SEMARANG – Di Masjid Al Hidayah Polrestabes Semarang, pagi itu tidak hanya diisi oleh deretan sepatu dinas, tetapi juga oleh barisan sandal jepit. Seragam biru polisi berbaur dengan sarung, pangkat bertemu takwa, dan ruang yang biasa menjadi tempat apel pagi berganti menjadi tempat sujud khusyuk. Dalam peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, personel Polri tidak hanya mendengarkan tausiyah, tetapi diajak menelisik lebih dalam, bagaimana spiritualitas menjadi fondasi pengabdian yang tulus kepada masyarakat.
Dari Sajadah ke Jalanan Menautkan Ibadah Vertikal dan Layanan Horizontal
Acara yang mengusung tema “Isra Miraj Nabi Muhammad SAW Memperteguh Keimanan dan Ketaqwaan Personel Polri untuk Masyarakat dalam Aksi Kemanusiaan dan Kepedulian Sosial” ini lebih dari sekadar pengajian rutin. Ia adalah upaya institusi merajut kembali benang yang kerap kali terasa putus, antara kewajiban kepada Sang Pencipta dan tanggung jawab kepada sesama.
Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol M. Syahduddi, menegaskan pondasi itu. “Sholat adalah kebutuhan utama dan kewajiban yang langsung diperintahkan Allah,” ujarnya Selasa (27/01/2026).Pernyataan ini bukan retorika keagamaan semata, melainkan peletakan batu pertama bahwa integritas, kejujuran, dan empati dalam bertugas harus bersumber dari ketundukan hati yang mendalam.
Tidak Ada Pangkat di Hadapan-Nya, Pesan Kesetaraan dari Balik Mimbar
Penguatan spiritual itu semakin dalam disampaikan oleh Ustadz Dr. KH. Fachrur Razi. “Sholat adalah ibadah yang diterima langsung oleh Rasulullah SAW tanpa perantara malaikat,” tegasnya. Kalimat ini bagai peluru spiritual yang meluluhlantakkan sekat duniawi. Ia mengingatkan bahwa dalam ruang sujud, tidak ada pangkat, bintang, atau jabatan yang bisa menjadi perantara. Di hadapan-Nya, yang berseragam dan yang bersarung adalah setara, sama-sama hamba yang memohon petunjuk dan kekuatan.
Momen ini menjadi ruang refleksi bagi setiap personel, apakah ketundukan di dalam masjid telah terjemahkan menjadi kerendahan hati di luar masjid, apakah kekhusyukan dalam sholat menjadi sumber kesabaran saat menghadapi kompleksitas masalah masyarakat.
Di balik kekhidmatan acara, ada tantangan reflektif yang menganga. Apakah peringatan Isra Miraj cukup berhenti sebagai seremoni tahunan, atau ia harus menjadi momentum transformasi berkelanjutan dalam budaya kerja dan pelayanan.
Isra Miraj pada hakikatnya adalah perjalanan transformasi batin tertinggi. Jika pesan ini meresap, maka setiap personel yang hadir seharusnya pulang membawa komitmen baru: bahwa setiap interaksi dengan warga, setiap keputusan hukum, dan setiap tindakan di lapangan adalah bagian dari “sholat sosial”, ibadah yang nilai pahalanya diukur dari keadilan, ketulusan, dan dampak positif yang ditinggalkan bagi masyarakat.
Dalam perspektif yang lebih luas, seragam polisi adalah “jubah duniawi” yang seharusnya transparan terhadap cahaya ketakwaan. Ketaatan pada Kitab Undang-Undang harus bersumber dari ketaatan pada Kitab Suci. Pelayanan publik yang prima adalah manifestasi nyata dari pengabdian kepada Sang Maha Pengasih.
Peringatan Isra Miraj di Polrestabes Semarang ini diharapkan bukan sekadar titik dalam kalender, melainkan titik awal “mi’raj kolektif” sebuah institusi. Mi’raj menuju pelayanan yang tidak hanya kuat secara prosedural, tetapi juga lembut secara spiritual, tidak hanya disiplin pada aturan, tetapi juga hidup dalam nilai-nilai kemanusiaan yang universal.
Negara membutuhkan penegak hukum yang tangguh. Namun, masyarakat mendambakan penjaga nurani yang tak tergerus oleh kuasa. Seperti esensi Isra Miraj, ketinggian sejati bukanlah pangkat atau jabatan, melainkan kedekatan dengan Yang Maha Tinggi, yang diukur dari bagaimana kita memperlakukan mereka yang paling membutuhkan perlindungan di bumi. Semoga setiap sujud yang dilakukan di balik seragam, melahirkan kesalehan baru yang terpancar dalam setiap sikap dan tindakan di jalanan.



