Semarang – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro (FISIP UNDIP) menyelenggarakan workshop bertajuk “Online Influence Operations and Democracy in Southeast Asia” dalam kolaborasi internasional bersama University of Amsterdam dan KITLV Leiden University, Belanda. Kegiatan ini digelar sebagai respons terhadap maraknya operasi pengaruh digital yang mengancam stabilitas demokrasi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan Asia Tenggara.
Acara yang berlangsung di Semarang ini dibuka secara resmi Jumat, (22/08/25) oleh Dekan FISIP UNDIP, Dr. Drs. Teguh Yuwono, serta Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Bisnis UNDIP, Wijayanto, S.IP., M.Si., Ph.D. Dalam sambutannya, Teguh Yuwono menekankan pentingnya peran akademisi dan masyarakat dalam menghadapi tantangan digital yang kian kompleks.
“Kita tidak bisa lagi menutup mata. Operasi pengaruh online, seperti buzzer, disinformasi, dan propaganda terkoordinasi, telah menggerus kepercayaan publik terhadap proses demokrasi. Yang lebih memprihatinkan, aktor-aktor behind the scene sering kali berasal dari kalangan intelektual, pemegang kekuasaan, dan pemodal besar,” tegas Teguh.
Workshop ini menghadirkan sejumlah pakar ternama, termasuk Prof. Ward Berenschot dari University of Amsterdam & KITLV Leiden University, yang hadir dalam kesempatan ini, serta Prof. Merlyna Lim dari Carleton University, Kanada yang hadir secara online Zoom dan Dr. Yatun Sastramidjadja dari University of Amsterdam, Belanda.
Dalam paparannya, Prof. Ward Berenschot menyoroti bagaimana mekanisme operasi pengaruh online bekerja secara terstruktur dan sulit dideteksi karena melibatkan jaringan yang tersebar dan dukungan teknologi canggih. Sementara itu, Prof. Merlyna Lim memaparkan bagaimana isu identitas dan agama sering dieksploitasi untuk memecah belah masyarakat.
Teguh Yuwono, dalam sesi wawancara pada awak media, menyatakan kekhawatiran mendalam mengenai dampak negatif dari buzzer dan konten manipulatif. “Kita sedang berhadapan dengan musuh yang tidak kasat mata, tetapi dampaknya nyata. Masyarakat kita dibombardir dengan informasi yang sengaja dirancang untuk memecah belah, menyesatkan, dan akhirnya melemahkan demokrasi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dekan FISIP UNDIP itu menegaskan komitmen kampus untuk tidak hanya mendiskusikan masalah, tetapi juga mencari solusi. “Kami sedang menyusun rekomendasi kebijakan untuk pemerintah, mendorong literasi digital yang lebih masif, dan memperkuat kolaborasi dengan lembaga sipil serta platform digital untuk memerangi praktik-praktik berbahaya ini,” tambahnya.
Workshop ini diikuti oleh akademisi, peneliti, mahasiswa, serta perwakilan organisasi masyarakat sipil dari dalam dan luar negeri. Diharapkan, hasil diskusi dapat menjadi landasan bagi langkah-langkah strategis dalam menjaga iklim demokrasi yang sehat di tengah gempuran era digital.
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro merupakan salah satu pusat kajian politik, sosial, dan komunikasi terkemuka di Indonesia yang aktif berkontribusi dalam isu-isu strategis nasional dan global.



