Sabtu, 29 Agustus 2026
33.8 C
Semarang

Harga Pangan Naik, Ahli Bagikan Cara Penuhi Gizi dengan Anggaran Minim

Berita Terkait


JAKARTA
 – Kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan daya beli, serta ketidakpastian ekonomi membuat banyak keluarga perlu menyusun ulang prioritas konsumsi sehari-hari. Namun, keterbatasan anggaran tidak seharusnya membuat kualitas gizi keluarga terabaikan.

Untuk menginspirasi orang tua dalam mengambil keputusan konsumsi yang lebih bijak di tengah keterbatasan anggaran, Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia menggelar media talk bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana, mengatakan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat merupakan persoalan nyata dan terukur.

Menurut dia, tingkat pendapatan masyarakat dibagi dalam lima kelompok atau kuintil, mulai kuintil 1 sebagai kelompok berpendapatan terendah hingga kuintil 5 sebagai kelompok berpendapatan tertinggi.

“Makin rendah pendapatan, makin habis anggaran belanja untuk makan,” terangnya.

Pada kuintil 1, pengeluaran untuk pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sementara pada kuintil 5, angkanya sebesar 40,5 persen.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga pangan maupun biaya hidup lainnya berpotensi semakin menekan pola konsumsi masyarakat. Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dan 2025 oleh BPS, terjadi perubahan pola belanja masyarakat.

Belanja bukan makanan meningkat 5,98 persen, sedangkan tambahan belanja makanan hanya 3,16 persen.

“Ada kecenderungan bahwa tambahan belanja nonmakanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Jadi ada trade-off atau penukaran karena harus tetap membeli bahan bakar, misalnya, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” tutur Dewa.

Pola belanja pangan pun mengalami perubahan cukup drastis. Menurut Dewa, alokasi belanja untuk makanan jadi atau membeli makanan di luar rumah meningkat cukup tajam. Konsumsi rokok dan tembakau juga mengalami peningkatan dan nilainya setara dengan belanja bahan pangan padi-padian.

Ketika anggaran rumah tangga tertekan, lanjut dia, yang pertama kali dikorbankan bukan jumlah kalori, melainkan mutu gizinya. Beras tetap dibeli, tetapi porsi lauk cenderung menyusut.

Alokasi belanja untuk protein seperti ikan, udang, cumi, telur, susu, hingga daging pun menjadi semakin kecil.

“Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” imbuhnya.

Dewa mengatakan, protein hewani kerap dipandang sebagai bahan pangan mahal. Namun, pandangan tersebut menurutnya banyak dipengaruhi oleh persepsi terhadap harga daging sapi.

“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur, dan susu yang tidak semahal itu. Ini masih kurang optimal dikonsumsi dan sebetulnya bisa dikonsumsi lebih banyak,” paparnya.

Ia menambahkan, telur dan ikan dapat menjadi tulang punggung pemenuhan protein hewani keluarga sehari-hari. Sementara susu dapat dikonsumsi sebagai pelengkap untuk meningkatkan mutu gizi makanan.

Menurut Dewa, pengorbanan terhadap kualitas asupan gizi, terutama bagi anak-anak, dapat menimbulkan dampak jangka panjang.

“Di masa depan, mereka harus membayar dalam bentuk kurangnya kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas mereka tidak optimal,” tegasnya.

Ia menambahkan, generasi berikutnya akan sangat terdampak apabila kesenjangan asupan gizi terus terjadi, ketika gizi yang baik hanya dapat diakses oleh kelompok yang mampu. Potensi munculnya penyakit di masa mendatang pun semakin besar dengan biaya pengobatan yang tidak sedikit.

Optimalkan Gizi Meski Anggaran Terbatas

Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., mengatakan makanan sehat tidak harus selalu mahal.

“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” ungkap Tara.

Menurut dia, rata-rata penduduk Indonesia sebenarnya sudah mencukupi kebutuhan kalori sehari-hari. Namun, pola konsumsi masih didominasi oleh karbohidrat.

“Namun, masih didominasi oleh karbohidrat,” ujarnya.

Tara mengatakan kondisi tersebut bukan berarti salah. Karbohidrat memang menempati sekitar 50-60 persen dari asupan pangan harian. Namun, masyarakat perlu memvariasikan sumber karbohidrat yang dikonsumsi.

Indonesia, kata dia, memiliki beragam pangan lokal dari kelompok umbi-umbian.

“Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang ngetren. Beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus,” ujarnya.

Tara juga menyoroti konsumsi protein masyarakat Indonesia. Tempe dan tahu, menurut dia, merupakan sumber protein nabati yang baik dan relatif lebih ekonomis. Namun, protein hewani juga tidak boleh dilupakan karena lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

Terlebih bagi anak-anak, protein hewani mengandung asam amino esensial lengkap yang dibutuhkan untuk menunjang tumbuh kembang.

Ia menyebut, baru 43 persen balita usia 6-23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet, yakni MPASI dengan gizi beragam, terutama dari sumber seperti telur dan daging.

Seperti halnya Dewa, Tara menilai ikan dan telur dapat menjadi pilihan sumber protein yang lebih ekonomis dibandingkan daging.

“Apalagi, Indonesia negara kepulauan, keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelasnya.

Sementara itu, susu dapat menjadi pelengkap gizi karena mengandung berbagai zat gizi dalam setiap porsinya.

“Susu memiliki skor DIAAS tertinggi dalam protein hewani,” jelas Tara.

DIAAS atau Digestible Indispensable Amino Acid Score merupakan metode pengukuran kualitas protein berdasarkan kemampuan tubuh dalam mencerna dan menyerap asam amino esensial. Semakin tinggi nilainya, semakin baik penyerapan nutrisi di dalam tubuh. Susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.

Tara mengingatkan masyarakat untuk berpedoman pada Tumpeng Gizi dan Isi Piringku dalam menyusun menu makan keluarga. Komposisinya mencakup karbohidrat, sayur, sumber protein, dan buah dengan porsi yang seimbang.

Menurut dia, tantangan ekonomi harus disikapi dengan strategi memilih makanan yang padat gizi.

“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya. Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tandasnya.

Ia juga meminta masyarakat tidak merasa bersalah apabila sesekali membeli makanan di luar rumah atau mengonsumsi makanan olahan yang praktis.

“Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal,” ucap Tara.

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan di tengah situasi ekonomi saat ini, masyarakat perlu terus mengevaluasi kembali prioritas pengeluaran, termasuk dalam memenuhi kebutuhan nutrisi keluarga.

“Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” ujarnya.

Melalui kampanye nasional “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia berkomitmen mendampingi keluarga Indonesia di setiap tahap kehidupan, khususnya pada masa-masa penuh tantangan.

“Kami berupaya mendukung kesehatan keluarga Indonesia dengan nutrisi terbaik, yaitu asupan susu kaya gizi sebagai fondasi kesehatan harian yang kuat,” ucap Andrew.

Tidak hanya menghadirkan produk kaya gizi dan berkualitas, Frisian Flag Indonesia juga konsisten memberikan edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya konsumsi susu sejak dini dan membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

“Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk yang bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya. Misalnya dengan menghadirkan para pakar dalam diskusi hari ini, agar literasi mengenai nutrisi semakin baik dan keluarga Indonesia dapat semakin bijak dalam memprioritaskan kebutuhan yang baik bagi mereka,” pungkas Andrew.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru