Minggu, 24 Mei 2026
26 C
Semarang

Kampanye Anti Bullying Semarang: Bullying Bukan Bercanda

Komunitas SULBI dan Mahasiswa USM Gelar Permainan Edukatif untuk 20 Anak SD

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Bullying sering dianggap candaan biasa. Padahal, dampaknya tidak pernah lucu. Luka psikologis bisa bertahan bertahun-tahun.

Komunitas Sahabat Unik Luar Biasa Inklusi (SULBI) Semarang bergerak. Mereka menggandeng mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Semarang (USM).

Tujuannya, menggelar kampanye anti bullying Semarang yang tegas. Tema yang diusung, “Bullying Bukan Bercanda, Semua Berhak Dihargai”.

Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu (23/5/2026) . Lokasinya di Pos PAUD Ceria Bandarharjo, Semarang.

Kampanye anti bullying Semarang ini dikemas dengan cara yang disukai anak-anak. Yakni, permainan edukatif yang interaktif.

Sebanyak 20 anak dari kelas 4 hingga 6 SD ikut meramaikan. Mereka adalah warga sekitar Bandarharjo.

Tanamkan Sikap Saling Menghargai

Natasa Maelani A., ketua Komunitas SULBI, menjelaskan tujuan kegiatan ini.

Kampanye anti bullying Semarang ini bertujuan menanamkan sikap saling menghargai. Juga menolak segala bentuk bullying.

Selain itu, kegiatan ini meningkatkan pemahaman kesetaraan gender sejak dini.

“Kami melihat bullying masih sering dianggap candaan biasa. Padahal dampak psikologisnya serius bagi korban,” ujar Natasa dalam rilis resminya.

Ia menekankan, edukasi perlu dilakukan berkelanjutan. Tujuannya, menciptakan budaya saling menghormati dan peduli sesama.

Belajar Lewat Permainan

Kampanye ini tidak menggurui. Anak-anak diajak belajar sambil bermain.

Ada sosialisasi singkat tentang bahaya bullying. Ada permainan edukatif yang seru. Ada diskusi bersama yang hangat.

Pesan-pesan positif tentang menghormati perbedaan disampaikan dengan cara menyenangkan.

Anak-anak tidak hanya mendengarkan. Mereka terlibat aktif, bertanya, dan berbagi cerita.

Kesetaraan Gender untuk Semua

Kampanye anti bullying Semarang ini juga menanamkan nilai kesetaraan gender.

Anak-anak diajak memahami bahwa setiap individu berhak dihargai. Tanpa memandang perbedaan gender, latar belakang, maupun kondisi pribadi.

Laki-laki dan perempuan sama-sama berharga. Anak berkebutuhan khusus pun berhak diperlakukan dengan hormat.

Tanggung Jawab Bersama

Natasa menutup dengan pesan yang menggugah.

“Kami berharap masyarakat semakin sadar bahwa menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan penuh empati merupakan tanggung jawab bersama,” pungkas Natasa.

Kampanye anti bullying Semarang ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan. Bukan hanya seremonial belaka.

Bullying bukan bercanda. Ia bukan tontonan yang lucu.

Di balik tawa pelaku, ada air mata korban yang ditahan. Di balik senyum yang dipaksakan, ada harga diri yang terkikis.

Komunitas SULBI dan mahasiswa USM memilih cara yang berbeda. Mereka datang ke anak-anak, duduk bersama, dan mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menyakiti.

Setiap orang, apa pun kondisinya, berhak diperlakukan dengan hormat.

Semoga kampanye ini tidak berhenti di Pos PAUD Ceria. Semoga ini awal dari gerakan yang lebih besar. Di sekolah, di lingkungan bermain, di mana pun anak-anak tumbuh.

Karena melawan bullying berarti melawan ketidakadilan. Dan itu, adalah tanggung jawab kita semua.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru