UNGARAN – Lebih dari 500 warga dari empat Rukun Warga (RW), di Susukan, Ungaran Timur, membanjiri Makam Argoloyo pada Minggu (1/2/2026) pagi. Mereka berkumpul bukan untuk sekadar ziarah, tetapi merajut kembali ikatan sosial yang mungkin renggang dalam rutinitas. Acara Sadranan yang dimulai pukul 06.30 WIB ini menjadi bukti nyata bahwa kearifan lokal masih hidup dan relevan.
Di bawah tema “Gema Wahyu Ilahi”, suasana khidmat langsung terasa. Rangkaian acara dibuka dengan sambutan dari berbagai pihak. Mulai dari Ketua Panitia Abdussalam Tri Murdopo, Ketua Makam Basori, hingga Lurah Susukan Suhartono, SE. Hadir pula memberikan dukungan, Anggota DPRD Kabupaten Semarang Mahfud Nofani, S.M., dan Kapolsek Ungaran Timur Iptu Djarot Hartono.
Puncak acara adalah tradisi kembul bujono atau makan bersama. Uniknya, setiap keluarga membawa sajian sendiri dari rumah untuk kemudian saling bertukar. Bagi Ketua Panitia, Abdussalam Tri Murdopo, ritual ini bukan sekadar urusan perut.
“Ini filosofi hidup kami. Dengan membawa dari rumah dan saling menukar, sekat kaya-miskin, tua-muda jadi hilang. Kita semua setara di hadapan Tuhan dan leluhur. Ini adalah sedekah kolektif yang bentuknya nyata, yaitu kebersamaan,” ujar Abdussalam pada PortalJateng.id.
Lantas, apa relevansi tradisi seperti ini di era yang serba digital dan individualistik seperti saat ini, Abdussalam menjawab tegas, bahwa tradisi Sadranan, khususnya jelang bulan Ramadan ini, adalah bentuk pembersihan diri kolektif. Ia adalah refleksi kematian dan sekaligus pengingat untuk terus bergotong royong.
Transparansi menjadi kunci agar tradisi tak sekadar seremonial. Abdussalam menjelaskan, semua sumbangan warga dari kotak infak akan dicatat rapi dalam buku kas. Penggunaannya untuk perawatan makam akan dilaporkan secara terbuka. Ini membangun kepercayaan yang menjadi pondasi kerukunan.
Dukungan pemerintah setempat pun tak main-main. Lurah Susukan, Suhartono, SE., menekankan bahwa kegiatan seperti ini adalah penjaga stabilitas sosial.
“Ini adalah aset budaya yang tak ternilai. Pemerintah kelurahan akan terus mendukung kegiatan yang mampu menyatukan warganya seperti Sadranan Argoloyo ini. Ini adalah contoh konkrit social capital yang kuat,” sambungnya.
Dari sudut pandang spiritual, KH. Moh Rohadi, B.A., yang memimpin tahlil, memberikan penekanan pada dimensi yang lebih dalam.
“Hakikatnya, ini adalah sekolah kehidupan. Mikul dhuwur mendhem jero, menghormati yang di atas (leluhur) dan mengubur yang jelek. Sadranan mengajarkan kita untuk menyambung yang putus, membersihkan hati, dan menyiapkan diri menyambut Ramadan dengan jiwa yang lapang,” paparnya.
Sementara itu antusiasme terlihat jelas di antara peserta. Seperti yang diungkapkan Renny Puspita, warga RW 09, yang hadir bersama keluarganya.
“Selain ziarah ke makam keluarga, bagi saya ini pengingat yang powerful. Di sini kita diingatkan bahwa akhir hidup semua sama. Yang kita bawa cuma amal. Acara seperti ini bikin saya bersyukur masih bisa bersilaturahmi dengan tetangga, ngobrol langsung, bukan lewat medsos,” cerita Renny.
Menariknya, Makam Argoloyo tidak memiliki legenda mistis tertentu. Kekuatan tradisi ini justru lahir dari kesepakatan murni warga. Inisiatif bottom-up dari RW 04, 06, 08, dan 09 inilah yang membuat acara yang ke-4 kalinya ini tetap autentik dan penuh makna.
Dalam gemerlap dunia modern yang kerap membuat orang sibuk dengan dunianya sendiri, Sadranan Makam Argoloyo menyuguhkan alternatif yang bijak. Ia adalah ruang jeda untuk bernapas bersama, mengingat hakikat, dan merajut kembali ikatan yang sempat longgar. Seperti harapan panitia, tradisi ini bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi untuk dihidupkan sebagai penyambung nyata antar generasi. Ia adalah bukti bahwa di tengah arus globalisasi, semangat guyub rukun dan kembul bujono tetap bisa menjadi penawar yang solutif.



