SEMARANG – Sebanyak 166 personel Polrestabes Semarang menerima Tanda Kehormatan Satyalencana Pengabdian Tahun 2026 dalam sebuah upacara militer yang khidmat, Selasa (3/2/2026) pagi. Upacara berlangsung di Lapangan Apel Polrestabes Semarang dari pukul 08.00 hingga 08.30 WIB, dipimpin langsung oleh Wakapolrestabes Semarang, Kombes Pol. Wiwit Ari Wibisono.
Penganugerahan ini merupakan bentuk penghargaan negara kepada anggota Polri yang telah menunjukkan kesetiaan, kedisiplinan, dan dedikasi tinggi tanpa catatan pelanggaran selama masa pengabdiannya.
Detail Penerima dan Prosesi Kidmat
Para penerima penghargaan terbagi dalam empat kategori masa bakti:
· Satyalencana Pengabdian 8 Tahun: 24 personel.
· Satyalencana Pengabdian 16 Tahun: 85 personel.
· Satyalencana Pengabdian 24 Tahun: 22 personel.
· Satyalencana Pengabdian 32 Tahun: 35 personel.
Prosesi upacara berlangsung tertib, diikuti seluruh pejabat utama dan Kapolsek jajaran Polrestabes Semarang. Tahap puncaknya adalah pembacaan Keputusan Presiden RI dan penyematan tanda kehormatan kepada perwakilan penerima.
Penghargaan dari Hasil Penilaian yang Ketat
Dalam amanatnya, Kombes Pol. Wiwit menegaskan bahwa Satyalencana Pengabdian bukanlah penghargaan yang diberikan secara otomatis.
“Oleh karena itu, saya mengucapkan selamat dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh personel yang menerima Tanda Kehormatan Satyalencana Pengabdian Tahun 2026,” tegasnya.
Beliau berharap, penghargaan ini dapat menjadi motivasi dan teladan bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan profesionalisme, integritas, dan kualitas pelayanan.
Sebuah Panggilan untuk Tetap Humanis di Tengah Kompleksitas Tugas
Menutup amanat, Wiwit mengingatkan tentang kompleksitas tantangan tugas kepolisian modern. Ia menekankan pentingnya kehadiran polisi sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat yang humanis, serta berorientasi pada keadilan dan kepastian hukum.
Upacara ini bukan sekadar seremoni, melainkan pengukuhan komitmen bersama untuk mengabdi dengan lebih baik, mencerminkan semangat Bhayangkara yang sesungguhnya.
Di lapangan apel yang sama di mana latihan fisik dan prosedur kepolisian sehari-hari dilakukan, pagi itu terselip sebuah ritual pengakuan atas kesetiaan yang sunyi. Setiap Satyalencana Pengabdian yang disematkan bukan hanya sobekan kain dan logam, tetapi merupakan prasasti waktu 8, 16, 24, hingga 32 tahun, yang menceritakan tentang pilihan untuk konsisten pada sumpah, di tengah godaan dan rutinitas yang bisa mengikis makna. Dalam konteks masyarakat yang kadang sinis terhadap aparat, upacara seperti ini adalah pengingat yang sublim, bahwa di balik seragam, ada kisah panjang dedikasi yang patut diapresiasi. Ia adalah benang yang menghubungkan masa bakti personal dengan narasi besar institusi. Untuk masa depan, semoga setiap penyematan tidak hanya menjadi memori di album foto, tetapi menjadi energi yang menular, menginspirasi generasi baru polisi untuk mengisi setiap tahun pengabdiannya dengan integritas yang tak lekang, sebagaimana logam pada tanda kehormatan yang mereka sandang.



