Menu ✖

Mode Gelap

Luthfi Pacu Produktivitas Pertanian Demak, Normalisasi Irigasi Sasar 450 Hektare Sawah

19 Okt 2026 · 17:32 WIB ·


					Luthfi Pacu Produktivitas Pertanian Demak, Normalisasi Irigasi Sasar 450 Hektare Sawah Perbesar


DEMAK
– Saluran irigasi yang tertutup sedimentasi di Kabupaten Demak menghambat pasokan air ke lahan pertanian. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turun tangan menormalisasi saluran avur sepanjang 1,15 kilometer di Kecamatan Karangtengah. Tujuannya agar 450 hektare lahan pertanian kembali di wilayah itu mendapat pasokan air, dan petani berpeluang meningkatkan frekuensi tanam dari sekali menjadi dua hingga tiga kali setahun.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, yang memimpin Jateng bersama Wagub Taj Yasin, meninjau pekerjaan normalisasi tersebut, Senin, 19 Oktober 2026. Saluran yang melintasi Desa Klitih dan Desa Dukun itu tidak hanya berfungsi mengairi sawah saat musim kemarau, tetapi juga membantu membuang air ketika banjir.

“Ini normalisasi saluran irigasi yang kita teroboskan ke Sungai Gemboyo. Harapannya nanti di sini bisa terairi. Jika sebelumnya hanya satu kali tanam, bisa dua atau tiga kali,” kata Ahmad Luthfi saat meninjau lokasi bersama Bupati Demak Eisti’anah.

Bagi petani, kelancaran saluran tersebut berkaitan langsung dengan kesempatan tanam dan potensi hasil panen. Jika pasokan air terjaga, lahan yang selama ini terkendala pengairan diharapkan bisa dimanfaatkan lebih optimal.

Namun, pekerjaan normalisasi belum sepenuhnya rampung. Hingga 14 Oktober 2026, pengerukan di Desa Klitih telah mencapai sekitar 630 meter. Sementara itu, dari target 500 meter di Desa Dukun, baru sekitar 80 meter yang selesai.

Pengerjaan di Desa Dukun menghadapi kendala kondisi tanah yang lunak. Alat berat beberapa kali terjebak lumpur sehingga memperlambat proses pengerukan.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan, normalisasi dilakukan setelah tim di lapangan melakukan pemantauan dan menerima laporan masyarakat mengenai kondisi saluran.

Dengan potensi lahan sekitar 450 hektare, kelancaran pengairan diharapkan memungkinkan petani setidaknya menanam padi dua kali dalam setahun.

“Ini kerja bersama agar kita bisa menanam. Paling tidak 5-6 ton per hektare, tinggal dikalikan 450 hektare. Jadi, bagaimana caranya kita tetap semangat di tengah kondisi iklim seperti ini,” ujarnya.

Jika produktivitas tersebut tercapai di seluruh lahan, potensi hasil panen dalam satu kali musim tanam dapat mencapai sekitar 2.250-2.700 ton gabah. Angka itu merupakan potensi berdasarkan asumsi seluruh lahan seluas 450 hektare ditanami dengan produktivitas 5-6 ton per hektare, bukan realisasi panen.

Defransisco menambahkan, pemerintah sebelumnya juga melakukan pengerukan di Sungai Pelayaran dan menilai hasilnya positif.

Kepala Desa Klitih, Firdos, mengatakan, saluran avur tersebut telah lama menjadi jalur pengairan untuk mengambil air dari Sungai Gemboyo. Namun, aliran air terganggu setelah lumpur menumpuk di sepanjang saluran, yang diduga berkaitan dengan perbaikan pintu air.

Menurut dia, sedimentasi yang terbawa dan mengendap membuat fungsi saluran tidak berjalan optimal. Normalisasi diharapkan memulihkan aliran air sehingga kebutuhan pengairan pada musim tanam pertama dan kedua dapat terpenuhi.

“Adanya bantuan normalisasi dari Pak Gubernur ini diharapkan air bisa mengalir dan MT 1 dan MT 2 tidak masalah,” kata Firdos.

Ia mengatakan, pengerjaan tersebut juga melibatkan dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah kabupaten, Bank Indonesia, serta gotong royong petani untuk mengeruk bagian saluran yang sulit dijangkau alat berat, seperti gorong-gorong.

Normalisasi saluran avur ini didukung Pemprov Jawa Tengah, Pemkab Demak, Bank Indonesia, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Tengah, serta Pemerintah Desa Klitih dan Dukun.

Pembiayaan awal yang disiapkan sebesar Rp 39,02 juta untuk operasional alat berat, tenaga kerja, penggalian manual, dan mobilisasi peralatan.

Luthfi mengatakan, penanganan saluran tersebut dilakukan melalui kerja bersama pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, Bank Indonesia, hingga pemerintah desa.

“Ini kolaborasi antara Pemprov Jateng, Pemkab Demak, BI, sampai pemerintah desa, bareng-bareng,” ujarnya.

Normalisasi irigasi di Karangtengah ini diharapkan berhasil mengembalikan aliran air dan terjaganya fungsi saluran untuk pengairan dan pembuangan banjir. Dengan demikian petani bisa meningkatkan frekuensi tanam dan menjaga produktivitas di tengah tantangan iklim.*

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

Bukan Sekadar Lomba, Jambore Pemuda Jateng Bidik Generasi Muda Berdaya Saing

19 Oktober 2026 - 18:51 WIB

Bukan Sekadar Lomba, Jambore Pemuda Jateng Bidik Generasi Muda Berdaya Saing

Jateng Perkuat Perlindungan Pantura, Timbulsloko Jadi Lokasi Percontohan

19 Oktober 2026 - 17:25 WIB

Jateng Perkuat Perlindungan Pantura, Timbulsloko Jadi Lokasi Percontohan

Bukan Sekadar Tanam Mangrove, Jateng Uji Teknologi Baru untuk Hadapi Rob Demak

19 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Bukan Sekadar Tanam Mangrove, Jateng Uji Teknologi Baru untuk Hadapi Rob Demak

Jateng Semarakkan Hari Santri 2026, dari Pesantren Sehat hingga Jateng Bersholawat

19 Oktober 2026 - 15:47 WIB

Jateng Semarakkan Hari Santri 2026, dari Pesantren Sehat hingga Jateng Bersholawat

Ubah Bakat Bercerita Jadi Prestasi! Festival Mendongeng Jateng Dibuka Gratis Berhadiah Rp 5 Juta

18 Oktober 2026 - 20:04 WIB

Ubah Bakat Bercerita Jadi Prestasi! Festival Mendongeng Jateng Dibuka Gratis Berhadiah Rp 5 Juta

KSPN Jateng Punya 58 Ribu Anggota, Ristadi Tekankan Soliditas Organisasi

18 Oktober 2026 - 16:07 WIB

KSPN Jateng Punya 58 Ribu Anggota, Ristadi Tekankan Soliditas Organisasi
Trending di Daerah

Tinggalkan Komentar