Kamis, 16 April 2026
30 C
Semarang

Tarawih Berhadiah: Antara Berkah Ramadan dan Godaan Amplop

Di level mana kita berada, hanya kita dan Allah yang tahu.

Berita Terkait

Catatan Redaksi – Ramadan selalu punya cara menghadirkan cerita yang tak terduga. Tahun ini, fenomena “tarawih berhadiah” menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Ribuan orang rela mengantre sejak siang, duduk di badan jalan, hingga membludak memenuhi masjid. Bukan karena rindu suara imam atau ingin mendalami bacaan Al-Qur’an, melainkan karena amplop, undian umrah, atau hadiah elektronik.

Secara syariat, praktik ini sah. Zakat mal boleh diberikan kepada yang berhak. Hadiah untuk jamaah tidak dilarang selama tidak mengubah tata cara ibadah. Amplop polos tanpa atribut politik juga menjaga agar niat baik para dermawan tidak tercampur kepentingan duniawi.

Tapi jika secara hukum boleh, lalu apa yang mengganggu hati kecil kita?

Tiga Wajah Tarawih Berhadiah

Di Sumenep, Madura, ribuan orang mengantre sejak siang di delapan titik masjid. Mereka duduk di badan jalan, berdesakan, demi mengikuti tarawih yang menjanjikan amplop Rp300 ribu per orang. Total dana yang dibagikan dalam satu malam diperkirakan mencapai Rp3–4,5 miliar.

Di Samarinda, Kalimantan Timur, Masjid Darul Hannan memiliki tradisi 16 tahun memberi hadiah umrah dan sepeda motor. Setiap malam dibagikan seribu kupon, diundi di malam ke-10, ke-20, dan puncaknya di malam ke-29. Panitia mengaku program ini “ampuh menjaga konsistensi jamaah”.

Di Gresik, Jawa Timur, dua masjid viral. Masjid Al Hudang Ruki memberikan hadiah elektronik,sepeda, mesin cuci, rice cooker, sebagai apresiasi jamaah yang istiqamah tarawih. Sementara Masjid Tho Hiron Mubarokan membagikan amplop Rp300 ribu setiap 2-3 hari sekali.

Fakta di atas sah secara aturan. Para dermawan dan pengurus masjid punya niat baik, memakmurkan masjid, menyemarakkan Ramadan, membantu ekonomi warga. Namun pertanyaan kritisnya, ketika ibadah diiming-imingi hadiah, di mana letak keikhlasan?

Coba rasakan. Kata “tarawih” sendiri berarti “waktu istirahat sejenak”. Ia mengajarkan ketenangan, jeda, refleksi. Tapi ketika yang dinanti adalah amplop, hati jadi gelisah. Fokus bergeser. Khusyuk berubah jadi hitung-hitungan, berapa rakaat lagi, berapa amplop lagi?

“Kata ‘ampuh’ dari panitia di Samarinda menarik,” ujar Muhammad Sholeh, pengamat sosial keagamaan dari UIN Walisongo Semarang. “Itu mengindikasikan bahwa selama ini jamaah sulit konsisten tanpa hadiah. Lalu di mana letak cinta kita pada ibadah itu sendiri?”

Di Gresik, jamaah datang sampai meluber ke teras saat hujan. Luar biasa. Tapi apakah mereka datang karena Allah, atau karena rice cooker?

Allah berfirman dalam hadis qudsi: “Aku tergantung pada persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” Artinya, kita datang kepada Allah sesuai dengan apa yang kita harapkan dari-Nya.

Jika kita datang karena amplop, kita akan dapat amplop. Lalu setelah amplop habis, kita pergi.Jika kita datang karena Allah, kita akan mendapat Allah. Lalu setelah Ramadan usai, kita tetap di jalan-Nya.

Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Awalnya ibadah karena takut neraka, itu baik. Kemudian karena rindu surga, itu lebih baik. Tapi puncaknya adalah karena cinta kepada-Nya, tanpa pamrih.”

Yang Tampak dan Yang Tersirat

Di Sumenep, antrean panjang terjadi karena amplop. Tapi yang tersirat adalah pertanyaan, seberapa kuat iman tanpa hadiah?

Di Samarinda, hadiah digunakan untuk menjaga konsistensi. Tapi yang tersirat, seberapa besar cinta kita pada ibadah itu sendiri?

Di Gresik, amplop dan rice cooker dibagikan dengan amplop polos tanpa atribut. Tapi yang tersirat, apakah hati kita juga polos dari pamrih?

Semua masjid itu ramai selama Ramadan. Tapi yang menjadi pekerjaan rumah bersama, akankah mereka tetap ramai setelah Ramadan usai?

Fenomena ini bukan untuk menghakimi para dermawan atau jamaah. Said Abdullah di Sumenep, pengurus masjid di Samarinda, dan para dermawan di Gresik, semua niat mereka baik. Tapi yang diajak berpikir adalah kita sendiri, jika amplop itu tidak ada, apakah kita masih akan mengantre sejak siang?

Ada yang beribadah karena takut miskin, maka Allah beri kekayaan.

Ada yang beribadah karena takut neraka, maka Allah jauhkan dari api.

Ada yang beribadah karena rindu surga, maka Allah beri kenikmatan.Tapi ada yang beribadah hanya karena cinta, maka Allah beri dirinya sendiri.

Fenomena tarawih berhadiah ini bukan sekadar soal boleh atau tidak secara fiqih. Ia adalah cermin jujur tentang hubungan kita dengan Tuhan. Di Sumenep, setelah amplop dibagikan, apa yang tersisa? Di Samarinda, setelah motor dan umrah diundi, apa yang menetap di hati? Di Gresik, setelah rice cooker diterima, apakah malam-malam berikutnya tetap ramai?

Bukan berarti hadiah itu salah. Bisa jadi ini adalah tangga bagi mereka yang belum bisa naik. Bagi yang awam, amplop adalah pintu masuk. Tapi bagi yang sudah lama berjalan, mestinya tangga itu ditinggalkan.

Semoga amplop, motor, dan umrah itu bukan tujuan, tapi wasilah. Dan semoga setelah semua itu usai, kita tetap setia di sajadah, bukan karena menanti amplop, tapi karena merindu Dzat yang memberi kehidupan.

Di level mana kita berada, hanya kita dan Allah yang tahu.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru