UNGARAN, PortalJateng.id — Hujan gerimis masih mengguyur saat panitia memasang tenda. Beberapa warga sempat cemas. “Wah, nanti acaranya jadi kehujanan, Bu,” bisik seorang ibu sambil menatap langit kelabu.
Tapi langit seolah mendengar. Gerimis perlahan reda. Tepat saat azan Isya berkumandang.
Warga mulai berdatangan. Ibu-ibu dengan gamis hitam dan kerudung pink. Bapak-bapak dengan kemeja putih dan bawahan merah. Anak-anak berlarian di sela-sela kursi. Halaman mushola yang sebelumnya sepi, mendadak ramai oleh canda dan salam.
Sabtu malam, 11 April 2026, Halal Bi Halal RT06 RW08 Sitalang, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur berlangsung. Bukan acara besar. Bukan panggung megah. Hanya tenda sederhana, nasi tumpeng putih, ayam ingkung, lontong opor, sambal goreng, kecipir, dan kerupuk udang.
Tapi di situlah keistimewaannya.
Missed yang Mengocok Perut

Acara berjalan lebih lima menit dari jadwal. Sebuah kelonggaran yang wajar di acara warga. Suasana dingin khas lereng Ungaran menemani.
Saat Sekretaris RT, Sigit Fendi, naik ke depan untuk menyampaikan sambutan, terjadi sesuatu yang tak terduga. Beliau menyebut nama anggota DPRD yang hadir, Mahfud Nofani, S.M. sebagai “Mahfud MD”.
Tawa pecah seketika.
Hadirin tertawa. Termasuk Mahfud sendiri. Pak Sigit hanya tersenyum malu. Momen kecil itu mencairkan suasana yang tadinya sedikit kaku.
Tapi di sela tawa, ada momen yang membuat sunyi.
Pak Sigit menyampaikan pesan, saling rukun, saling damai, jangan biarkan perpecahan tumbuh. Tiba-tiba suara riuh berganti hening. Beberapa warga menunduk. Ada yang menarik napas panjang.
Bukan karena kata-katanya berat. Tapi karena semua tahu itu benar.
“Aku yo lali yen aku tau salah omong karo Pak Wahyu”

Saat sesi ramah tamah dimulai, seorang warga bernama Pak Jumali berbicara jujur.
“Aku yo lali yen aku tau salah omong karo Pak Wahyu,” ujarnya polos.
(Saya juga lupa kalau saya pernah salah bicara dengan Pak Wahyu)
Kalimat sederhana itu seperti menampar pelan. Banyak dari kita mungkin lupa dengan kesalahan sendiri. Tapi malam itu, di tenda sederhana ini, adalah waktu yang tepat untuk mengingat dan memaafkan.
“Saya Tidak Bisa Menolak”

Salah satu kejutan malam itu adalah kehadiran Mahfud Nofani, anggota DPRD Kabupaten Semarang. Di tengah kesibukan sebagai Wakil Ketua Fraksi Golkar dan anggota Komisi A, ia memilih duduk di kursi plastik, di tenda, bersama warga.
“Saya dengan keluarga besar RT06 RW08 ini memang sudah dekat. Selain bertetangga, saya juga kebetulan berada di wilayah dapil ini. Saat dihubungi panitia, seakan tidak bisa menolak,” katanya.
Ia sadar, anggota dewan harus dekat dengan warga. “Karena mereka, saya ada.”
Warga terlihat antusias. Ada yang menyapa, ada yang bersalaman, ada yang sekadar mengangguk hormat. Mahfud membalas semuanya dengan senyum.
“Jika kesehariannya tidak bagus, tentu tidak akan bisa berjalan selancar ini kegiatannya,” ujarnya mengomentari kerukunan warga.
Tumpeng Putih dan Ayam Ingkung

Acara puncak, pemotongan tumpeng.
Sigit Fendi, yang masih tergolong muda dibanding sesepuh, memberikan potongan tumpeng pertama kepada H. Bambang Sudjiharto.
Kecil. Tapi itu simbol.
Yang muda menghormati yang tua. Bukan karena terpaksa. Tapi karena sadar.
Tumpeng yang disajikan bukan tumpeng kuning. Tumpeng putih. Kata orang, melambangkan kesucian hati, ketulusan tanpa pamer.
Ayam ingkung, dari kata diingu (dipelihara) dan manungku (bersimpuh), melambangkan kepasrahan. Bahwa kita ini makhluk yang lemah. Butuh maaf dari sesama. Butuh ampunan dari Yang Maha Kuasa.
“Jangan Menyakiti Jika Tidak Mau Tersakiti”

Ustadz Abdussalam Tri Murdopo, atau yang akrab disapa Ustadz ATM, hadir sebagai Ketua RW sekaligus penceramah. Tema yang dibawanya, “Merajut Silaturahmi, Wujudkan Warga yang Rukun, Bahagia, dan Sejahtera“.
Pesannya sederhana tapi mengena.
“Kita sebagai makhluk sosial yang hidup di masyarakat harus senantiasa menebarkan cinta kasih ke sesama, tanpa melihat pangkat, jabatan, latar belakang. Karena jika sudah satu lingkungan, ya semua kita adalah saudara. Apalagi di mata Tuhan Yang Maha Esa, kita semua sama,” ujarnya.
Ia mengingatkan soal sifat “paling merasa”.
“Itu adalah sifat yang akan merusak hati kita. Wajar manusia diberi nafsu dan emosi, namun sejatinya untuk kita kendalikan dengan baik dan benar.”
Lalu kalimat yang paling membekas,
“Jangan menyakiti jika tidak mau tersakiti. Itu saja. Karena semua amal perbuatan dan perilaku kita kepada sesama, nantinya akan berbalik kepada diri kita masing-masing. Itulah kenapa Tuhan Maha Adil.”
Sunyi. Beberapa warga mengangguk-angguk. Ada yang menunduk, mungkin merenung.
Setelah Salam-Salaman, Tak Ada yang Pulang

Salam-salaman dimulai. Bapak-bapak lebih dulu, lalu ibu-ibu. Barisan terbentuk. Tangan bersambung satu per satu. Maaf diucapkan, walau kadang lupa salahnya apa.
Tapi yang menarik, setelah acara usai, tidak ada yang langsung pulang.
Bapak-bapak dan remaja bahu-membahu membereskan tenda, mengemasi gelas, piring, sampah, menata kursi. Ibu-ibu gercep mencuci peralatan kotor, menata sisa makanan.
Semua bergerak. Tanpa perintah. Tanpa imbalan.
“Ya enak bisa bertatap muka salam-salaman. Muga-muga dalam hati kita masing-masing ya salaman, semeleh, bangun RT lebih baik lagi,” kata Pak Tri Wahyu sambil ikut membereskan kursi.

Malam itu, di tenda sederhana, di tengah dinginnya Ungaran, warga RT06 RW08 belajar sesuatu,
Bahwa menjadi tetangga itu tidak sulit.
Cukup datang. Cukup tersenyum. Cukup menyebut nama baik orang lain.
Cukup salaman dan bilang maaf, walau kadang kita lupa salahnya apa.
Pak Paul Hendrik, mantan RT yang jadi ketua panitia, mengaku terharu.
“Sungguh luar biasa. Meskipun dari sore sudah mendung tebal dan sempat hujan, alhamdulillah pada saat acara, Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan berkah cuaca yang bersahabat.”
Pesannya untuk warga :
“Warga lebih bisa lagi melepas ego masing-masing. Karena namanya Rukun Tetangga ya sesuai dengan namanya. Jika tidak rukun, bagaimana kita bisa bersinergi mencapai lingkungan damai, tentram, guyub sesuai yang kita cita-citakan?”
Dan Ustadz ATM menutup dengan harapan:
“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi simbol atau wacana. Bukan setelah acara selesai, kita kembali bisa seenaknya berbuat keburukan. Namun semoga bisa benar-benar menyentuh hati kita. Bahwa kita manusia hidup di dunia ini sejatinya hanya untuk menyembah Allah, bukan saling menyakiti.”
Catatan Redaksi
Malam itu, warga Sitalang tidak menjual apa-apa.
Mereka hanya datang. Duduk. Makan bersama. Saling memaafkan.
Itu sudah cukup.
Tumpeng putih, ayam ingkung, dan tawa dari salah sebut nama “Mahfud MD” menjadi perekat yang berhasil meluluhkan ego masing-masing. Setidaknya untuk malam itu.
Dan mungkin, semoga, untuk hari-hari sesudahnya.
Acara usai. Halaman mushola kembali sunyi. Tapi ada yang tersisa di hati setiap warga, sebuah janji tak tertulis untuk lebih peduli, lebih ramah, dan lebih rukun, mulai besok pagi.
PortalJateng.id mencatat, Halal Bi Halal bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah ruang bagi kita untuk mengingat bahwa kita ini saudara, bukan karena ikatan darah, tapi karena satu lingkungan, satu tanah, satu langit, dan satu Tuhan yang sama.
Selamat memaafkan dan dimaafkan, warga Sitalang. Semoga kedamaian ini tidak hanya hadir malam itu, tapi juga di hari-hari biasa.



