Menurunnya empati dan kepekaan sosial menjadi gejala yang perlahan terasa dalam kehidupan remaja masa kini. Layar gawai hadir hampir di setiap momen, dari bangun tidur hingga menjelang terlelap kembali. Interaksi yang dulunya penuh tatap mata kini sering tergantikan oleh notifikasi dan pesan singkat.
Remaja tumbuh dengan kecepatan informasi yang luar biasa, namun minim ruang untuk jeda dan perenungan. Percakapan berlangsung cepat, dangkal, dan sering berakhir tanpa benar-benar memahami perasaan lawan bicara. Emosi direduksi menjadi emoji, sementara ekspresi wajah jarang dibaca dengan saksama.
Ketika interaksi sosial didominasi layar, kemampuan membaca situasi nyata menjadi kurang terasah. Remaja tidak terbiasa menangkap bahasa tubuh, nada suara, atau jeda canggung dalam percakapan langsung. Padahal, unsur-unsur itulah yang selama ini membangun empati secara alami.

Hubungan pertemanan pun berubah menjadi sekadar koneksi digital yang mudah terhubung dan mudah pula terputus. Konflik sering dihindari dengan cara menghilang, memblokir, atau berhenti membalas pesan. Proses belajar memahami perbedaan dan menyelesaikan masalah akhirnya terlewatkan.
Kepekaan sosial membutuhkan latihan yang berulang dan pengalaman yang nyata. Saat remaja jarang bersentuhan dengan realitas sosial, rasa peduli terhadap sekitar ikut melemah. Orang lain mudah dilihat sebagai profil, bukan manusia dengan perasaan kompleks.
Di ruang kelas, di rumah, bahkan di tempat bermain, layar kerap menjadi pusat perhatian. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional yang utuh. Banyak remaja duduk bersama, namun masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri.
Empati sejatinya tumbuh dari kebiasaan mendengar dan merespons dengan tulus. Tanpa interaksi nyata, kemampuan ini perlahan memudar dan dianggap tidak lagi penting. Akibatnya, sikap acuh dan kurang peka terasa semakin wajar dalam keseharian.
Bukan berarti teknologi sepenuhnya harus disalahkan atas perubahan ini. Masalah muncul ketika layar menggantikan, bukan melengkapi, hubungan antarmanusia. Keseimbangan menjadi kunci agar teknologi tetap manusiawi.
Remaja membutuhkan ruang aman untuk berinteraksi secara langsung dan apa adanya. Kegiatan bersama, diskusi tatap muka, dan pengalaman sosial nyata dapat menghidupkan kembali empati yang meredup. Dari situ, kepekaan sosial dapat tumbuh perlahan namun kuat.
Menjaga empati di tengah dunia digital adalah tantangan bersama, bukan hanya tugas remaja. Orang dewasa perlu memberi teladan tentang hadir sepenuhnya dalam interaksi. Dengan begitu, layar tidak memisahkan, melainkan mendukung hubungan yang lebih bermakna.
Din Tajudin – Pegiat Sosial



