Portaljateng.id – Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mendesak peluncuran gerakan literasi anti-hoaks secara masif dengan melibatkan pemuda Jateng sebagai garda terdepan dalam melawan disinformasi di era kecerdasan buatan (AI).
Seruan ini disampaikan Heri di tengah maraknya konten manipulatif berbasis AI seperti deepfake, audio cloning dan berita palsu instan yang semakin sulit dibedakan dari fakta asli.
Menurut Heri Pudyatmoko, perkembangan teknologi AI telah mempercepat penyebaran hoaks dan disinformasi, terutama melalui media sosial dan grup percakapan.
Menurut data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, lebih dari 11.000 konten hoaks teridentifikasi sepanjang 2024, dengan peningkatan sekitar 20% dibanding tahun sebelumnya. Tren ini diprediksi semakin masif di 2026 karena kemudahan AI generatif.
Di Jawa Tengah sendiri, Diskominfo Provinsi rutin melaporkan hoaks terkait isu nasional dan lokal. Seperti hoaks bansos, ijazah palsu, serta informasi palsu mengatasnamakan pejabat daerah (misalnya hoaks terbaru 2 Februari 2026 tentang situs web palsu Dinas terkait).
“Pemuda Jateng, khususnya Gen Z yang melek teknologi, harus menjadi motor penggerak gerakan ini. Mereka bukan hanya pengguna, tapi juga penjaga kebenaran di ruang digital. Tanpa literasi anti-hoaks yang kuat, disinformasi bisa memicu polarisasi, konflik sosial, bahkan mengancam persatuan bangsa,” terang Heri.

Ia menekankan bahwa literasi digital tidak cukup hanya teknis. Melainkan harus mencakup etika, verifikasi fakta dan nilai budaya agar teknologi “memanusiakan manusia” bukan sebaliknya.
Heri mengusulkan kolaborasi antara DPRD Jateng, Pemprov melalui Diskominfo dan Dinas Pendidikan, sekolah/universitas, serta komunitas pemuda seperti Karang Taruna, HIPMI Muda dan organisasi kepemudaan lainnya.
Program bisa berupa workshop verifikasi informasi, kampanye “Cek Dulu Sebelum Share”, pelatihan deteksi deepfake dan integrasi literasi digital ke kurikulum sekolah serta kegiatan ekstrakurikuler.
“Kita punya kekuatan pemuda yang adaptif cepat dengan AI, tapi tanpa kesadaran kritis, mereka justru jadi korban atau penyebar hoaks. Gerakan ini harus masif, dari desa hingga kota, agar Jateng jadi provinsi contoh literasi digital nasional,” tambahnya.
Heri mengajak masyarakat untuk turut berperan aktif dalam membabat hoaks di internet. Heri menambahkan, pemuda Jateng harus mampu melek teknologi serta cerdas dan bertanggung jawab di era disinformasi AI.***



