SEMARANG – Memasuki satu dekade perjalanan di industri energi bersih, SUN mulai memperluas cakupan bisnis dari pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menuju solusi elektrifikasi yang terintegrasi.
Perluasan tersebut mencakup penyimpanan dan manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta sistem digital untuk mendukung pengelolaan energi dan armada. Langkah ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan sektor industri yang semakin membutuhkan energi efisien, andal, dan rendah karbon.
Sejak berdiri pada 2016, SUN telah mengembangkan lebih dari 450 megawatt (MW) kapasitas energi surya melalui lebih dari 400 proyek yang mencakup lebih dari 40 sektor industri. Portofolionya tersebar di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand, dengan proyek di sektor pertambangan, semen, FMCG, logistik, kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, hingga farmasi.
Perkembangan tersebut menjadi pijakan bagi SUN untuk memperluas peran dari pengembang energi surya menjadi mitra elektrifikasi bagi industri.
“Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing,” ujar Chief Customer Relations & Marketing Officer SUN Oky Gunawan.
Oky mengatakan, memasuki dekade kedua, kebutuhan pelanggan tidak lagi sebatas penyediaan energi bersih. Integrasi antara sumber energi, sistem penyimpanan, dan aktivitas operasional menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi industri.
“Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan,” katanya.
Perluasan solusi tersebut salah satunya diwujudkan melalui SUN Mobility. Layanan ini mengembangkan elektrifikasi armada dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kebutuhan operasional setiap pelanggan.
Solusi yang ditawarkan mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan infrastruktur pengisian daya, skema pembiayaan atau penyewaan, pemeliharaan kendaraan, hingga pemantauan armada melalui Fleet Management System.
Dalam menentukan solusi, SUN mempertimbangkan sejumlah faktor, seperti jenis kendaraan, pola perjalanan, jarak tempuh, kondisi medan, kebutuhan pengisian daya, serta ketersediaan energi di lokasi.
Pendekatan tersebut diterapkan dalam salah satu studi kasus pada distributor FMCG di Jabodetabek. Penggunaan truk listrik untuk rute sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00–17.00 menunjukkan potensi penghematan biaya energi hingga 83,6% per perjalanan.
Studi yang sama memperkirakan total biaya kepemilikan dan operasional dapat turun sekitar 15%. Perhitungan tersebut didasarkan pada ketersediaan listrik jaringan dan pola operasional pelanggan.
“Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan,” ujar CEO SUN Mobility Karina Darmawan.
Menurut Karina, peralihan menuju kendaraan listrik membutuhkan kesiapan ekosistem yang mendukung operasional kendaraan tersebut. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu direncanakan secara bersamaan.
“Semua komponen tersebut perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur,” katanya.
Di sisi pembangkitan, SUN tetap memperkuat pengembangan proyek energi surya, termasuk proyek dengan skala lebih besar. Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 GWp yang membuka peluang pengembangan PLTS untuk kebutuhan komersial, industri, maupun proyek berskala besar.
Saat ini, SUN memiliki pipeline proyek energi surya lebih dari 40 MWp yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia dan masih berada dalam tahap pengembangan.
SUN juga memperluas perannya sebagai Independent Power Producer (IPP) untuk mendukung pengembangan aset energi bersih dalam jangka panjang. Peran tersebut diarahkan untuk meningkatkan kontribusi sektor swasta dalam penambahan kapasitas energi terbarukan sekaligus mendukung visi pengembangan 100 GWp energi surya di Indonesia.
Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 244.549 ton CO₂ per tahun. Angka tersebut disebut setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.
Ke depan, SUN akan mengembangkan integrasi PLTS, penyimpanan energi, sistem manajemen energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, dan sistem digital sebagai bagian dari solusi untuk sektor industri.
Pengembangan tersebut diarahkan untuk membantu pelanggan meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan energi, dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Untuk mempercepat implementasinya, SUN akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, regulator, PT PLN (Persero), asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, mitra teknologi, pemasok, dan perusahaan engineering, procurement and construction (EPC).
Memasuki dekade kedua, SUN memperluas bisnisnya dari pengembangan energi surya menuju ekosistem elektrifikasi yang lebih terintegrasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menjawab kebutuhan energi dan operasional industri yang terus berkembang.***



