Rabu, 3 Juni 2026
27.4 C
Semarang

Moko Garment dan Perjalanan Panjang Menjahit Peluang hingga Mancanegara

Berita Terkait


SEMARANG
 – Kini hampir 100 orang bekerja di PT Moko Garment Indonesia. Ribuan produk dikirim ke berbagai daerah hingga mancanegara setiap bulan. Namun 14 tahun lalu, usaha tersebut hanya dijalankan oleh dua bersaudara dengan tiga mesin jahit sederhana di sebuah ruangan kecil berukuran 3×3 meter yang menjadi titik awal perjalanan mereka membangun bisnis garmen.

Perusahaan yang berlokasi di Jalan Karanggayam, Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Semarang itu didirikan oleh Budi Turmoko dan Rian Muhammad pada 2012. Dengan modal sekitar Rp5 juta, keduanya memberanikan diri merintis usaha konveksi di tengah berbagai keterbatasan.

Direktur PT Moko Garment Indonesia, Rian Muhammad, mengenang masa-masa awal usaha yang jauh dari kata mudah. Selain modal yang terbatas, mereka juga harus berjuang mendapatkan pelanggan.

“Awalnya kami hanya punya tiga mesin jahit. Dua dibeli tunai, satu lagi dibeli secara tempo. Saat itu yang penting usaha bisa berjalan dulu,” ujarnya.

Tidak hanya mengurus produksi, keduanya juga turun langsung menawarkan jasa konveksi ke berbagai perusahaan. Mereka mendatangi calon pelanggan satu per satu dengan harapan memperoleh pesanan.

Namun usaha tersebut kerap berujung penolakan.

“Dulu belum sempat masuk kantor, baru sampai pintu saja sudah ditolak. Tapi itu menjadi bagian dari proses belajar kami,” kata Rian.

Berbekal ketekunan, mereka terus mencoba berbagai cara untuk memperluas pasar. Salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital. Media sosial dan website perusahaan mulai digunakan sebagai sarana promosi untuk menjangkau pelanggan yang lebih luas.

Langkah tersebut terbukti efektif. Pesanan terus bertambah dan nama Moko Garment mulai dikenal oleh berbagai perusahaan di Indonesia.

Saat ini perusahaan mampu memproduksi sekitar 10.000 potong produk setiap bulan. Berbagai jenis produk dihasilkan, mulai dari wearpack, overall, polo shirt, t-shirt, jas hujan hingga tas kerja.

Produk-produk tersebut digunakan oleh berbagai perusahaan nasional dan telah merambah pasar internasional seperti Malaysia, Singapura, Timor Leste, Taiwan, Oman hingga Siprus.

Menjangkau Pelanggan dari Aceh hingga Papua

Pertumbuhan Moko Garment tidak lepas dari dukungan layanan logistik yang membantu distribusi produk ke berbagai wilayah.

Sejak awal merintis usaha, Moko Garment telah menggunakan layanan JNE untuk mengirimkan pesanan kepada pelanggan. Ketika volume pengiriman masih kecil, Rian dan tim harus mengantar sendiri paket ke kantor cabang.

Kini, seiring berkembangnya usaha, paket-paket tersebut dijemput langsung dari lokasi perusahaan.

“Dari awal kami sudah menggunakan JNE. Dulu kami yang mengantar paket ke kantor cabang, sekarang justru dijemput. Itu sangat membantu operasional kami,” ujarnya.

Sebagai perusahaan yang mengandalkan pemasaran digital hingga 90 persen, kecepatan dan keamanan pengiriman menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan.

Sekitar 70 persen pengiriman Moko Garment saat ini menggunakan layanan JNE. Jaringan distribusi yang luas memungkinkan produk mereka menjangkau pelanggan hingga wilayah pelosok Indonesia.

“Customer kami banyak yang berada di daerah yang tidak mudah dijangkau. Karena itu kami memilih JNE karena jaringannya luas dan bisa menjangkau sampai pelosok,” kata Rian.

Pengiriman rutin dilakukan ke berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Merauke.

Menurutnya, kepercayaan kepada JNE tidak hanya dibangun oleh luasnya jaringan distribusi, tetapi juga konsistensi layanan yang diberikan selama bertahun-tahun.

“Selama ini barang aman, tidak pernah hilang, tidak tertukar, dan sampai sesuai waktu yang dijanjikan. Itu yang membuat kami tetap percaya menggunakan JNE,” ungkapnya.

Logistik sebagai Mitra Pertumbuhan

Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, mengatakan pelaku usaha memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan industri logistik nasional.

Menurutnya, JNE terus memperkuat layanan untuk mendukung kebutuhan pelanggan, mulai dari UMKM, pelaku usaha daring, hingga perusahaan berskala besar.

Di wilayah Semarang, JNE didukung sekitar 600 karyawan dan lebih dari 100 armada operasional yang melayani pengiriman ke berbagai daerah. Secara nasional, volume kiriman JNE mencapai sekitar satu juta paket per hari.

“Layanan reguler masih menjadi produk yang paling banyak digunakan pelanggan karena menawarkan keseimbangan antara kecepatan pengiriman dan efisiensi biaya,” kata Wahyu.

Selain layanan pengiriman, JNE juga menghadirkan layanan fulfillment yang membantu pelaku usaha mengelola penyimpanan barang, pengelolaan stok, pengemasan hingga pengiriman kepada pelanggan.

Melalui layanan tersebut, pelaku usaha dapat lebih fokus mengembangkan bisnis tanpa harus terbebani pengelolaan operasional logistik secara mandiri.

“Fulfillment merupakan layanan logistik pihak ketiga yang membantu UMKM mengelola stok hingga pengiriman dengan biaya terjangkau. Bahkan tersedia fasilitas free trial agar pelaku usaha dapat merasakan manfaatnya terlebih dahulu,” jelasnya.

Tumbuh Bersama Lingkungan

Bagi Moko Garment, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari peningkatan produksi dan perluasan pasar. Perusahaan juga berupaya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Sekitar 60 persen tenaga kerja yang bekerja di perusahaan berasal dari lingkungan sekitar lokasi usaha. Selain membuka lapangan pekerjaan, Moko Garment juga rutin menggelar pelatihan menjahit gratis bagi warga yang ingin memiliki keterampilan baru.

Peserta yang dinilai memiliki kemampuan sesuai standar perusahaan berkesempatan untuk bergabung sebagai karyawan.

Tak hanya itu, Moko Garment juga bekerja sama dengan sejumlah sekolah menengah kejuruan (SMK) di Jawa Tengah melalui program magang industri.

Puluhan siswa setiap tahun memperoleh kesempatan belajar langsung mengenai proses produksi, administrasi, desain, pemasaran digital hingga distribusi produk.

“Harapan kami mereka memiliki bekal yang lebih luas sehingga setelah lulus bisa memiliki banyak pilihan karier,” ujar Rian.

Program pemberdayaan lainnya dilakukan melalui pola kemitraan produksi. Sejumlah mantan karyawan yang telah memiliki pengalaman didorong membangun unit produksi rumahan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Skema tersebut memungkinkan manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat sekitar.

Menjahit Harapan yang Lebih Besar

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, Budi Turmoko dan Rian Muhammad tetap memegang prinsip yang sama seperti saat memulai usaha dari kamar kecil belasan tahun lalu, yakni bekerja dengan jujur dan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Sebagian keuntungan perusahaan juga dialokasikan secara rutin untuk kegiatan sosial, termasuk santunan kepada anak yatim dan berbagai kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Bagi mereka, bisnis bukan semata-mata tentang keuntungan, tetapi juga tentang membuka peluang dan menghadirkan manfaat bagi lingkungan.

Perjalanan Moko Garment menjadi bukti bahwa usaha yang dimulai dari keterbatasan dapat berkembang menjadi bisnis yang menjangkau pasar global. Dari sebuah kamar berukuran 3×3 meter di Semarang, ribuan produk kini dikirim ke berbagai penjuru Indonesia hingga mancanegara, membawa serta cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah maju.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru