Kamis, 19 Februari 2026
31 C
Semarang

Dua Remaja Tenggelam di Sungai Grobogan, Satu Terseret Arus Satunya Lagi Jadi Korban Jiwa

Dua Remaja Tenggelam di Sungai Grobogan, Satu Tewas

Berita Terkait

GROBOGAN – Duka menyelimuti Desa Tanjungharjo, Kecamatan Tegowanu, Kabupaten Grobogan. Dua remaja berusia 15 tahun dilaporkan tenggelam di Sungai Dukuh Ngambleg pada Selasa (18/2/2026) sore. Satu korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal, satu lainnya masih dalam pencarian tim SAR gabungan hingga Kamis (19/2/2026) pagi.

Korban diketahui bernama Levi Hengki Kurniawan dan Adi Aryaguna, keduanya warga setempat. Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 15.30 WIB saat mereka bermain dan mandi di pinggir sungai.

Berawal dari Niat Menolong, Berakhir Tragedi

Berdasarkan keterangan Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, kejadian bermula ketika salah satu korban terpeleset dan terbawa arus deras. Melihat rekannya hanyut, korban lainnya berusaha menolong. Namun, arus sungai yang kencang justru ikut menyeretnya.

“Keduanya tidak bisa berenang. Kondisi cuaca saat itu gerimis, arus sungai cukup deras dengan debit air tinggi. Kedalaman di pinggiran sungai saja sekitar dua meter, sehingga mereka cepat terbawa arus dan tenggelam,” jelas Budiono.

Informasi pertama diterima warga yang melihat kejadian dan diteruskan ke perangkat desa. Laporan resmi masuk ke Kantor SAR Semarang melalui Pos SAR Jepara pada pukul 18.00 WIB. Sepuluh menit kemudian, tim rescue langsung diberangkatkan ke lokasi.

Pencarian Semalaman, Satu Korban Ditemukan

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Pos SAR Jepara, BPBD Kabupaten Grobogan, Polsek Tegowanu, Koramil Tegowanu, dan warga setempat mengerahkan peralatan lengkap. Dua perahu karet dikerahkan untuk menyisir sungai, sementara tim lain melakukan pencarian di pinggir sungai dengan berjalan kaki.

Peralatan canggih seperti Aqua Eye dan pelampung juga digunakan untuk memaksimalkan pencarian. Setelah berjam-jam menyisir aliran sungai, satu korban akhirnya ditemukan pada Rabu pagi dalam kondisi meninggal dunia. Korban kedua masih dalam pencarian.

“Meskipun debit air masih tinggi, cuaca cukup cerah hari ini. Harapan kami tim bisa segera menemukan korban satunya lagi,” tutur Budiono.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan bahaya bermain di sungai saat musim penghujan. Debit air yang tinggi dan arus deras adalah kombinasi mematikan, terutama bagi mereka yang tidak bisa berenang.

Lingkungan perairan yang tampak tenang di permukaan bisa menyembunyikan arus bawah yang kuat. Kedalaman yang tidak terduga juga menjadi faktor risiko utama. Korban pertama terpeleset di pinggir yang diduga dangkal, tapi ternyata kedalaman mencapai dua meter.

Catatan Redaksi

Dua remaja, satu nyawa melayang, satu lagi masih dalam pencarian. Semua berawal dari kesenangan sederhana, mandi dan bermain di sungai saat sore hari. Tak ada yang menyangka, aktivitas yang dilakukan ribuan anak desa setiap musim hujan ini berakhir tragis.

Ironisnya, niat menolong justru menambah daftar korban. Satu nyawa melayang bukan karena kecelakaan tunggal, tapi karena rantai peristiwa yang dimulai dari ketidaktahuan akan bahaya, minimnya kemampuan berenang, hingga arus deras yang tak kenal ampun.

Sungai di musim hujan adalah keindahan sekaligus ancaman. Airnya mengalir deras membawa berkah bagi sawah, tapi juga bisa membawa nyawa jika tak diwaspadai. Masyarakat, terutama anak-anak dan remaja, perlu terus diingatkan, bahwa tidak semua tempat bermain aman, tidak semua arus bisa ditaklukkan, dan tidak semua pertolongan berakhir selamat.

Semoga korban segera ditemukan, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan bagi kita semua, jadikan ini pelajaran bahwa air yang memberi hidup, bisa pula mengambilnya dalam sekejap. Tanpa ampun. Tanpa peringatan.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru