darah tinggi, gula darah, atau kelelahan ekstrem yang berbahaya jika dipaksakan berkendara.
  2. Stiker Reflektif: Solusi sederhana namun vital untuk mengurangi risiko tabrakan dari belakang dalam kondisi visibilitas rendah.
  3. Dialog Interaktif: Memberi ruang bagi pengemudi untuk berbagi keluhan atau kekhawatiran, sekaligus mendapatkan solusi langsung dari petugas.

Langkah-langkah ini adalah upaya untuk memutus mata rantai penyebab kecelakaan yang berulang. Seperti diungkapkan Nasrullah, kolaborasi dengan Jasa Raharja dan aparat kepolisian diharapkan bisa meningkatkan kesadaran kolektif bahwa keselamatan adalah investasi perjalanan yang paling utama.

Catatan Redaksi

Di antara gelombang mobil dan truk yang melaju cepat di Tol Batang-Semarang, ada narasi yang sering terabaikan, narasi tentang kelelahan, asumsi, dan kecerobohan. Safety Campaign yang digelar JSB adalah upaya kecil namun signifikan untuk menyelipkan pesan-pesan kritis itu ke dalam kesibukan perjalanan.

Data kecelakaan yang disampaikan Polres Kendal adalah pengingat keras bahwa di atas aspal mulus dan infrastruktur yang bagus, faktor manusia tetap menjadi variabel paling tidak terduga dan paling mematikan. Sebuah ban pecah atau hujan deras mungkin jadi pemicu, tetapi akar masalahnya seringkali sudah ada sebelumnya, di tubuh pengemudi yang lelah namun nekat meneruskan perjalanan, di pikiran yang terdistraksi gawai, atau di anggapan remeh bahwa “jalan masih panjang, nanti istirahat.”

Oleh karena itu, kampanye seperti ini patut diapresiasi, tetapi juga perlu dilihat sebagai awal, bukan akhir. Keberhasilannya tidak diukur dari seberapa ramai rest area saat acara, tetapi dari apakah angka kecelakaan akibat kelelahan dan human error bisa ditekan dalam jangka panjang. Ini memerlukan konsistensi, inovasi format edukasi, dan mungkin penambahan fasilitas pendukung seperti coaching clinic berkala untuk pengemudi kendaraan berat.

Pada akhirnya, keselamatan lalu lintas adalah cermin kedewasaan berkendara sebuah masyarakat. Setiap kampanye, stiker reflektif, dan tensi darah yang dicek adalah upaya untuk menanamkan budaya itu, bahwa sampai di tujuan dengan selamat adalah kemenangan yang lebih berharga daripada sampai dengan cepat. Saat pengemudi beristirahat sejenak di rest area, memeriksa kendaraannya, dan menyadari batasan fisiknya sendiri, di situlah sebenarnya fondasi keselamatan yang paling kokoh dibangun.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru