Jumat, 16 Januari 2026
30 C
Semarang

Anomali Air Laut Luber ke Pelabuhan Tanjung Emas, Pengelola Kerahkan 64 Pompa

“Fokus kita mencegah air rob masuk lebih dalam ke area pelabuhan. Aktivitas bongkar muat tetap berjalan lancar"

Berita Terkait

SEMARANG – Pelabuhan Tanjung Emas Semarang kembali dihantam anomali tinggi air laut pada Jumat (9/1/2026). Air laut meluap masuk ke kolam retensi cluster 2 dan meluber ke area Lamicitra, memaksa pengelola melakukan respons darurat untuk mencegah gangguan operasional.

General Manager PT Pelabuhan Indonesia Cabang Tanjung Emas, S. Joko, menyatakan telah mengambil langkah cepat. “Kami telah menyiagakan sedikitnya 64 unit mesin pompa air dengan kapasitas 150 hingga 800 liter per detik yang tersebar di titik rawan,” jelasnya.

Tim teknis segera melakukan pengamanan dengan melokalisir penyebaran air menggunakan sand bag dan melakukan peninggian tanggul darurat setinggi 1,2 meter. “Fokus kita mencegah air rob masuk lebih dalam ke area pelabuhan. Aktivitas bongkar muat tetap berjalan lancar,” tambah Joko.

Kilas Balik: Kawasan yang Akrab dengan Genangan dan Tanggul Jebol

Ini bukan kejadian pertama. Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas memiliki catatan panjang sebagai daerah rawan banjir rob, tidak hanya karena faktor cuaca tetapi juga kondisi geografis Kota Semarang yang mengalami penurunan muka tanah (land subsidence).

Dalam dua tahun terakhir, setidaknya dua insiden signifikan tercatat:

· Mei 2025: Tembok pembatas laut (sea wall) jebol sepanjang 20-25 meter akibat tekanan air tinggi dan abrasi. Genangan mencapai 50 cm, mengganggu aktivitas dan menyebabkan puluhan warga mengungsi.
· Oktober 2025: Banjir rob kembali terjadi, diperparah hujan deras. Genangan mencapai 1 meter dan meningkatkan biaya logistik.

Insiden terparah terjadi pada Mei 2022, di mana tanggul jebol menyebabkan kelumpuhan industri dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter.

Menghadapi ancaman rutin ini, Pelindo mengaku terus melakukan inovasi dan mitigasi. Perusahaan berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Semarang untuk mendapatkan pembaruan cuaca dan prakiraan pasang surut yang akurat guna mengantisipasi kejadian serupa.

Langkah-langkah struktural seperti peninggian dan penguatan tanggul, serta penyiapan pompa dalam skala besar, menjadi bukti upaya adaptasi di kawasan yang secara alami rentan.

Kejadian ini mengingatkan bahwa tantangan di Pelabuhan Tanjung Emas bersifat sistemik dan berulang. Kombinasi anomali iklim, penurunan tanah, dan tekanan air laut menciptakan rumusan risiko yang kompleks.

Keberhasilan menangani genangan hari ini patut diapresiasi, namun tidak boleh menurunkan kewaspadaan. Investasi pada infrastruktur pertahanan pantai yang lebih kokoh dan rencana tata ruang yang adaptif menjadi keharusan, bukan sekadar opsi. Ancaman rob adalah keniscayaan di pesisir Semarang, kesiapan dan ketangguhan menghadapinyalah yang akan menentukan apakah pelabuhan ini hanya bisa bertahan, atau benar-benar bisa beroperasi dengan aman dan berkelanjutan di masa depan.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru