BOYOLALI – Menyongsong libur panjang Tahun Baru Imlek 2026 yang bertepatan dengan puncak musim hujan, PT Jasamarga Solo Ngawi (JSN) mengambil langkah preventif. Perusahaan mengintensifkan kegiatan pemeliharaan jalan di sembilan titik ruas Jalan Tol Solo–Ngawi pada Senin (10/2/2026). Langkah ini diambil untuk memastikan kondisi infrastruktur tetap prima di tengah ancaman cuaca ekstrem dan lonjakan volume kendaraan.
Pemeliharaan yang dilakukan mencakup perbaikan teknik seperti Scraping Filling, patching, dan sealent. Pekerjaan dilaksanakan secara bertahap dan terjadwal dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan serta kelancaran lalu lintas. Titik-titik perbaikan tersebar di sepanjang tol, antara lain di KM 507+900, KM 504+750, Interchange Karanganyar, dan Kartasura Junction.
“Menjelang libur Tahun Baru Imlek dan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu, kami meningkatkan intensitas pemeliharaan jalan dan kesiapan operasional. Hal ini untuk memastikan kondisi jalan tol tetap prima, sehingga pengguna jalan dapat berkendara dengan aman dan nyaman,” jelas Direktur Utama PT JSN, Mery Natacha Panjaitan.
Konteks Cuaca: Puncak Musim Hujan hingga Akhir Februari
Langkah JSN ini sangat relevan dengan kondisi cuaca aktual. Kepala Besar BMKG Wilayah II Jawa Timur, Hartanto, S.T., M.M., mencatat bahwa sebagian besar wilayah Jawa Tengah, termasuk yang dilintasi Tol Trans Jawa, mengalami hujan ringan hingga sedang dengan beberapa titik berpotensi hujan petir. Wilayah Jawa Timur juga dilanda hujan deras yang memicu longsor di Banyuwangi.
“Seluruh Pulau Jawa sedang memasuki puncak musim hujan hingga akhir Februari 2026, sehingga risiko hujan intensitas tinggi tetap ada,” ujar Hartanto, mengonfirmasi periode kritis yang sedang dihadapi.
Dalam konteks ini, pemeliharaan jalan menjadi bagian dari mitigasi dini untuk mencegah kerusakan seperti genangan air (aquaplaning) atau lubang yang dapat membahayakan pengendara saat hujan lebat.
Kesiapan Menyeluruh: Dari Sumber Daya Manusia hingga Fasilitas Pendukung
Tidak hanya berfokus pada badan jalan, JSN juga memastikan kesiapan komprehensif. Seluruh sumber daya pendukung, mulai dari petugas operasional, layanan transaksi, hingga koordinasi dengan PJR (Petugas Jalan Tol), telah disiapkan. Fasilitas di rest area juga dipastikan berfungsi optimal, meliputi area parkir, masjid, SPBU, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), pujasera, dan ketersediaan air bersih.
Imbauan Penting bagi Pengguna Jalan
JSN mengimbau para pengendara untuk turut berperan aktif dalam menjaga keselamatan dengan langkah-langkah praktis:
- Pastikan kondisi kendaraan prima sebelum melakukan perjalanan jarak jauh.
- Cukupkan saldo uang elektronik dan isi bahan bakar sebelum masuk tol.
- Istirahat yang cukup di rest area jika merasa lelah.
- Tetap berhati-hati dan patuhi aturan lalu lintas, khususnya saat berkendara dalam kondisi hujan.
Catatan Redaksi
Langkah pre-empitif PT Jasamarga Solo Ngawi ini adalah contoh tata kelola infrastruktur yang sadar konteks. Mereka tidak hanya melihat tol sebagai aset statis, tetapi sebagai sistem dinamis yang dipengaruhi oleh dua faktor besar, siklus alam (musim hujan) dan siklus sosial (momen mudik/liburan). Dengan memperketat pemeliharaan di tengah puncak hujan dan menjelang arus mudik Imlek, JSN menunjukkan pemahaman bahwa keandalan infrastruktur adalah hasil dari antisipasi, bukan reaksi.
Namun, di balik kesiapan teknis yang patut diapresiasi, ada tantangan komunikasi dan koordinasi real-time yang tak kalah penting. Pemeliharaan di sembilan titik, meski terjadwal, berpotensi menimbulkan penyempitan lajur (bottleneck) yang bisa memicu kemacetan jika tidak dikelola dengan sistem informasi yang baik. Di sinilah peran papan informasi variabel (VMS) dan update media sosial yang gencar dan akurat menjadi krusial untuk mengarahkan pengguna jalan.
Di sisi lain, imbauan kepada pengendara, untuk memeriksa kendaraan, mengisi bahan bakar, dan beristirahat, adalah seruan untuk membangun kemitraan keselamatan. Keselamatan di tol bukan tanggung jawab pengelola saja, tetapi kolaborasi antara penyedia layanan dan pengguna yang cerdas.
Pada akhirnya, kesiapsiagaan seperti ini mengajarkan bahwa di era perubahan iklim yang ekstrem, manajemen infrastruktur harus bergerak dari pola “ketika rusak, baru diperbaiki” menuju pola “sebelum bermasalah, sudah dicegah”. Semoga langkah JSN ini tidak hanya berhasil memastikan perjalanan yang lancar dan aman untuk mudik Imlek, tetapi juga menjadi benchmark bagi pengelola infrastruktur lainnya bahwa merawat jalan di saat yang tepat adalah bentuk pelayanan publik yang paling mendasar dan paling dihargai oleh masyarakat.



