Jumat, 18 September 2026
28 C
Semarang

Industri Semarang-Batang Melesat, Luthfi Kejar Integrasi Transportasi Tawang-Weleri

Berita Terkait

SEMARANG – Ledakan aktivitas industri di koridor Semarang-Batang dalam dua tahun ke depan diproyeksikan meningkatkan pergerakan pekerja, masyarakat, dan logistik. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun mendorong percepatan pengembangan kawasan berorientasi transit (KBT) Tawang dan Weleri agar pertumbuhan industri tidak tersendat oleh persoalan transportasi.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, percepatan konektivitas menjadi kebutuhan mendesak seiring berkembangnya sejumlah kawasan industri, terutama Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kawasan Industri Kendal (KIK), dan kawasan industri di Semarang.

“Saya senang dan berharap segera eksekusi. Tumbuh kembang kawasan industri kita menjadi barometer. Kalau KITB, Kawasan Industri Kendal, dan Semarang berkembang, mau tidak mau pergerakan orang dan barang jangan sampai ada bottleneck atau sumbatan,” kata Ahmad Luthfi saat audiensi dengan perwakilan Kedutaan Besar Inggris dan Techne Praxis International di kantornya, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, konektivitas tidak lagi cukup dipandang sebagai persoalan pembangunan jalan atau infrastruktur transportasi semata. Pertumbuhan kawasan industri harus diikuti sistem pergerakan orang dan barang yang terintegrasi, sehingga aktivitas ekonomi di satu kawasan tidak menimbulkan beban berlebih di kawasan lainnya.

Kajian pengembangan KBT tersebut telah dilakukan dengan dukungan Pemerintah Inggris dan Techne Praxis International. Kajian itu mempertimbangkan hubungan antarwilayah serta pertumbuhan ekonomi berdasarkan karakter dan perkembangan masing-masing kawasan.

Dalam rancangan tersebut, koridor Tawang-Weleri-Batang diproyeksikan terhubung melalui integrasi transportasi. Dengan demikian, mobilitas masyarakat, pekerja, maupun distribusi barang dari dan menuju kawasan industri dapat ditopang oleh sistem transportasi yang lebih terintegrasi.

Luthfi mengatakan pengembangan KBT saat ini masih menunggu regulasi dari pemerintah pusat. Setelah regulasi ditetapkan, Pemprov Jateng akan melanjutkan dengan penandatanganan nota kesepakatan dan penyusunan rencana kerja.

Ia meminta kementerian terkait mempercepat proses regulasi tersebut agar pembangunan tidak tertinggal oleh laju pertumbuhan kawasan industri.

“Saya sudah minta Asisten Ekonomi dan Pembangunan untuk segera dirapatkan dengan kementerian terkait agar segera dieksekusi. Ini harus cepat karena dua tahun ke depan kawasan industri kita sudah penuh. Tidak hanya pergerakan orang, barang atau logistik juga penuh,” tegas Luthfi yang memimpin Jateng bersama Wagub Taj Yasin.

Pengembangan KBT juga diarahkan untuk berjalan beriringan dengan rencana pembangunan dry port. Saat ini, rencana dry port di Batang telah mendapatkan persetujuan dan tengah dimatangkan, dengan lahan yang tersedia sekitar 50 hektare.

Managing Director Techne Praxis International Puspita Galih Resi mengatakan studi KBT telah dilakukan dengan dukungan Pemerintah Inggris melalui skema dana hibah. Kajian tersebut tidak hanya membahas konsep kawasan, tetapi juga aspek pengelolaan kawasan berorientasi transit.

Dari koridor Tawang-Weleri-Batang, dua titik dinilai menjadi prioritas berdasarkan tingkat urgensinya, yakni KBT Tawang dan KBT Weleri.

“Namun dari satu koridor ini (Tawang-Weleri-Batang), hanya dua yang diutamakan dengan melihat urgensinya yaitu KBT Tawang dan KBT Weleri,” ujar Puspita usai bertemu Gubernur Luthfi.

Menurut dia, Weleri memiliki posisi strategis karena menjadi kawasan penyangga bagi pertumbuhan ekonomi yang berlangsung di kawasan industri Batang.

Pertumbuhan industri, kata Puspita, tidak mungkin seluruh kebutuhan pendukungnya dipusatkan di Batang, termasuk kebutuhan hunian dan berbagai layanan bagi pekerja. Karena itu, kawasan di sekitarnya perlu dipersiapkan untuk menampung limpahan aktivitas ekonomi tersebut.

“Weleri menjadi urgensi karena menjadi tangkapan atas pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kawasan industri Batang. Sebab tidak mungkin semua infrastruktur dipusatkan di Batang, misalnya terkait hunian. Maka yang perlu dilakukan adalah bagaimana kota atau daerah tetangga mampu mengampu dan menampung kebutuhan-kebutuhan lainnya dari kawasan industri tersebut,” jelasnya.

Ia menilai integrasi transportasi publik menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi antarkawasan dapat berlangsung seimbang. Dengan konektivitas yang terencana, aktivitas ekonomi tidak menumpuk hanya di satu kawasan, sementara wilayah di sekitarnya menjadi penyangga tanpa dukungan infrastruktur yang memadai.

“Jadi secara keseluruhan Provinsi Jawa Tengah ini seimbang, sehingga kanibalisme itu tidak terjadi. Itu diakomodir dengan mengintegrasikan secara baik transportasi publik yang ada,” katanya.

Pengembangan KBT Tawang dan Weleri dengan demikian tidak hanya diarahkan untuk memperlancar mobilitas, tetapi juga menjadi bagian dari strategi Jawa Tengah mengantisipasi lonjakan aktivitas industri, pekerja, hunian, dan logistik di koridor Semarang-Batang dalam beberapa tahun mendatang.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru