Jumat, 8 Mei 2026
31.1 C
Semarang

Di Balik Gencar Kolaborasi Vokasi Pemprov Jateng: Antara Euphoria dan Ancaman Krisis Pangan

Berita Terkait

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menggalang kolaborasi strategis dengan dunia pendidikan vokasi untuk mewujudkan cita-cita Jateng sebagai provinsi penumpu pangan dan industri. Langkah ini diwujudkan melalui Festival Panen Raya Berdikari Jawa Tengah Tahun 2025 yang digelar di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Kamis (6/11/2025).

Sekretaris Daerah Jateng, Sumarno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa gubernur dan wakil gubernur mendorong sinergi multipihak untuk menyelesaikan persoalan pembangunan di Jawa Tengah.

“Ini sesuai yang diinginkan Pak Gubernur Ahmad Luthfi, untuk kita kolaborasi bersama-sama dalam menangani problem di Jawa Tengah. Pak Gubernur juga sudah melakukan penandatanganan kerja sama dengan perguruan tinggi di Jawa Tengah, pun dengan dunia pendidikan vokasi,” ujar Sumarno.

Menurutnya, menjadikan Jateng sebagai penumpu pangan dan industri merupakan tantangan tersendiri karena kedua sektor ini sering dianggap bertolak belakang. Namun jika dapat dijalankan secara beriringan, hal ini justru akan menjadi potensi luar biasa.

Berbagai inovasi teknologi terapan ditampilkan dalam festival tersebut, mulai dari alat pembuat pelet pakan ikan, mesin pemantau perkembangan tanaman salak, hingga purwarupa alat-alat kebutuhan industri. Sumarno juga meminta dukungan pendidikan vokasi dalam menyiapkan tenaga kerja yang kompeten sesuai kebutuhan industri.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan, menyambut positif inisiatif ini. “Kehadiran perguruan tinggi terutama vokasi diharapkan dapat menjawab tantangan yang ada di Jawa Tengah. Tentu bidang teknologi dan inovasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Meski kolaborasi antara pemerintah dan pendidikan vokasi patut diapresiasi, Prof. Dr. Sucihatiningsih Dian Wisika Prajanti, M.Si., pakar ekonomi pertanian dari FEB UNNES, mengingatkan perlunya pendekatan yang lebih komprehensif.

“Sinergi yang dibangun sudah pada jalur yang tepat, namun kita perlu memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan benar-benar menyentuh kebutuhan petani dan nelayan di lapangan, bukan sekadar menjadi pajangan dalam pameran,” ujar Prof. Sucihatiningsih Selasa, (11/11/25).

Dia mempertanyakan mekanisme keberlanjutan program setelah festival berakhir. “Pertanyaannya, apakah sudah ada skema diseminasi dan adopsi teknologi yang jelas, jangan sampai inovasi canggih hanya berakhir di laboratorium kampus”, imbuhnya.

Prof. Sucihatiningsih juga mengingatkan potensi konversi lahan pertanian yang semakin mengkhawatirkan. “Di satu sisi kita ingin menjadi penumpu pangan, di sisi lain mendorong industrialisasi. Jika tidak diatur dengan bijak, alih fungsi lahan pertanian justru akan mengancam ketahanan pangan kita”, tegasnya.

Sebagai solusi, pakar ekonomi pertanian ini merekomendasikan pendekatan agro-industri yang memadukan kedua sektor secara simbiosis. “Industri tidak harus berarti pabrik dengan cerobong asap. Kita bisa kembangkan industri pengolahan hasil pertanian yang justru akan meningkatkan nilai tambah produk pertanian.”

Dia juga menekankan pentingnya link and match yang riil antara kurikulum vokasi dengan kebutuhan sebenarnya di lapangan. “SMK dan perguruan tinggi vokasi harus melibatkan petani, nelayan, dan pelaku industri dalam penyusunan kurikulum. Bukan sekadar mengejar jumlah MoU,”.

Terakhir, Prof. Sucihatiningsih mengingatkan agar program ini tidak terjebak dalam euforia jangka pendek. “Keberhasilan tidak diukur dari banyaknya event, tapi dari peningkatan kesejahteraan petani dan berkurangnya angka stunting di Jawa Tengah”, tutupnya.

Dengan menggabungkan optimisme pemerintah dan kritik konstruktif dari akademisi, diharapkan kolaborasi strategis ini dapat membawa hasil nyata bagi masyarakat Jawa Tengah, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pengembangan industri yang berkelanjutan.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru