Rabu, 11 Februari 2026
24 C
Semarang

Polrestabes Semarang Gandeng MAFINDO, Bekali 165 Siswa dengan Literasi AI dan Kewaspadaan Digital

Polrestabes Semarang & MAFINDO Edukasi 165 Siswa Soal AI dan Bahayanya

Berita Terkait

SEMARANG – Menyikapi pesatnya perkembangan teknologi yang tak terelakkan, Polrestabes Semarang berkolaborasi dengan Tim Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Magelang menggelar kegiatan sosialisasi intensif. Bertajuk “Penggunaan Kecerdasan Artifisial (AI) dan Bahaya Penyalahgunaannya”, acara yang digelar di Aula Polrestabes Semarang pada Senin (9/2/2026) ini diikuti oleh 165 siswa-siswi terpilih perwakilan SMA/SMK se-Kota Semarang.

Kegiatan yang berlangsung selama lima jam ini bertujuan menciptakan agen-agen literasi digital muda yang mampu memanfaatkan teknologi secara positif sekaligus menjadi benteng pertahanan di lingkungannya terhadap dampak negatif AI.

Sinergi Tiga Pilar: Polri, Aktivis Digital, dan Dunia Pendidikan

Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol. M. Syahduddi, S.I.K., M.S.I., yang hadir sebagai narasumber utama, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menyiapkan generasi muda.

“Kehadiran kita di sini merupakan wujud komitmen Polri, Mafindo, dan instansi pendidikan dalam mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Kapolrestabes Semarang.

Ia menekankan bahwa AI telah menjadi bagian kehidupan, sehingga pemahaman yang tepat dibutuhkan agar anak muda bisa produktif dan bertanggung jawab dalam menggunakannya, bukan menjadi korban atau pelaku penyalahgunaan.

Materi Mendalam: Dari Etika Hingga Ancaman Hoaks Berbasis AI

Sosialisasi tidak hanya berhenti pada teori dasar. Kanit V Satreskrim Polrestabes Semarang, IPTU Arel Dewanta, memaparkan aspek hukum dan etika. Ia mengungkap betapa AI bisa menjadi alat canggih untuk menciptakan dan menyebarkan hoaks, deepfake, atau konten manipulatif lainnya, yang berpotensi mengancam ketertiban sosial dan menyeret penggunanya ke ranah hukum.

“Kesadaran hukum dan peran aktif generasi muda sangat penting untuk menciptakan ruang digital yang aman dan berintegritas,” tegas IPTU Arel.

Sementara itu, pemateri dari MAFINDO, Bambang Sarwodiyono dan Tri Mufidah Nastiti, memberikan penjelasan tentang dasar-dasar AI, implementasinya di berbagai bidang, serta strategi kampanye literasi digital dan pemanfaatan Learning Management System (LMS) untuk penguatan materi berkelanjutan.

Dukungan untuk Program Regional dan Pondasi Etika Spiritual

Dalam kesempatan ini, Polrestabes Semarang juga menegaskan dukungannya terhadap program “AI Ready ASEAN” yang digagas MAFINDO sebagai proyek percontohan Polri. Kolaborasi ini dinilai krusial untuk membangun ekosistem digital regional yang sehat.

Di balik segala pembahasan teknis dan strategis, sosialisasi ini menyentuh pondasi etika yang lebih dalam. Narasi yang dibangun sejalan dengan kesadaran bahwa AI hanyalah alat, netral tanpa moral. Kecerdasan sejati dan tanggung jawab tetap berada di tangan manusia. Kegiatan ini mengajak para siswa tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi menjadi manusia yang bijak yang mampu menyaring informasi, menjaga nilai kejujuran, dan memahami bahwa di balik setiap algoritma, ada konsekuensi kemanusiaan yang harus dipertanggungjawabkan.

“AI bisa menjawab pertanyaan, tapi tidak bisa merasakan makna di baliknya. Tugas kita adalah memastikan makna kemanusiaan dan keadilan tetap menjadi pondasi dari setiap kemajuan teknologi,” menjadi refleksi bersama yang mengemuka.

Catatan Redaksi

Inisiatif Polrestabes Semarang dan MAFINDO ini adalah lompatan strategis yang tepat waktu. Di era di mana AI bisa digunakan untuk menulis esai, membuat gambar hiper-realistis, atau menyusun narasi persuasif dalam hitungan detik, membekali generasi muda hanya dengan keterampilan teknis sudah tidak cukup. Mereka perlu kerangka etika, kewaspadaan kritis, dan pemahaman hukum yang kokoh.

Sosialisasi ini berhasil menjembatani dua dunia yang sering dianggap berseberangan, yaitu dunia kepolisian yang menegakkan hukum dan dunia aktivis digital yang menyuarakan kesadaran. Kolaborasi ini mengirim pesan kuat bahwa keamanan siber dan literasi digital bukan lagi urusan niche, melainkan kebutuhan dasar pertahanan sosial di abad ke-21.

Namun, ini baru langkah pertama. Memilih 165 siswa terpilih adalah awal yang baik untuk menciptakan kader, tetapi tantangan sebenarnya adalah meluaskan dampaknya ke seluruh populasi siswa yang jumlahnya puluhan ribu. Materi yang diberikan perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan formal, bahkan sejak jenjang yang lebih rendah, agar literasi digital dan etika teknologi menjadi DNA generasi mendatang.

Pertemuan di aula Polrestabes itu juga adalah pengingat, bahwa teknologi paling canggih pun akan tumpul di tangan yang tak berpengetahuan, dan berbahaya di tangan yang tak bermoral. Dengan membekali anak-anak muda bukan hanya dengan how to” tetapi juga “how to be”, kita sedang berinvestasi pada masa depan di mana kemajuan teknologi tidak mengikis kemanusiaan, tetapi justru memperkuatnya. Karena pada akhirnya, AI siapapun bisa pelajari, tetapi kebijaksanaan dan integritaslah yang akan menentukan apakah kita menjadi tuan, atau justru budak, dari mesin yang kita ciptakan sendiri.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru