Portaljateng.id – Perubahan cuaca yang tidak menentu mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Tengah seiring masuknya masa peralihan musim (pancaroba). Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi hingga gangguan kesehatan masyarakat.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode pancaroba ditandai dengan cuaca ekstrem yang cenderung sulit diprediksi, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir dalam durasi singkat. Kondisi ini umumnya terjadi pada masa transisi dari musim hujan ke kemarau.
Selain itu, data dari Dinas Kesehatan Jawa Tengah menunjukkan bahwa masa pancaroba kerap diikuti peningkatan kasus penyakit seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), demam berdarah dengue (DBD) dan penyakit berbasis lingkungan lainnya.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko yang muncul selama masa peralihan musim.
“Perubahan cuaca di masa pancaroba ini perlu diwaspadai bersama. Selai potensi bencana, dampaknya juga dirasakan pada kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini, baik oleh pemerintah daerah maupun masyarakat, untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
“Langkah antisipasi harus dilakukan, mulai dari menjaga kondisi lingkungan, memastikan saluran air tidak tersumbat, hingga menjaga daya tahan tubuh,” tambahnya.
Heri juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini serta meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi risiko di masa pancaroba.
“Informasi cuaca harus tersampaikan dengan cepat dan jelas, agar masyarakat bisa mengambil langkah pencegahan,” katanya.
Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan. Terutama dalam mencegah berkembangnya vektor penyakit seperti nyamuk penyebab DBD.
“Lingkungan yang bersih menjadi salah satu kunci untuk mengurangi risiko penyakit di masa seperti ini,” tegasnya.
Heri berharap, dengan meningkatnya kesadaran dan kesiapsiagaan bersama, dampak dari perubahan cuaca selama masa peralihan musim dapat ditekan semaksimal mungkin.
“Ini menjadi tanggung jawab bersama. Dengan kesiapan yang baik, kita bisa mengurangi risiko yang ada,” pungkasnya.*



