Kamis, 20 Agustus 2026
30.3 C
Semarang

Petani Pekalongan Rasakan Manfaat Pompa Tenaga Surya

Berita Terkait

PEKALONGAN — Harapan petani di Desa Tengengwetan, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, kini mengalir bersama air yang dipompa dari sungai Sragi Lama menuju sawah. Di bawah terik matahari, panel-panel surya menggerakkan pompa air, untuk menggantikan sebagian kerja mesin diesel yang selama ini bergantung pada solar.

Bagi petani, keberadaan pompa air tenaga surya (PATS) bukan sekadar perubahan teknologi. Pompa tersebut memberi mereka kesempatan untuk menghemat biaya, mendapatkan kepastian air, dan kembali menanam ketika sawah tadah hujan mulai menghadapi musim kering.

“Kalau siang bisa menggunakan tenaga surya, kalau malam kita menggunakan diesel solar. Alhamdulillah bisa menghemat pengeluaran solar,” kata Dedi Utomo, petani Desa Tengengwetan ditemui di desanya, akhir pekan lalu.

Dedi mengatakan, keberadaan PATS membuat petani lebih tenang dalam mengatur musim tanam. Sebelumnya, selain persoalan ketersediaan air, petani juga harus menghadapi kesulitan mendapatkan solar untuk mengoperasikan pompa diesel.

Kini, ketika matahari cukup terik, pompa tenaga surya mengambil alih pekerjaan tersebut. Ketika matahari mulai redup, mesin diesel digunakan kembali.

“Dua kali tanam, dan juga tidak kekurangan air seperti yang dulu-dulu. Apalagi pernah solar susah, jadi dengan adanya ini kami sangat terbantu,” ujarnya.

Perwakilan Kelompok Tani Kendayaan Desa Tengengwetan, Muhammad Chirom mengatakan, PATS tersebut dimanfaatkan untuk mengairi sekitar 20 hektare sawah. Lahan tersebut merupakan sawah tadah hujan.

Dalam kondisi seperti itu, kemampuan PATS menjadi penting bagi petani. Air dari Sungai Tragi Lama dipindahkan melalui jaringan pipa menuju saluran tersier. Dari sana, air dibagi untuk mengairi lahan di sisi utara dan selatan.

Sebelum ada PATS, Chirom mengatakan, kelompok tani harus mengandalkan pompa diesel dengan kebutuhan solar sekitar 30 liter per hari. Setelah pompa tenaga surya beroperasi, kebutuhan solar dapat ditekan menjadi sekitar 15-20 liter per hari, tergantung kondisi cuaca dan waktu penggunaan.

“Pengeluaran kami bisa berkurang sekitar Rp100.000 per hari,” terang Chirom.

Bagi 30 orang petani anggota kelompok taninya, penghematan tersebut bukan angka kecil. Biaya operasional yang berkurang dapat membantu menjaga ongkos produksi tetap terkendali. Lebih dari itu, ketersediaan air memberi peluang kepada petani, untuk mempertahankan pola tanam dua kali dalam setahun.

“Kalau tidak ada alat ini, kami kemungkinan ya kurang karena pembelian solarnya itu terlalu sulit. Karena setiap hari itu mendapatkan kuota solar 10 liter. Sedangkan kami membutuhkan 30 liter solar,” pungkasnya.

Rasito, petani lainnya, juga merasakan manfaat yang sama. Dia mengungkapkan, bantuan tersebut setidaknya mengurangi ketergantungan petani terhadap solar dalam mengoperasikan diesel. Sebelum adanya pompa tenaga surya, dia pernah mengalami kesulitan mendapatkan solar, sehingga membuat pengairan sawah menjadi persoalan.

“Dulu mencari solar memang sulit. Sekarang dengan adanya tenaga surya lebih membantu,” beber Rasito.

Dengan sistem yang ada sekarang, mesin diesel tidak perlu bekerja sepanjang hari. Pompa tenaga surya digunakan ketika matahari tersedia, sementara diesel digunakan ketika energi surya tidak lagi mencukupi.

“Diesel yang pakai solar bisa istirahat, disambung bergantian dengan tenaga surya,” ujarnya.

Namun, Rasito berharap kapasitas PATS dapat terus dikembangkan. Menurut dia, pompa yang bekerja pada siang hari, belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pengairan seluruh lahan.

“Kalau bisa full siang malam, lebih bagus lagi,” tuturnya.

Pemanfaatan PATS di Tengengwetan merupakan bagian dari program Benteng Pangan Jawa Tengah. Saat ini terdapat tiga titik penerapan pompa tenaga surya, yakni di Kabupaten Pekalongan, Brebes, dan Cilacap.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemanfaatan tenaga surya untuk pompa pertanian, menjadi salah satu upaya mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, sekaligus menekan biaya produksi petani.

“Tiga titik pompa ini total mengairi sekitar 50 hektare lahan pertanian, untuk yang di Pekalongan ini bisa mengairi hampir 20 hektare lahan,” kata Luthfi saat meninjau penerapan PATS di Tengengwetan.

Menurut Luthfi, dari tiga lokasi tersebut akan dikembangkan sebagai model yang dapat diterapkan di kabupaten dan kota lain di Jawa Tengah. Pemerintah provinsi juga membuka peluang menjadikannya sebagai percontohan di tingkat nasional.

“Ini akan kita kembangkan, nanti akan kita sosialisasikan, lalu infrastrukturnya kita siapkan,” ujar Luthfi.

Momentum itu hadir bertepatan dengan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah. Di usia 81 tahun, pembangunan tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat di tingkat paling dasar.*

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru