Menu ✖

Mode Gelap

Mi’raj Hati di Balik Seragam: Refleksi Isra Miraj dan Pengabdian yang Tersucikan di Polrestabes Semarang

27 Jan 2026 · 17:18 WIB ·


					Mi’raj Hati di Balik Seragam: Refleksi Isra Miraj dan Pengabdian yang Tersucikan di Polrestabes Semarang Perbesar

SEMARANG – Di Masjid Al Hidayah Polrestabes Semarang, pagi itu tidak hanya diisi oleh deretan sepatu dinas, tetapi juga oleh barisan sandal jepit. Seragam biru polisi berbaur dengan sarung, pangkat bertemu takwa, dan ruang yang biasa menjadi tempat apel pagi berganti menjadi tempat sujud khusyuk. Dalam peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, personel Polri tidak hanya mendengarkan tausiyah, tetapi diajak menelisik lebih dalam, bagaimana spiritualitas menjadi fondasi pengabdian yang tulus kepada masyarakat.

Dari Sajadah ke Jalanan Menautkan Ibadah Vertikal dan Layanan Horizontal

Acara yang mengusung tema “Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Memperteguh Keimanan dan Ketaqwaan Personel Polri untuk Masyarakat dalam Aksi Kemanusiaan dan Kepedulian Sosial” ini lebih dari sekadar pengajian rutin. Ia adalah upaya institusi merajut kembali benang yang kerap kali terasa putus, antara kewajiban kepada Sang Pencipta dan tanggung jawab kepada sesama.

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol M. Syahduddi, menegaskan pondasi itu. “Sholat adalah kebutuhan utama dan kewajiban yang langsung diperintahkan Allah,” ujarnya Selasa (27/01/2026).Pernyataan ini bukan retorika keagamaan semata, melainkan peletakan batu pertama bahwa integritas, kejujuran, dan empati dalam bertugas harus bersumber dari ketundukan hati yang mendalam.

Tidak Ada Pangkat di Hadapan-Nya, Pesan Kesetaraan dari Balik Mimbar

Penguatan spiritual itu semakin dalam disampaikan oleh Ustadz Dr. KH. Fachrur Razi. “Sholat adalah ibadah yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW tanpa perantara malaikat,” tegasnya. Kalimat ini bagai peluru spiritual yang meluluhlantakkan sekat duniawi. Ia mengingatkan bahwa dalam ruang sujud, tidak ada pangkat, bintang, atau jabatan yang bisa menjadi perantara. Di hadapan-Nya, yang berseragam dan yang bersarung adalah setara, sama-sama hamba yang memohon petunjuk dan kekuatan.

Momen ini menjadi ruang refleksi bagi setiap personel, apakah ketundukan di dalam masjid telah terjemahkan menjadi kerendahan hati di luar masjid, apakah kekhusyukan dalam sholat menjadi sumber kesabaran saat menghadapi kompleksitas masalah masyarakat.

Di balik kekhidmatan acara, ada tantangan reflektif yang menganga. Apakah peringatan Isra Miraj cukup berhenti sebagai seremoni tahunan, atau ia harus menjadi momentum transformasi berkelanjutan dalam budaya kerja dan pelayanan.

Isra Miraj pada hakikatnya adalah perjalanan transformasi batin tertinggi. Jika pesan ini meresap, maka setiap personel yang hadir seharusnya pulang membawa komitmen baru: bahwa setiap interaksi dengan warga, setiap keputusan hukum, dan setiap tindakan di lapangan adalah bagian dari “sholat sosial”, ibadah yang nilai pahalanya diukur dari keadilan, ketulusan, dan dampak positif yang ditinggalkan bagi masyarakat.

Dalam perspektif yang lebih luas, seragam polisi adalah “jubah duniawi” yang seharusnya transparan terhadap cahaya ketakwaan. Ketaatan pada Kitab Undang-Undang harus bersumber dari ketaatan pada Kitab Suci. Pelayanan publik yang prima adalah manifestasi nyata dari pengabdian kepada Sang Maha Pengasih.

Peringatan Isra Miraj di Polrestabes Semarang ini diharapkan bukan sekadar titik dalam kalender, melainkan titik awal “mi’raj kolektif” sebuah institusi. Mi’raj menuju pelayanan yang tidak hanya kuat secara prosedural, tetapi juga lembut secara spiritual, tidak hanya disiplin pada aturan, tetapi juga hidup dalam nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Negara membutuhkan penegak hukum yang tangguh. Namun, masyarakat mendambakan penjaga nurani yang tak tergerus oleh kuasa. Seperti esensi Isra Miraj, ketinggian sejati bukanlah pangkat atau jabatan, melainkan kedekatan dengan Yang Maha Tinggi, yang diukur dari bagaimana kita memperlakukan mereka yang paling membutuhkan perlindungan di bumi. Semoga setiap sujud yang dilakukan di balik seragam, melahirkan kesalehan baru yang terpancar dalam setiap sikap dan tindakan di jalanan.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

Kasus Perundungan Pemalang Jadi Evaluasi, Pemprov Jateng Perkuat Pengawasan Sekolah

10 Oktober 2026 - 12:53 WIB

Kasus Perundungan Pemalang Jadi Evaluasi, Pemprov Jateng Perkuat Pengawasan Sekolah

PLN Journalist Awards 2026 Dibuka, Jurnalis Berebut Posisi di Indonesia Top 81

10 Oktober 2026 - 09:07 WIB

Tampak Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica dengan kapasitas 180 megawatt (MW) yang berada di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. PLTA yang berdiri sejak tahun 1988 ini menjadi salah satu pembangkit hijau penopang sistem kelistrikan Jawa dan Bali.

Pamor Wicaksono Terima Penghargaan Nasional, Komitmen Bangun Brebes Berkelanjutan

10 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Pamor Wicaksono Terima Penghargaan Nasional, Komitmen Bangun Brebes Berkelanjutan

10 Tokoh Raih Penghargaan FPPB, Ahmad Luthfi Minta Pemimpin Terus Berinovasi

10 Oktober 2026 - 06:23 WIB

10 Tokoh Raih Penghargaan FPPB, Ahmad Luthfi Minta Pemimpin Terus Berinovasi

Dua Siswa SD Berani Tampil di Depan Wagub Taj Yasin, Pulang Bawa Hadiah

9 Oktober 2026 - 20:31 WIB

Dua Siswa SD Berani Tampil di Depan Wagub Taj Yasin, Pulang Bawa Hadiah

224 Mahasiswa NTT Korban Gempa Terima Bantuan Kos Rp 374,2 Juta dari Ahmad Luthfi

9 Oktober 2026 - 17:28 WIB

224 Mahasiswa NTT Korban Gempa Terima Bantuan Kos Rp 374,2 Juta dari Ahmad Luthfi
Trending di Daerah

Tinggalkan Komentar