Selasa, 10 Februari 2026
25 C
Semarang

Gagalkan Balap Liar, Satlantas Semarang Amankan 69 Motor di Jalur Proyek Bendungan Jragung

Razia Balap Liar di Jalan Proyek Bendungan Jragung, 69 Motor Diamankan Polisi

Berita Terkait

UNGARAN – Jalan proyek strategis nasional Bendungan Jragung di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, yang semestinya menjadi ruang pembangunan, justru sempat disalahgunakan sebagai arena balap liar. Menindaklanjuti laporan masyarakat, Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Semarang melakukan razia tegas pada Sabtu (7/2/2026) sore hingga malam, dalam rangka Operasi Keselamatan Candi 2026. Operasi ini berhasil mengamankan 69 unit sepeda motor yang digunakan untuk balap liar.

AKP Lingga Ramadhani, Kasat Lantas Polres Semarang, menjelaskan bahwa para pelaku yang mayoritas remaja sempat berusaha melarikan diri dengan kabur ke area semak-belukar dan perkebunan sekitar. Namun, petugas berhasil mengamankan semua kendaraan yang kemudian dibawa ke Mako Satlantas untuk diproses lebih lanjut.

“Semua kendaraan yang diamankan telah diberikan sanksi tilang sesuai pelanggarannya. Kami juga mengimbau kepada orang tua untuk lebih ketat dalam mengawasi aktivitas anak-anak, khususnya dalam penggunaan kendaraan bermotor,” tegas AKP Lingga Ramadhani.

Mengapa Jalan Proyek Menjadi Sasaran?

Lokasi proyek Bendungan Jragung rupanya memiliki daya tarik khusus bagi para pebalap liar. Menurut analisis kepolisian, beberapa faktor penyebabnya adalah:

  1. Kondisi Jalan yang Baru dan Luas: Permukaan jalan yang masih halus dan lebar memberikan sensasi kecepatan yang diinginkan.
  2. Pengawasan yang Masih Minimal: Di fase akhir proyek atau pasca pembangunan, pengaturan dan pengawasan lalu lintas formal seringkali belum sepenuhnya berjalan optimal.
  3. Lokasi yang Relatif Sepi: Kawasan proyek bendungan cenderung terletak di area yang belum padat penduduk, memberi ruang bagi aksi balap tanpa cepat terdeteksi.
  4. Konfigurasi Jalan yang Menantang: Adanya jalur lurus panjang atau tikungan tertentu menjadi tantangan yang digemari untuk mengekspresikan kemampuan berkendara.

Ironisnya, jalan yang sama juga telah menjadi tempat favorit warga sekitar untuk bersantai di sore hari. Kehadiran para pebalap liar tidak hanya mengganggu ketertiban tetapi juga menimbulkan ancaman keselamatan bagi warga yang sedang beraktivitas.

Penindakan Berlanjut, Masyarakat Jadi Mitra

AKP Lingga menegaskan bahwa penindakan terhadap balap liar akan terus ditingkatkan untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang kerap diakibatkan oleh aksi kebut-kebutan. Operasi ini sendiri merupakan respon langsung atas laporan dari masyarakat yang disampaikan melalui Call Center Polisi 110.

“Kami apresiasi kepedulian masyarakat yang telah melapor. Ini adalah bentuk sinergi yang baik untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di ruang publik,” ujarnya.

Dengan diamankannya puluhan motor, diharapkan dapat memberikan efek jera sekaligus peringatan keras bahwa ruang publik, termasuk infrastruktur strategis negara, bukanlah arena untuk melakukan kegiatan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Catatan Redaksi

Razia yang digelar di Bendungan Jragung ini adalah sebuah babak dalam cerita panjang tentang ruang publik yang diperebutkan. Di satu sisi, ada ambisi pembangunan negara yang diwujudkan dalam beton dan aspal yang mulus. Di sisi lain, ada hasrat remaja akan adrenalin dan pengakuan yang mencari celah di tengah kelengangan pengawasan.

Ini bukan sekadar persoalan pelanggaran lalu lintas. Ini adalah gejala dari ruang rekreasi dan ekspresi yang terbatas bagi kaum muda di daerah. Jalan proyek yang kosong menjadi magnet karena mungkin ia adalah satu-satunya “sirkuit” luas dan halus yang bisa mereka akses tanpa biaya. Namun, solusinya tidak boleh berhenti pada penindakan dan tilang.

Pelajaran yang bisa diambil adalah perlunya pendekatan yang lebih holistik. Pertama, dari sisi pengawasan aset negara, perlu ada koordinasi lebih erat antara penyedia proyek (dalam hal ini Kementerian PUPR atau kontraktor) dengan kepolisian setempat untuk memasang rambu larangan dan patroli berkala di lokasi proyek yang rentan disalahgunakan. Kedua, dari sisi sosial, perlu ada upaya kreatif dari pemerintah daerah, komunitas, dan dunia usaha untuk menyediakan alternatif, seperti event legal safety riding, kompetisi olahraga motor di sirkuit tertutup, atau ruang kreatif lainnya, yang dapat menyalurkan energi dan minat kaum muda ke arah yang positif dan aman.

Pada akhirnya, aspal yang halus itu sendiri netral. Ia bisa menjadi jalur pembangunan, tempat rekreasi keluarga, atau arena balap liar. Yang menentukan adalah seberapa cepat kita sebagai masyarakat dan negara mampu mengisi ruang-ruang netral itu dengan aturan, pengawasan, dan alternatif yang bermakna. Tindakan tegas polisi hari ini harus menjadi awal, bukan akhir, dari upaya menata ulang hubungan antara generasi muda, kendaraan, dan ruang publik yang mereka tinggali.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru