Rabu, 29 April 2026
31 C
Semarang

Kisah Pak Berkah: Bupati Pandai Kayal yang “Tak” Masuk Akal

Sebuah cara pandang berbeda dalam suatu tata kelola

Berita Terkait

Cerita Fiksi, PortalJateng.id – Pagi itu, sebelum azan Subuh bergema, pasar tradisional Pandai Kayal mulai hidup. Para pedagang sayur menata dagangan, ibu-ibu menggendong keranjang belanja, dan bapak-bapak duduk di warung kopi sambil menyeruput wedang jahe.

Tak ada yang menyangka, di antara kerumunan itu, duduk seorang lelaki paruh baya berjaket lusuh, memesan segelas kopi pahit. Ia ditemani seorang pemuda yang duduk di sampingnya, diam-diam mencatat sesuatu di buku kecil.

“Pak, tadi ibu itu bilang, pipa di desa sebelah udah mampet tiga minggu,” bisik pemuda itu. Lelaki berjaket lusuh itu hanya mengangguk. “Catat, Jon. Nanti siang kita cek langsung.”

Tak ada kamera. Tak ada rekaman. Tak ada rombongan berfoto ria. Hanya secangkir kopi, buku catatan, dan dua orang yang menyatu dengan rakyatnya.

Lelaki itu adalah Pak Berkah, Bupati Pandai Kayal. Dan pemuda di sampingnya adalah Jon, satu-satunya pengawal yang ia boncengkan di motor bututnya setiap hari.

Pak Berkah bukan bupati yang lahir dari mesin partai. Ia adalah produk demokrasi langsung yang lahir dari pilihan hati nurani rakyat. Dulu, sebelum mencalonkan diri, ia hanyalah seorang pensiunan guru yang suka blusukan ke desa-desa terpencil. Ketika warga mendesaknya maju, ia hanya tertawa.

“Lah, saya ini orang biasa, Bu. Rumah saya cuma kamar satu, ruang kerja, dapur, kamar mandi, teras kecil, ruang tamu, dan garasi muat satu mobil,” katanya saat itu.

“Justru itu, Pak!” jawab para warga serempak.

Dan ketika Pilkada usai, Pak Berkah menang telak. Bukan karena politik uang, tapi karena rakyat percaya, orang sederhana tidak akan korupsi, karena ia tahu betapa berharganya kesederhanaan itu.

Hari pertama menjabat, Sekda datang dengan proposal tebal. “Pak, ini anggaran renovasi rumah dinas bupati. Sesuai standar, kita alokasikan Rp 3,5 Miliar untuk perbaikan dan perlengkapan,” lapor Sekda.

Pak Berkah membuka proposal itu, membaca angka-angka, lalu menutupnya pelan. “Pak Sekda, saya punya rumah sendiri. Rumah saya sederhana, tapi cukup. Saya akan tinggal di sana selama menjabat. Rumah dinas ini… biarkan untuk rapat atau tempat istirahat kalau ada acara malam. Tapi saya tidak akan tidur di sana.

“Sekda terperanjat. “Tapi Pak, itu… sudah dianggarkan.”

“Ya sudah, anggarannya kita pangkas. Untuk apa Rp 3,5 M? Saya minta hitung ulang. Listrik, air, kebersihan, dan perawatan minimal. Saya perkirakan cukup dengan satu orang petugas kebersihan yang datang tiga kali seminggu, honor UMR standar. Sisanya, kembalikan ke rakyat. Buat perbaiki MCK warga atau bersihkan sungai.”

Sekda mengangguk, setengah tidak percaya. Ini pertama kalinya ia bertemu bupati yang justru menolak fasilitas mewah.

Setiap tanggal 1, Pak Berkah menerima slip gaji. Sebagai bupati, gaji pokoknya adalah Rp 2,1 juta per bulan, dengan tunjangan jabatan sekitar Rp 3,78 juta. Ada juga Biaya Penunjang Operasional yang besarnya bisa mencapai ratusan juta setiap bulan, tergantung Pendapatan Asli Daerah.

Tapi Pak Berkah punya cara sendiri.

Di awal kepemimpinan, ia memanggil Kepala Keuangan. “Pak, saya tahu BPO itu hak saya. Tapi saya hanya akan mengambil secukupnya untuk operasional blusukan, bensin motor, makan di warung, dan insentif untuk Jon yang kerja ekstra. Sisanya?

Biarkan di kas daerah. Atau kalau bisa, alokasikan untuk bantuan langsung ke desa-desa.

“Ia hanya mengambil sekitar 20 persen dari BPO minimal, itupun dikelola transparan, dicatat detail, dan selalu ada sisa yang dikembalikan ke kas daerah setiap akhir tahun.

Dari total penghasilan yang diambil, ia bagi, gaji pokok ditabung untuk jaga-jaga, tunjangan untuk biaya hidup keluarga, dan BPO untuk operasional kerja. Tidak pernah sekalipun ia berpikir untuk meminjam uang ke bank atau berhutang.

“Alhamdulillah, masih bisa nabung. Hidup tanpa hutang itu nikmat, Jon,” katanya suatu hari sambil mengisi bensin motornya sendiri.

Setiap Senin pagi, Pak Berkah keluar dari rumahnya yang sederhana. Di halaman, sudah terparkir motor bebek tahun 2015. Ia mengeluarkan helm kedua, melemparnya ke Jon.

“Ayo, bonceng. Hari ini kita ke desa paling ujung.”Jon, pengawal satu-satunya, adalah polisi muda yang ditugaskan mengawal bupati.

