SEMARANG – Tubuh Rosyid terasa pegal setelah mengikuti rangkaian kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026, di Semarang Jawa Tengah.
Namun, rasa lelah kafilah Provinsi Sumatera Barat itu berangsur hilang.
Ia memanfaatkan layanan pijat yang disediakan Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah.
Layanan yang berada di Kantor Dinsos Jateng tersebut menjadi bentuk partisipasi pemprov setempat dalam MTQ Nasional. Tak hanya memberikan layanan kebugaran untuk pemulih tenaga bagi para kafilah, kegiatan itu sekaligus menjadi sarana pemberdayaan penyandang disabilitas netra, yang telah dibekali keterampilan memijat.
Rosyid mengatakan, layanan ini sangat membantunya setelah merasa lelah sejak dalam perjalanan menuju Semarang pada Sabtu (12/9/2026). Terlebih, pada Minggu (13/9/2026), peserta cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) itu harus duduk selama sekitar delapan jam di depan laptop, selama mengikuti lomba.
“Kebetulan tampilnya kan delapan jam, delapan jam di depan laptop, ngetik, ya tubuh cukup capek. Adanya layanan pijat ini sangat membantu, bikin fresh lagi,” ucap pria 24 tahun tersebut, saat ditemui di stan pijat MTQ Nasional, Kantor Dinsos Jateng, Selasa (15/9/2026).
Manfaat serupa dirasakan Zukhrufil Shodri, peserta cabang Tilawah Remaja asal Sumatera Barat. Dengan tarif Rp50.000, dia mendapatkan pijatan dari kaki sampai kepala selama satu jam, oleh terapis disabilitas netra.
Menurutnya, stan pijat itu menjadi hal yang baru ditemuinya selama mengikuti MTQ Nasional. Shodri menilai, layanan tersebut sangat membantu para kafilah, terutama yang harus menempuh perjalanan jauh dari daerah asal.
“Saya ini sudah dua kali ikut MTQ nasional, ini yang pertama ada stan pijat, sehingga terbantu sekali. Soalnya kawan-kawan dari provinsi lain biasanya rata-rata mereka itu capek luar biasa, karena perjalanan yang jauh,” ujar Shodri.
Di sisi lain, layanan tersebut memberikan kesempatan bagi kelompok difabel untuk mendapatkan penghasilan, sekaligus menunjukkan keterampilan. Salah satunya Agus Setyawan, dari Panti Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra (PPSDSN) Penganthi Temanggung.
Dia menyatakan senang dapat dilibatkan dalam gelaran MTQ Nasional. Bersama para terapis lainnya, dia memberikan layanan pijat bugar dengan berbagai teknik, di antaranya shiatsu, segment, sport, dan kosmetik.
Agus menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Jateng yang terus memberikan ruang bagi disabilitas, untuk terlibat dalam berbagai kegiatan. Tidak hanya pada MTQ Nasional, tetapi juga dalam bazar, pameran, dan kegiatan lainnya.
Hal tersebut tidak lepas dari pembinaan yang diterimanya selama tiga tahun, di PPSDSN Penganthi Temanggung. Berbagai kegiatan membuat Agus yang sebelumnya sempat merasa putus asa, menjadi lebih percaya diri dan memiliki optimisme untuk menjalani kehidupan secara mandiri.
“Setelah diajarkan beberapa teknik massage dan keterampilan yang lain, seperti musik, olahraga, dan sebagainya, saya merasa senang dan lebih optimis untuk menjalankan hidup, untuk percaya diri,” tuturnya.
Dalam gelaran MTQ Nasional, layanan pijat melibatkan 20 disabilitas netra dari empat panti sosial binaan Pemprov Jateng. Yakni PPSDSN Penganthi Temanggung, PPSDSN Bhakti Candrasa Surakarta, Panti Pelayanan Sosial Lansia Bojongbata Pemalang, dan PPSDSN Pendowo Kudus.
Sekretaris Dinas Sosial Jateng, Isriadi Widodo mengatakan, layanan itu dibuka pada 13-19 September 2026 pukul 14.00-20.00 WIB. Tersedia tiga kamar untuk putra dan dua kamar untuk putri, dengan tarif Rp50.000 per jam. Hingga hari ini, sudah lebih dari 50 orang yang sudah memanfaatkan layanan tersebut.
Sebagaimana arahan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen, program tersebut memiliki dua tujuan utama. Yakni memberikan layanan kebugaran bagi para kafilah MTQ, sekaligus ruang bagi disabilitas untuk berkarya dan meningkatkan pendapatan.
“Mudah-mudahan dengan kesempatan ini semakin banyak pasien yang berdatangan, karena kita juga berharap ini menjadi rezeki berkah bagi saudara-saudara kita yang netra. Dengan kegiatan MTQ ini bisa meningkatkan pendapatan mereka,” ucap Isriadi.
Pihaknya berharap, layanan pijat bugar bisa dimanfaatkan oleh kafilah MTQ yang badannya lelah setelah mengikuti perlombaan, sekaligus memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk hidup mandiri di keluarga maupun masyarakat.
“Harapannya nanti para penyandang netra ini setelah menjalani proses rehabilitasi sosial di dalam panti, mereka bisa hidup mandiri di keluarga dan masyarakat,” pungkas Isriadi.***



