SEMARANG – Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., dipercaya memimpin Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (FORDEKIIS) periode 2026–2027. Prof Hamidah menjabat sebagai ketua, sedangkan Prof Teguh menjadi wakil ketua.
Kepengurusan baru tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi antarfakultas ilmu sosial di Indonesia, terutama dalam meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan penelitian, dan menyiapkan lulusan yang mampu bersaing di tingkat global.
Pertemuan FORDEKIIS yang berlangsung di FISIP Undip, Semarang, pada 23–25 Oktober 2026, membahas sejumlah agenda strategis. Di antaranya pemutakhiran program kerja, penandatanganan kesepakatan mata kuliah esensial Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, penentuan ketua FORDEKIIS antarwaktu, serta pembahasan rencana tindak lanjut.
Wakil Ketua FORDEKIIS Teguh Yuwono mengatakan, kolaborasi menjadi kunci bagi perguruan tinggi untuk menghadapi persaingan global. Menurut dia, kompetisi tidak seharusnya membuat kampus saling menjatuhkan, tetapi justru mendorong perguruan tinggi berkembang bersama.
“Kita berkolaborasi untuk berkompetisi di tingkat global. Kompetisi kita bukan di antara sesama PTN, tetapi PTN harus saling membangun,” ujar Teguh, Sabtu (24/10/2026).
Ketua FORDEKIIS Hamidah Nayati Utami mengatakan, forum tersebut menjadi ruang bagi pimpinan fakultas untuk bertukar pengalaman, membahas tantangan pendidikan tinggi, dan merumuskan langkah bersama.
Menurut dia, perbedaan karakteristik dan kapasitas setiap kampus perlu dijembatani melalui komunikasi dan koordinasi berkelanjutan. Dengan demikian, kerja sama antarfakultas dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan penelitian sekaligus mendukung pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi.
Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada (UGM), Wawan Mas’udi, turut menekankan pentingnya kolaborasi untuk mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan ilmu sosial di Indonesia.
“Tujuannya untuk membangun komunikasi antarfakultas dan antaruniversitas, sekaligus mendekatkan kualitas pengajaran, pendidikan, dan riset untuk ilmuwan sosial di Indonesia,” kata Wawan.

Pertemuan tersebut juga menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan tinggi. Wawan menegaskan, AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu pembelajaran, bukan pengganti kemampuan berpikir mahasiswa.
“Kita ingin menjadikan AI betul-betul sebagai tools, sebagai alat bantu. Dia tidak menggantikan semuanya, tetapi membantu mempercepat proses pembelajaran,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan AI harus disertai pemahaman etika. Mahasiswa tetap perlu mengembangkan daya kritis dan kemampuan analitis agar dapat memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Sebagai langkah konkret, FORDEKIIS merencanakan mata kuliah bersama yang mencakup materi transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Mahasiswa juga akan mendapatkan penguatan keterampilan menulis, berbicara di depan publik, serta kewirausahaan sosial.
Materi tersebut rencananya dihimpun dalam platform bersama yang dapat diakses perguruan tinggi anggota FORDEKIIS. Setiap kampus dapat menyesuaikan penerapannya dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing, baik sebagai mata kuliah tersendiri maupun bagian dari mata kuliah yang sudah berjalan.
Melalui rangkaian agenda tersebut, FORDEKIIS diharapkan mampu memperkuat sinergi antarfakultas, memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan ilmu sosial, serta meningkatkan daya saing perguruan tinggi negeri Indonesia di tingkat global.***











