Selasa, 17 Februari 2026
26 C
Semarang

Merenung di Tengah Musibah: Antara Teguran dan Cinta-Nya

Catatan Reflektif untuk Ungaran, Demak, Purwodadi, Semarang, dan Hati yang Lain

Berita Terkait

Catatan Redaksi – Senin, 16 Februari 2026. Langit di sejumlah daerah seperti Ungaran, Demak, Purwodadi, Semarang menangis dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang kebanjiran, ada yang tanahnya bergerak, ada yang anginnya datang tanpa permisi. Intensitasnya tak sama, tapi pesannya mungkin satu, ada yang perlu kita dengar.

Bencana selalu punya dua wajah. Di satu sisi, ia datang sebagai musibah yang membuat kita sibuk menghitung kerugian, membersihkan lumpur, atau meratapi yang hilang. Tapi di sisi lain, ia juga datang sebagai piwulang, atau pelajaran halus dari Yang Maha Kuasa, yang tak pernah kehabisan cara untuk mengingatkan hamba-Nya.

Dalam tradisi Jawa, orang tua dulu sering bilang, “Udan deres iku ora mung udan, nanging uga tandha yen manungsa kudu eling.” (Hujan deras itu bukan sekadar hujan, tapi juga tanda bahwa manusia harus sadar.) Sadar bahwa kita ini kecil. Sadar bahwa alam ini titipan. Sadar bahwa aturan Tuhan tak bisa ditawar.

Saatnya Manusia Sadar

Musibah hari ini tak pandang bulu. Rumah sederhana maupun gedung mewah sama-sama bisa kemasukan air. Orang saleh maupun yang lalai, sama-sama bisa tertimpa pohon. Ini bukan berarti Tuhan pilih kasih. Ini justru teguran yang merata: bahwa kita semua punya urusan yang belum beres dengan-Nya.

Maka, saatnya kita bertanya dalam hening:

· Sudah sejauh mana kita menjalankan aturan-Nya?· Sudah seberapa peduli kita pada sesama yang lemah?

· Sudahkah kita menjaga bumi ini sebagaimana diperintahkan?

Pemerintah punya tugas membenahi tata ruang, mitigasi bencana, dan respons cepat. Masyarakat punya kewajiban menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, dan gotong royong saat susah. Tapi di atas semua itu, ada satu hal yang lebih fundamental, yaitu kembali ke jalan yang benar.

Jalan yang benar itu sederhana, jujur, adil, peduli, dan rendah hati. Jalan yang dulu diajarkan para kekasih Allah, jalan yang membuat hidup ini ringan karena kita saling menopang.

Kritis, Tapi Jangan Benci

Kita boleh, bahkan harus, untuk kritis. Kepada pemerintah yang lambat, kepada kebijakan yang tumpul, kepada oknum yang memanfaatkan musibah. Tapi kritik itu hendaknya lahir dari cinta, bukan kebencian. Karena jika kritik lahir dari amarah, ia hanya akan melahirkan amarah baru. Dan lingkaran setan itu tak akan pernah selesai.

Ingatlah, di balik setiap musibah, ada rahasia Tuhan yang tak bisa kita pahami sepenuhnya. Mungkin hari ini kita menangis karena rumah terendam, tapi siapa tahu itu cara Allah membersihkan dosa-dosa kita. Mungkin hari ini kita kehilangan harta, tapi siapa tahu itu cara Allah menyelamatkan kita dari kesombongan.

Yang Maha Tahu hanya Allah. Tugas kita hanya eling dan waspada, sadar dan berhati-hati. Sadar bahwa kita tak punya daya tanpa pertolongan-Nya. Dan berhati-hati agar tak lagi melanggar aturan-Nya.

Kembali ke Aturan, Saling Suport

Jika musibah ini adalah alarm, maka kita harus meresponsnya dengan aksi nyata:

Untuk Pemerintah:

Harus lebih serius membaca peta risiko, bukan hanya peta kekuasaan. Anggaran bencana harus tepat sasaran, bukan malah tersesat di jalan yang salah. Tata ruang harus berpihak pada keselamatan warga, bukan pada kepentingan investor.

Untuk Masyarakat:

Harus lebih disiplin menjaga lingkungan. Jangan menunggu banjir baru sadar selokan mampet. Jangan menunggu longsor baru berhenti menebang pohon sembarangan. Gotong royong harus dihidupkan kembali, bukan hanya jadi jargon.

Untuk Semua Pihak:

Saling mendukung. Yang punya kelebihan, ulurkan tangan. Yang punya ilmu, berbagi cara. Yang punya pengaruh, gunakan untuk mengajak kebaikan. Kritis itu boleh, tapi mari kita imbangi dengan kontribusi. Jangan hanya pintar menyalahkan, tapi malas memperbaiki.

Musibah sebagai Cinta Tersembunyi

Kadang, Tuhan mencintai seseorang dengan cara membuatnya menangis. Agar ia ingat bahwa ada Yang Lebih Besar. Agar ia kembali merapat, setelah sekian lama menjauh.

Hari ini, di Ungaran, Demak, Purwodadi, Semarang, dan mungkin di hati kita masing-masing, Tuhan sedang mengirimkan surat cinta dalam amplop musibah. Isinya mungkin tidak enak dibaca, tapi percayalah, yang menulis tahu persis apa yang kita butuhkan.

Maka, mari kita baca surat itu dengan hati. Ambil hikmahnya, perbaiki langkahnya. Dan jangan lupa, kita punya satu sama lain untuk saling menguatkan.

“Sebaik-baiknya musibah adalah yang membuat kita kembali kepada-Nya. Seburuk-buruknya keselamatan adalah yang membuat kita lupa kepada-Nya.”

Semoga hari esok lebih baik. Bukan karena bencana tak datang lagi, tapi karena kita lebih siap lahir dan batin.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru