FEATURE, PortalJateng.id — Dulu, Minggu pagi punya rasa yang berbeda.
Bukan karena kopinya lebih nikmat. Bukan pula karena udaranya lebih sejuk. Tapi karena ada ritual yang tidak pernah ditulis, tapi dijalankan oleh hampir seluruh anak Indonesia: bangun pagi, mandi, sarapan nasi goreng atau bubur buatan ibu, lalu duduk di lantai karpet atau kursi kayu, menatap layar TVRI yang masih hitam putih bagi sebagian orang, dan menunggu suara khas itu keluar dari tabung kaca,
“Assalamu’alaikum… Selamat pagi, kawan-kawan semua!”
Si Unyil si kecil berperawakan sederhana dengan baju khasnya muncul bersama teman-teman, Usro, Ucrit, Meilani, Endut, Cuplis, Caplis. Dan tak ketinggalan, dua figur dewasa yang paling melekat di ingatan, Pak Raden dengan kumis tebal dan encoknya, serta Pak Ogah dengan jawaban legendarisnya, “Cepek dulu dong!”
Kita tertawa. Kita belajar. Kita tumbuh. Dan tanpa sadar, desa fiktif bernama Sukamaju itu telah menanam ribuan biji moral di kepala anak-anak Indonesia.
Pertanyaannya sekarang, Sukamaju itu kini ada di mana? Atau mungkin kita sendirilah yang telah pindah dari Sukamaju?
Unyil kecil. Badannya tidak sebesar Endut. Tidak setinggi Usro. Tapi ia berani. Berani bertanya. Berani membela yang lemah. Berani mengakui kesalahan. Berani meminta maaf.
Di era sekarang, keberanian itu seperti barang langka.
Kita lebih berani jadi buzzer di kolom komentar daripada berani menegur langsung teman yang salah. Kita lebih berani memamerkan ibadah di status WhatsApp daripada berani mengaku “aku belum salat”. Kita lebih berani membuat konten amal daripada berani diam-diam memberi.
Si Unyil mengajarkan satu hal yang sangat sederhana namun makin hilang, kebaikan itu tidak perlu dipertontonkan.
Unyil tidak pernah bilang, “Lihat, aku baik.” Dia hanya melakukannya. Dan entah bagaimana, kita sebagai penonton tahu, itu anak baik.
Refleksi untuk kita, Apakah kita masih punya keberanian untuk baik secara diam-diam? Atau kebaikan kita sekarang harus ada sensor likes-nya dulu?
Pak Raden adalah karakter yang paling manusiawi. Punya status, punya ilmu melukis yang mumpuni, punya blangkon dan tongkat khas. Tapi setiap kali diajak kerja bakti, dia selalu punya satu alasan klasik, “Aduh biyung, encokku kumat!”
Di era sekarang, encok-encok modern itu bermacam-macam rupa:
- “Maaf, saya lagi sibuk banget.” (Padahal scrolling medsos 3 jam)
- “Saya sih mau bantu, tapi nanti dikira cari muka.” (Alasan klasik menghindar)
- “Itu kan tugas RT, tugas RW, tugas pemerintah.” (Melupakan bahwa lingkungan adalah tanggung jawab bersama)
Pak Raden sebenarnya bisa. Dia bisa melukis pemandangan dengan indahnya. Tapi dia enggan. Enggan repot, enggan keluar dari zona nyaman, enggan mengakui bahwa statusnya tidak membuatnya lebih mulia daripada tetangga yang sedang mencangkul di selokan.
Refleksi untuk kita, Apakah kita punya “encok” modern? Dan kapan terakhir kali kita ikut kerja bakti, bukan sekadar menyumbang uang, tapi menyumbang tenaga dan waktu?
Tidak ada karakter yang lebih jujur tentang krisis gotong royong selain Pak Ogah.
Dia malas. Dia tahu dia malas. Dan dia tidak malu mengatakannya. Bahkan dia terang-terangan minta imbalan untuk hal yang seharusnya menjadi kewajiban bersama.
Pak Ogah dulu terdengar lucu. Sekarang, Pak Ogah ada di mana-mana:
- Ada orang yang hanya mau datang ke pengajian kalau dapat amplop.
- Ada orang yang hanya mau jadi panitia kalau ada “uang lelah” .
- Ada orang yang hanya mau membantu kalau ada kamera yang merekam.
Gotong royong berubah menjadi transaksi. Bahkan di tingkat RT, kadang kita harus “menyogok” warga agar mau ikut kerja bakti dengan memberi makan siang atau uang transport. Bukankah itu ironi?
Refleksi untuk kita, Apakah kita masih punya sisa “kerelawanan” di hati? Atau semua sudah kita hitung-hitung dengan uang?
Si Unyil tidak pernah menghadirkan penjahat super. Tidak ada Darth Vader, tidak ada Joker. Hanya ada Endut yang suka usil, Cuplis dan Caplin yang suka iseng. Mereka bukan jahat. Mereka hanya kadang salah paham, kadang ikut-ikutan, atau sekadar ingin diperhatikan.
Itulah kehidupan nyata. Orang yang paling sering mengganggu, biasanya yang paling kurang perhatian.
Di era sekarang, kita begitu cepat melabeli, “Dia toxic, saya blokir.” “Dia beda pilihan, saya unfriend.” “Dia salah dikit, saya viralkan.”
Kita lupa bahwa di balik akun anonim yang suka nyinyir, mungkin ada anak remaja yang sedang kesepian. Di balik tetangga yang suka ribut soal pagar, mungkin ada orang tua yang sakit-sakitan.
Si Unyil mengajarkan, jangan memusuhi, cobalah memahami. Bukan berarti membiarkan kesalahan, tapi menyadari bahwa setiap orang punya cerita yang tidak kita tahu.
Refleksi untuk kita, Kapan terakhir kali kita mencoba memahami orang yang mengganggu kita, bukan hanya memblokir atau memusuhinya?
Sukamaju tidak punya mal. Tidak punya tol. Tidak punya kafe Instagramable. Tapi Sukamaju punya hal yang sekarang mulai hilang dari lingkungan kita, kebersamaan yang tulus.
Di Sukamaju:
- Jika ada warganya sakit, mereka jenguk bersama.
- Jika ada jembatan rusak, mereka perbaiki bersama.
- Jika ada yang salah paham, mereka selesaikan dengan duduk bersama.
Tanpa drama, tanpa status WhatsApp, tanpa unggahan galau.
Bayangkan jika Sukamaju itu adalah RT kita sekarang. Apakah mirip? Atau justru sebaliknya?
Refleksi untuk kita, Rumah kita mungkin lebih besar dari rumah di Sukamaju. Tapi apakah hati kita juga lebih lapang?
Si Unyil tidak pernah menyuruh kita menjadi kaya. Tidak pernah menyuruh kita terkenal. Tidak pernah menyuruh kita mengikuti tren. Yang dia dan kawan-kawan tunjukkan hanya satu, jadilah manusia yang baik. Sederhana. Mau bekerja sama. Mau memaafkan. Mau belajar.
Pak Raden mungkin masih sakit encok di suatu tempat. Pak Ogah mungkin masih nongkrong di emperan toko, menunggu ada yang minta tolong lalu menjawab “Cepek dulu dong!”
Tapi kita? Kita yang dulu menonton mereka, sekarang sudah beruban, sudah punya anak, punya cucu, punya banyak pekerjaan dan banyak hutang. Kita sibuk. Kita lelah. Kita sering lupa.
Mungkin sudah saatnya kita pulang ke Sukamaju. Bukan pulang secara fisik, tapi kembali ke nilai-nilai lama yang dulu kita tertawakan tapi sebenarnya kita rindukan.
Karena pada akhirnya, hidup ini tidak rumit. Tidak perlu jadi superman. Tidak perlu jadi selebritas. Cukup jadi Unyil bagi tetangga kita. Cukup jadi Meilani yang baik hati. Cukup jadi Usro yang kreatif.
Dan jika suatu hari nanti ada yang bertanya, “Dulu kamu nonton Si Unyil?”
Kita bisa tersenyum dan menjawab, “Iya. Dan aku masih berusaha hidup seperti mereka.”
PortalJateng.id mencatat, Si Unyil mungkin tidak pernah tayang di Netflix. Tapi ia pernah menjadi sekolah moral bagi jutaan anak Indonesia. Pertanyaannya sekarang, setelah dewasa dan “sukses”, apakah kita masih ingat pelajaran dari Sukamaju? Atau kita sudah terlalu sibuk menjadi Pak Raden yang encok-encokan dan Pak Ogah yang menunggu cepek dulu?
Selamat merenung, kawan-kawan semua.



