Rabu, 3 Juni 2026
30.1 C
Semarang

Pertamina Prediksi Dua Puncak Arus Mudik Lebaran 2026, Konsumsi BBM di Jateng Naik hingga 30 Persen

Berita Terkait

SEMARANG – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah memprediksi akan terjadi dua puncak arus mudik dan dua puncak arus balik selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026. Kondisi ini dipicu masa libur yang lebih panjang, yakni sekitar dua minggu, sehingga memengaruhi pola mobilitas masyarakat dan kebutuhan energi.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Fanda Chrismianto, mengatakan periode libur yang panjang membuat pola perjalanan masyarakat berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Ramadan dan Idul Fitri memang kegiatan rutin setiap tahun, tetapi tahun ini ada yang berbeda karena masa liburnya sekitar dua minggu. Periode yang cukup panjang ini tentu memberikan dampak pada persiapan dan langkah antisipasi yang berbeda,” ujar Fanda dalam konferensi pers bertajuk “Energi untuk Melangkah Penuh Harapan”, Kamis (12/3) di Kabupaten Semarang.

Fanda  menjelaskan, puncak arus mudik pertama diperkirakan terjadi pada 14–15 Maret 2026, bertepatan dengan akhir pekan setelah hari terakhir sekolah pada 13 Maret. Sementara puncak mudik kedua diprediksi berlangsung pada 18–20 Maret saat periode cuti bersama.

“Dalam periode dua minggu itu akan ada dua puncak arus mudik dan dua puncak arus balik. Ini karena sebagian masyarakat sudah mulai libur lebih awal, sementara lainnya menunggu cuti bersama,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi, Pertamina telah mengaktifkan Satuan Tugas (Satgas) Ramadan dan Idul Fitri sejak 9 Maret hingga 1 April 2026. Berdasarkan proyeksi perusahaan, konsumsi sejumlah produk energi diperkirakan mengalami peningkatan signifikan selama periode tersebut.

Fanda menyebutkan konsumsi LPG sektor rumah tangga diproyeksikan naik sekitar 9 persen dari rata-rata normal 4.854 metrik ton menjadi sekitar 5.293 metrik ton selama periode satgas.

Di sektor transportasi darat, konsumsi bahan bakar jenis bensin diperkirakan meningkat tajam. Pertalite diprediksi naik sekitar 30 persen, Pertamax meningkat 29,7 persen, dan Pertamax Turbo melonjak hingga 55 persen. Secara keseluruhan, konsumsi gasoline diperkirakan naik sekitar 30 persen atau sekitar 16.800 kiloliter.

Namun tren berbeda terjadi pada solar. Konsumsinya diperkirakan turun sekitar 10 persen karena adanya pembatasan operasional truk sumbu tiga ke atas saat puncak arus mudik dan arus balik.

“Untuk solar memang diprediksi turun karena ada pembatasan operasional kendaraan berat. Tetapi untuk Dexlite dan Pertamina Dex justru naik karena mayoritas digunakan kendaraan pribadi,” katanya.

Sementara itu, konsumsi avtur diproyeksikan meningkat sekitar 28 persen seiring penambahan rute dan penerbangan ekstra oleh maskapai selama masa mudik Lebaran.

Selain memastikan pasokan BBM, Pertamina juga menyiapkan langkah khusus untuk menjaga ketersediaan LPG 3 kilogram. Salah satunya dengan menambah penyaluran pada hari libur melalui skema fakultatif dan extra dropping.

“Pada tanggal merah biasanya tidak ada penyaluran, tetapi selama periode satgas kami tetap lakukan distribusi bahkan ditambah extra dropping agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” kata Fanda.

Dalam pelaksanaan Satgas Ramadan dan Idul Fitri, Pertamina mengusung empat pilar utama, yakni layanan energi, penguatan infrastruktur dan lembaga penyalur, perhatian khusus pada wilayah prioritas, serta layanan tambahan bagi pemudik.

Wilayah yang mendapat perhatian khusus antara lain SPBU di jalur tol, jalur Pantura, jalur selatan, serta kawasan wisata. Menurut Fanda, SPBU di jalur tol menjadi lokasi dengan peningkatan konsumsi tertinggi selama periode mudik.

“Berdasarkan data kami, SPBU di jalur tol mengalami peningkatan penjualan hingga 120 sampai 130 persen dibandingkan kondisi normal. Ini yang menjadi fokus utama penguatan layanan,” ujarnya.

Selain itu, Pertamina juga memberikan perhatian khusus pada wilayah terpencil dan kepulauan seperti Karimunjawa untuk memastikan pasokan energi tetap aman meski menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Fanda menegaskan Pertamina tidak bisa bekerja sendiri dalam menjaga kelancaran distribusi energi selama masa mudik. Perusahaan menggandeng berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan mitra penyalur seperti SPBU dan agen LPG.

“Kami menyadari pelayanan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Perlu dukungan dari pemerintah daerah, mitra SPBU, agen, dan seluruh pemangku kepentingan agar masyarakat dapat memperoleh energi dengan mudah selama mudik Lebaran,” katanya.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru