Kamis, 7 Mei 2026
31.4 C
Semarang

Inflasi Jateng Tetap Terkendali Usai Lebaran, April Deflasi 0,03 Persen

Berita Terkait

SEMARANG — Provinsi Jawa Tengah mencatat deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada April 2026 setelah sebelumnya mengalami inflasi 0,57 persen pada Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan inflasi di Jawa Tengah tetap terjaga pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 Hijriah.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, mengatakan, deflasi terutama dipicu normalisasi harga sejumlah komoditas pangan setelah tingginya permintaan selama Ramadan dan Lebaran.

“Deflasi Jawa Tengah pada April 2026 terutama disumbang oleh penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit seiring normalisasi permintaan pasca HBKN Idulfitri 1447 H,” kata Noor Nugroho dalam keterangannya kemarin.

Selain kelompok makanan dan minuman, penurunan harga juga terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama emas perhiasan yang mengalami koreksi mengikuti penurunan harga emas global.

Meski demikian, laju deflasi tertahan oleh kenaikan harga beberapa komoditas dan jasa. Harga minyak goreng meningkat akibat naiknya harga kelapa sawit serta biaya produksi plastik kemasan yang terdampak konflik di Timur Tengah. Kenaikan juga terjadi pada tarif angkutan udara, harga telepon seluler, laptop atau notebook, serta nasi dengan lauk.

Menurut Noor Nugroho, inflasi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman terutama dipicu meningkatnya biaya energi, khususnya gas LPG, serta kenaikan harga kemasan plastik.

“Inflasi juga didorong kenaikan harga komponen elektronik seperti chipset dan memory yang berdampak pada harga telepon seluler dan laptop/notebook,” ujarnya.

Secara tahunan (year on year/yoy), Jawa Tengah mencatat inflasi sebesar 2,11 persen pada April 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,42 persen dan menjadi yang terendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa.

Inflasi tahunan di Jawa Tengah terutama dipengaruhi kenaikan harga emas perhiasan dengan andil 0,63 persen. Selain itu, komoditas beras, daging ayam ras, minyak goreng, dan sigaret kretek mesin turut menyumbang inflasi.

Di sisi lain, sejumlah komoditas menahan laju inflasi, di antaranya bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, dan tarif angkutan antarkota yang mengalami penurunan harga.

Secara spasial, sebagian besar kota indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Tengah mengalami deflasi pada April 2026. Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Wonogiri sebesar 0,25 persen, disusul Kabupaten Wonosobo 0,23 persen dan Cilacap 0,21 persen.

Sementara itu, Kota Semarang dan Kudus masih mencatat inflasi masing-masing sebesar 0,17 persen dan 0,02 persen secara bulanan.

Adapun secara tahunan, seluruh kota IHK di Jawa Tengah mengalami inflasi. Kota Tegal menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 2,30 persen, diikuti Surakarta 2,27 persen dan Cilacap 2,23 persen.

Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah dan TPID kabupaten/kota se-Jawa Tengah, lanjut Noor Nugroho, akan terus memperkuat koordinasi menjaga kestabilan harga dan kelancaran distribusi barang.

“Berbagai program pengendalian inflasi akan terus dilakukan untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi komoditas sehingga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen,” kata Noor Nugroho.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru