Selasa, 10 Februari 2026
30 C
Semarang

Hadapi Era Industri Modern, Heri Londo Tekankan Pemetaan Kebutuhan Tenaga Kerja Lokal

Berita Terkait

Portaljateng.id – Arus investasi yang terus mengalir ke Jawa Tengah membuka peluang kerja yang semakin luas, namun tantangan baru ikut mengemuka. Perkembangan industri modern yang kian kompleks menuntut tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih spesifik dan adaptif.

Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Heri Pudyatmoko menegaskan pentingnya pemetaan kebutuhan tenaga kerja lokal agar pertumbuhan industri benar-benar berdampak bagi masyarakat daerah.

Heri menilai, Jateng saat ini berada pada momentum yang cukup strategis. Data realisasi investasi menunjukkan bahwa sepanjang 2025, nilai investasi di provinsi ini telah menembus lebih dari Rp66 triliun, dengan serapan tenaga kerja mencapai lebih dari 326 ribu orang.

Angka tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu daerah dengan kontribusi penyerapan tenaga kerja terbesar di Pulau Jawa.

Namun, di balik capaian tersebut, Heri mengingatkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak bisa dilihat semata dari jumlah lapangan kerja yang tersedia. Tantangan sesungguhnya terletak pada kecocokan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja lokal.

Menurutnya, banyak sektor industri saat ini membutuhkan keahlian teknis tertentu, pemahaman teknologi, hingga kemampuan bekerja dalam sistem produksi modern yang terus berubah.

“Kita tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan lama. Industri hari ini bergerak cepat, kebutuhannya spesifik. Kalau pemetaan kebutuhan tenaga kerja tidak diperbarui secara berkala, masyarakat lokal bisa tertinggal meski investasi terus tumbuh,” ujar Heri.

Ia mencontohkan kawasan-kawasan industri di Jawa Tengah, seperti Kawasan Industri Kendal, yang terus berkembang dan diproyeksikan masih membutuhkan puluhan ribu tenaga kerja pada fase ekspansi berikutnya.

Kondisi ini, menurut Heri, seharusnya menjadi peluang besar bagi tenaga kerja lokal, asalkan sejak awal pemerintah daerah mampu membaca kebutuhan industri dan menyiapkan sumber daya manusianya secara tepat.

Di sisi lain, data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka Jawa Tengah berada di kisaran 4,3 persen pada awal 2025, mencerminkan tren perbaikan.

Meski demikian, Heri menilai angka tersebut belum cukup menjadi indikator keberhasilan jika kualitas dan keberlanjutan pekerjaan belum sepenuhnya terjamin.

Menurut Heri, pemetaan kebutuhan tenaga kerja perlu dilakukan secara terintegrasi dengan dunia pendidikan, pelatihan vokasi dan kebijakan investasi daerah. Tanpa sinergi tersebut, program peningkatan kompetensi berisiko tidak tepat sasaran dan tidak menjawab kebutuhan riil industri.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan investasi seharusnya tidak hanya diukur dari nilai modal yang masuk, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat lokal dapat terlibat dan merasakan manfaatnya secara langsung. Jika tenaga kerja lokal tidak dipersiapkan dengan baik, maka peluang kerja justru akan diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah.

“Investasi idealnya menjadi pengungkit kesejahteraan warga sekitar. Itu hanya bisa tercapai jika tenaga kerja lokal diposisikan sebagai bagian utama dari perencanaan pembangunan ekonomi daerah,” kata Heri.

Ke depan, Heri berharap pemerintah daerah mampu membangun sistem pemetaan tenaga kerja yang berbasis data terkini dan responsif terhadap dinamika industri.

Dengan pendekatan tersebut, kata Heri, Jawa Tengah tidak hanya dikenal sebagai daerah tujuan investasi, tetapi juga sebagai provinsi dengan sumber daya manusia yang siap bersaing di era industri modern.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru