SEMARANG, PortalJateng.id – “Urip ojo mikir dunyo wae.” Begitu pesan Bupati Sukoharjo Etik Suryani dalam ceramahnya yang dulu viral. Nasihatnya adem, tapi yang disita malah dolar di dalam brankas.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berhasil menggerebek dua rumah rahasia di Wonogiri dan Laweyan, Jumat (10/7/2026) malam. Isinya bukan amplop biasa, tapi mata uang asing campur logam mulia seberat 2,5 kg emas. Totalnya tembus Rp21,2 miliar.
Bupati Etik Suryani dan dua anak buahnya Kepala BPKAD Richard Tri Handoko dan Kabag Umum Tri Mulyo kini harus rela berganti baju dinas dengan rompi oranye KPK . Praktik setoran ini ternyata “warisan lintas periode” dari suami, mantan bupati sebelumnya.
Ketua Umum Partai Anjing, Eko Haryanto, dalam rilisnya di Semarang, Senin (13/7/2026), melontarkan sindiran pedas.
“KPK ‘blusukan’ malam-malam, eh malah nemu brankas…rasa brankas sultan! Saking asyiknya mungut ‘setoran’, sang Bupati sampai lupa kalau jaman sekarang KPK juga hobi main petak umpet,” ujar Eko Haryanto.
Modus Klasik, Tapi Elit
Ceritanya begini, ada dua Surat Keputusan (SK) sakti yang diterbitkan. Bukan buat sejahterakan rakyat, tapi dipakai jadi “jurus pemungkas” buat minta setoran ke anak buah.
Pegawai BPKAD dipaksa setor 40% dari insentif upah pungut mereka. Belum lagi setoran rutin dari dinas-dinas lain (OPD). Kalau tidak setor? Siap-siap dimutasi ke “planet lain”.
Sekretaris Partai Anjing, John Arie, menambahkan dengan nada sinis.
“Ternyata makna mendalam dari khotbah ‘Urip ojo mikir dunyo wae’ adalah, ‘Dunia ini fana, biar saya saja yang menampung beban berat emas batangan dan dolar asingnya di brankas pribadi agar beban duniawi kalian berkurang’. Sungguh sebuah pengorbanan bupati yang visioner!” seloroh John Arie.
Barang Bukti: Dari Rupiah ke Logam Mulia
Rincian barang bukti yang disita KPK:
- Uang tunai rupiah: Rp6,4 miliar
- Mata uang asing: Rp7,5 miliar (dolar Singapura, dolar Australia, dolar AS, yen Jepang, ringgit Malaysia, baht Thailand)
- Emas batangan 100 gram: 25 keping (total 2,5 kg) senilai Rp7,3 miliar
Total : Rp21,2 miliar.
“Kearifan Lokal” Sukoharjo
Partai Anjing memuji sistem pemerasan ini sebagai “kearifan lokal”.
“Dinas Kebudayaan harus bangga karena Sukoharjo sukses mempertahankan ‘Kearifan Lokal’ berupa sistem upeti lintas generasi. Kode sakral seperti ‘Padakno karo Bapak’ bukan sekadar perintah, melainkan bukti nyata dari penerapan manajemen dinasti yang sakinah, mawaddah, warahmah,” tambah Eko Haryanto.
Ketika KPK datang menyita logam mulia 2,5 kilogram, itu sebetulnya bukan barang bukti kejahatan, melainkan pameran koleksi mas kawin dan tabungan masa depan keluarga yang tak sengaja terendus publik.
Tamat Sudah Drama Setoran
Kini , sang bupati dan dua anak buahnya harus siap-siap dipecat dari partai. Wakil Bupati Eko Sapto Purnomo telah ditunjuk sebagai Plt Bupati oleh Kemendagri.
Tamat sudah drama setoran.
“Urip ojo mikir dunyo wae.” Hidup jangan memikirkan dunia saja.
Nasihat yang disampaikan Bupati Etik Suryani dalam ceramahnya terdengar begitu mulia. Tapi di balik kata-kata bijak itu, dua brankas berisi uang tunai, mata uang asing, dan 2,5 kg emas justru terbongkar.
Ironi. Ketika seorang pemimpin mengajak bawahannya tidak memikirkan dunia, ia justru sibuk menimbun harta dunia. Ketika ia menyuruh rakyatnya ingat akhirat, ia melupakan bahwa KPK juga punya mata-mata di malam hari.
Praktik setoran ini bukan hanya terjadi di era Etik. Ia adalah “tradisi” dari suaminya, mantan bupati. Artinya, sistem pemerasan ini telah berlangsung lintas periode.
KPK telah bertindak. Empat laci brankas, 25 keping emas, dan tumpukan mata uang asing menjadi saksi bisu.
Semoga kasus ini menjadi pelajaran bagi para pemimpin lain, bahwa jabatan adalah amanah, bukan mesin ATM. Dan bahwa nasihat yang indah tidak akan pernah menutupi perbuatan yang buruk.
Karena pada akhirnya, yang tersisa dari drama setoran ini bukanlah emas atau dolar. Tapi kepercayaan rakyat yang runtuh. Dan itu, jauh lebih mahal dari Rp21,2 miliar.



