Menu ✖

Mode Gelap

Bank Indonesia Jateng Gelar Serial Bedah Buku Kedua: Menggali Warisan Sejarah Menuju Bangsa Beradab

27 Agu 2025 · 21:01 WIB ·


					Bank Indonesia Jateng Gelar Serial Bedah Buku Kedua: Menggali Warisan Sejarah Menuju Bangsa Beradab Perbesar

Semarang — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah kembali menggelar Serial Bedah Buku dengan tajuk “Refleksi Tiga Jalan (Sejarah, Sains, dan Filsafat) Menuju Bangsa Beradab”. Seri kedua ini memfokuskan pembahasan pada pilar sejarah, melalui buku “1830” karya seniman dan desainer Melissa Sunjaya serta sejarawan terkemuka Professor Peter Carey.

Bertempat di Kopi Nako, Kota Semarang, acara ini dikemas secara kasual namun sarat makna, sebagai bagian dari upaya memperluas jangkauan literasi sejarah dan filsafat kepada kalangan muda di Jawa Tengah. Lebih dari 200 peserta hadir secara langsung dan ribuan lainnya mengikuti secara daring melalui kanal YouTube Bank Indonesia Jateng.

Turut hadir dalam kegiatan ini perwakilan dari Dinas Arsip dan Perpustakaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, para dekan dan kepala perpustakaan universitas, guru-guru SMA dan SMP, perwakilan dari KPw BI Solo, Purwokerto, dan Tegal, serta komunitas akademik, sejarah, dan literasi dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Sebagai narasumber utama, Professor Peter Carey, sejarawan dan Emeritus Fellow dari Trinity College, Oxford, mengupas refleksi mendalam tentang makna sejarah melalui presentasi bertajuk “Back to the Future: Reflections on the Java War (1825–30) and the Life of Prince Diponegoro”.

“Diponegoro bukan hanya pejuang. Ia adalah simbol integritas, keberanian moral, dan keteguhan dalam menjalani takdirnya,” ujar Carey dalam sesi diskusi.

“Ia tidak mencari kemenangan dalam pengertian politik semata, tapi menegakkan nilai-nilai yang diyakininya benar, bahkan ketika harus menghadapi kegagalan.”

Carey juga menekankan bahwa karakter Pangeran Diponegoro yang tegas, jujur, dan tidak kompromi terhadap penyimpangan moral adalah cerminan dari nilai-nilai yang dibutuhkan generasi masa kini.

“Kita membutuhkan lebih banyak teladan seperti Diponegoro dalam dunia yang kini dipenuhi disinformasi dan kebimbangan nilai,” tegasnya.

Buku “1830” yang menjadi fokus bahasan dalam seri ini menghadirkan sembilan “pisau bedah” untuk membongkar ulang warisan kolonial yang masih membentuk cara pandang bangsa Indonesia hingga saat ini. Refleksi sejarah dalam buku ini tidak hanya menghadirkan simbol-simbol masa lalu, tetapi juga membangun pemahaman baru yang relevan dalam menghadapi tantangan zaman seperti disrupsi digital dan polarisasi opini publik.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, dalam sambutannya menyampaikan bahwa literasi sejarah dan filsafat bukan sekadar wacana akademis, melainkan prasyarat penting untuk membentuk bangsa yang tangguh dan beradab.

“Transformasi menuju Indonesia Emas 2045 hanya mungkin tercapai bila manusia Indonesia sadar sejarah, matang secara spiritual, dan kritis secara intelektual,” tegas Rahmat.

Ia menambahkan, “Melalui serial bedah buku ini, kami ingin membangun kesadaran bahwa bangsa beradab lahir dari pondasi sejarah, spiritualitas, dan filsafat. Kita perlu menggali nilai perjuangan dan moralitas dari tokoh seperti Diponegoro untuk menjawab tantangan zaman. Literasi bukan hanya membaca, tetapi juga merenung, berdialog, dan bertindak berdasarkan kesadaran.”

Acara ini juga mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang, sebagai bagian dari misi kolektif membangun ruang dialog lintas generasi yang inklusif dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. Moderator Sumi Yang berhasil menjaga alur diskusi tetap hidup dan mendalam, menyatukan perspektif sejarah dengan tantangan masa kini.

Serial Bedah Buku Bank Indonesia Jateng akan berlanjut ke seri ketiga, yang akan mengangkat jalan filsafat. Seri ini akan membahas bagaimana filsafat tidak hanya berkutat pada gagasan abstrak, tetapi menjadi alat untuk menimbang nilai, mencari arah hidup, dan menguji kebijaksanaan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Dengan refleksi filsafat, kita diajak untuk menyeimbangkan rasionalitas, spiritualitas, dan kesadaran sejarah — sehingga bangsa ini dapat benar-benar menapaki jalan peradaban yang berkelanjutan,” pungkas Rahmat.

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

Taj Yasin Ajak Santri Pilah Sampah dan Kembangkan Budaya Bersih

20 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Taj Yasin Ajak Santri Pilah Sampah dan Kembangkan Budaya Bersih

Taj Yasin Ingin Santri dan Akademisi Bersama Menjawab Persoalan di Masyarakat

19 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Taj Yasin Ingin Santri dan Akademisi Bersama Menjawab Persoalan di Masyarakat

482 Santri Terima Beasiswa Pesantren Obah, Jateng Siapkan Generasi Berilmu dan Berkarakter

19 Oktober 2026 - 17:40 WIB

482 Santri Terima Beasiswa Pesantren Obah, Jateng Siapkan Generasi Berilmu dan Berkarakter

Perluas Cita-Cita Santri, Pengalaman dari Jerman, Jepang, dan Turki Jadi Inspirasi

18 Oktober 2026 - 07:05 WIB

Perluas Cita-Cita Santri, Pengalaman dari Jerman, Jepang, dan Turki Jadi Inspirasi

Samsung Perkuat Kompetensi Digital 6.000 Generasi Muda melalui Pembelajaran Coding

14 Oktober 2026 - 16:04 WIB

Samsung Perkuat Kompetensi Digital 6.000 Generasi Muda melalui Pembelajaran Coding

UNW Perkuat Pendidikan Hukum, Siapkan Lulusan Hadapi Tantangan Digital

14 Oktober 2026 - 09:02 WIB

UNW Perkuat Pendidikan Hukum, Siapkan Lulusan Hadapi Tantangan Digital
Trending di Pendidikan

Tinggalkan Komentar