UNGARAN, PortalJateng.id – Denting semangat kemerdekaan terasa begitu kental di lapangan outdoor Kampung Sitalang, RT06 RW08, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Minggu (9/8/2026). Ratusan warga tumpah ruah menyaksikan puncak Turnamen Bola Voli Enthok Cup 3, sebuah tradisi yang kini menjelma menjadi ikon kebersamaan dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81.
Enam tim dari RT 01 hingga RT 06 se-RW 08 bertanding sejak pukul 08.30 hingga 15.00 WIB. Pertandingan yang dibuka oleh Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Mahfud Novani, berlangsung aman, kondusif, dan penuh semangat sportivitas. Di tengah hiruk-pikuk pertandingan, bukan sekadar kemenangan yang diperebutkan, tetapi ruang untuk saling bertemu dan tertawa bersama.
RT06 Kokoh di Puncak, Gelar Juara Bertahan Terukir
Babak final mempertemukan tim tuan rumah RT06 dengan tim tangguh RT01. Pertandingan berlangsung sengit dengan saling balas smash di setiap jalannya laga. RT01 yang sempat tertinggal di babak pertama mampu bangkit dan mendominasi di babak kedua. Namun, di babak ketiga, RT06 berhasil keluar sebagai pemenang dan mengukuhkan diri sebagai juara bertahan tiga tahun berturut-turut sejak Enthok Cup pertama digelar.
Berikut daftar pemenang dan hadiah yang berhasil diraih:
- 🥇 Juara 1: RT06 (5 ekor enthok + piala + bola voli hiburan dari Bapak Mahfud Novani)
- 🥈 Juara 2: RT01 (4 ekor enthok + piala)
- 🥉 Juara 3: RT05 (3 ekor enthok + piala)
- Juara 4, 5, 6: Masing-masing mendapat 2 ekor enthok
Nama-nama pemain terbaik yang tampil gemilang di antaranya Didit (TNI), Riki Hamaz, dan Agung Syukur dari RT06, serta Jabrik dan Noval dari RT01. Sorak sorai terdengar setiap kali mereka berhasil mengeksekusi serangan, menjadikan lapangan kecil itu bagaikan gelanggang olahraga profesional.

Ratusan Suporter, Yel-yel Kreatif, dan Semangat Guyub
Suasana semakin semarak dengan kehadiran lebih dari 200 penonton dari berbagai usia, mulai dari anak-anak yang berlarian di pinggir lapangan, bapak-bapak yang duduk lesehan, hingga ibu-ibu yang tak kalah vokal. Mereka memadati area lapangan dengan antusias, membawa galon bekas untuk dijadikan alat tabuhan ritmis, melontarkan yel-yel lucu, dan memberikan dukungan penuh kepada tim kesayangan mereka.
Kolaborasi antara panitia, warga, dan mahasiswa KKN UIN Walisongo turut memperlancar jalannya turnamen. Mulai dari penyediaan hakim garis hingga papan skor, semua bergerak bahu-membahu. Kehadiran donatur dari berbagai kalangan, baik pribadi maupun korporasi, juga menjadi roh yang memungkinkan acara ini terwujud dengan meriah.

Lebih dari Sekadar Juara: Enthok sebagai Simbol Kebersamaan
Di balik riuhnya tepuk tangan dan peluit panjang, ada pesan mendalam yang disampaikan oleh panitia. Ketua Panitia Lomba, Aris, menyampaikan bahwa Enthok Cup bukan sekadar ajang kompetisi. “Ini adalah ruang kebersamaan. Meskipun hadiahnya hanya unggas, antusiasme warga luar biasa. Kami ingin menjadikan ini sebagai tradisi tahunan yang memperkuat kekompakan warga RW 08,” ujarnya dengan penuh haru.
Hal senada disampaikan oleh Ketua RW 08, Abdusallam, yang berharap turnamen ini terus berkembang dan menjadi ikon kebersamaan di setiap peringatan HUT RI. Bagi warga, nilai lima ekor enthok yang diperebutkan jauh melampaui harga pasarnya, itu adalah simbol keuletan, kebersamaan, dan canda tawa yang tercipta selama persiapan.
Warga Berharap, Enthok Cup 4 Ditunggu

Salah satu warga RT06, Lilik, mengungkapkan rasa bangga dan senangnya menyaksikan turnamen ini. “Saya melihat dari tahun ke tahun, bibit-bibit pemain andalan mulai bermunculan. Meskipun saat ini masih didominasi oleh RT06, tapi semangatnya luar biasa. Semoga Enthok Cup terus berlanjut dan semakin meriah di masa mendatang,” ungkapnya.
Pesan ini menjadi cermin harapan agar kebersamaan, sportivitas, dan semangat gotong royong tidak berhenti di turnamen, tetapi terus hidup dalam keseharian warga RW 08. Di tengah hingar-bingar pertandingan, ada harmoni yang tersirat, bahwa laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semua memiliki tempat dan peran dalam menjaga semangat kebangsaan.
Menyambut Enthok Cup 4
Matahari mulai condong ke barat saat wasit meniup peluit panjang tanda pertandingan usai. Warga pulang dengan wajah sumringah, sebagian membawa pulang hadiah unggas, sebagian lagi hanya membawa kenangan tawa dan pelukan hangat antar tetangga. Dengan berakhirnya Enthok Cup 3, panitia dan warga sepakat bahwa turnamen ini akan terus dilanjutkan. Enthok Cup 4 pun telah mulai dinantikan, dengan harapan bisa lebih baik, lebih meriah, dan tetap menjadi ruang bagi warga untuk bersatu dalam semangat kemerdekaan.
Dalam riuh rendah smash dan sorakan, kita diingatkan bahwa kemerdekaan sejati tidak dirayakan dengan gegap gempita sendirian. Ia hadir dalam bentuk yang paling sederhana, dalam semangat seorang pemuda yang berlatih smash di bawah terik matahari, dalam tawa seorang ibu yang menyaksikan anaknya bertanding, dan dalam guyub rukun warga yang saling bahu membahu, meskipun hadiahnya hanya seekor unggas. Di situlah Indonesia menemukan wajahnya yang paling autentik. Jayalah selalu semangat kebersamaan kita!