Awalnya ia kaget….

“Pak, saya ini pengawal. Saya harus di depan, mengamankan jalan.”

“Lho, emang jalanan mau diamankan dari apa, Jon? Dari warung kopi? Dari ibu-ibu jualan pisang goreng?

Naik saja boncengan, kita ngobrol. Kamu catat semua keluhan warga yang kita temui”.

Dan begitulah. Setiap hari, motor tua itu meliuk-liuk di jalan desa. Pak Berkah yang menyetir, Jon di belakang sambil memegang buku catatan dan sesekali menulis.

Tidak ada sirine. Tidak ada lampu rotator. Tidak ada rombongan mobil hitam. Hanya dua orang naik motor, mampir ke sawah, duduk di pos ronda, ngopi di warung pinggir jalan.

“Jon, catat, RT 5 butuh perbaikan talang air.”

“Jon, tadi ibu itu bilang, Puskesmas kekurangan perawat.”

“Jon, kamu lihat sendiri kan, jembatan ini sudah reot.”

Di malam hari, Jon mengetik catatannya menjadi laporan. Besoknya, disposisi turun ke dinas terkait. “Tolong segera ditindaklanjuti. Bukan untuk proyek besar, tapi untuk solusi nyata.”

Setiap awal bulan, Pak Berkah mengumpulkan seluruh staf dan kepala dinas. Bukan di ruang rapat mewah, tapi di halaman belakang pendopo, lesehan, makan tumpeng bersama.

Di sinilah ia memberikan “doktrin” yang terus diulang,

“Dengar baik-baik, anak-anak. Kalian digaji negara. Gajinya, kalau dihitung-hitung, cukup untuk hidup layak. Tunjangan kalian juga ada. Syukuri. Jangan pernah berpikir untuk menambah penghasilan dari proyek.

Jangan menjilat saya untuk dapat jabatan. Kerja yang baik, itu ibadah. Kalau ada sisa anggaran di akhir tahun, kembalikan. Kalau tidak ada, ya jangan dipaksakan ada.”

“Saya tidak butuh istana megah. Saya tidak butuh mobil baru tiap tahun. Kalau kalian lihat saya mulai hidup mewah, tegur saya. Tapi kalau saya tahu kalian korupsi, saya sendiri yang akan borgol kalian dan bawa ke KPK. Ingat, amanah rakyat itu berat. Jangan kau ringankan dengan keserakahan”.

Ruangan hening. Beberapa kepala dinas menunduk, terharu. Beberapa lainnya mungkin ciut, karena rencana busuknya urung dijalankan.

Tahun pertama kepemimpinan Pak Berkah, hal ajaib terjadi. Di akhir tahun anggaran, APBD Pandai Kayal memiliki sisa lebih sebesar Rp 45 miliar.

Biasanya, sisa anggaran seperti ini jadi rebutan. Dibidik untuk proyek dadakan, atau bahkan dikorupsi. Tapi Pak Berkah punya cara sendiri.

Ia mengumpulkan camat, lurah, dan kepala desa se-Kabupaten.

“Bapak-bapak, kita punya sisa Rp 45 M. Ini uang rakyat. Saya minta usulan dari desa masing-masing. Tapi ingat, bukan proyek mercusuar. Bukan pavingisasi yang tidak perlu.

Tapi hal-hal kecil yang langsung dirasakan warga.

Perbaikan MCK, talang air, bantuan modal usaha kecil, atau beasiswa anak tidak mampu. Dana desa kita tambah. Kalau ada yang korupsi, saya pastikan masuk bui.

“Usulan pun mengalir. Beberapa bulan kemudian, dampaknya terasa. Ibu-ibu tak perlu lagi antre ambil air di sungai. Anak-anak bisa sekolah dengan seragam baru. Warung-warung kecil modalnya bertambah.

Saat blusukan, seorang nenek tua memegang tangan Pak Berkah. “Nak, saya dengar bupati baru ini baik. Ternyata bapaknya sendiri yang datang ke sini.

Mampirlah, Nak, saya masakin singkong rebus.”Pak Berkah duduk di kursi bambu, makan singkong dengan lahap. Jon mencatat, “Nenek Sarni, 78 tahun, butuh perbaikan atap rumah.”

Jon, pengawal sekretaris dadakan itu, kini memiliki 12 buku catatan tebal. Semua berisi detail perjalanan Pak Berkah selama dua tahun menjabat.

Ada catatan tentang Pak Karto yang butuh bantuan kaki palsu.

Ada catatan tentang jembatan gantung yang nyaris roboh.

Ada catatan tentang sekolah dasar yang kekurangan guru.

Ada catatan tentang irigasi yang mampet, warung kopi yang bangkrut, pemuda yang butuh pelatihan kerja.

Setiap catatan, pasti ada tindak lanjutnya. Mungkin tidak semuanya cepat, tapi semuanya diproses.

Suatu hari, Jon bertanya, “Pak, kenapa Bapak tidak pakai kamera atau rekam-rekam setiap blusukan? Biar viral, biar dikenal orang?

“Pak Berkah tersenyum. “Jon, kalau saya rekam, orang akan bilang saya pencitraan. Tapi yang lebih penting, kalau ada kamera, warga akan jaim.

Mereka takut bicara. Padahal saya butuh mereka bicara apa adanya. Tanpa kamera, tanpa rekaman, mereka bebas. Saya dapat informasi murni. Kamu catat, itu cukup. Yang penting masalahnya selesai, bukan fotonya yang bagus.”

Di belakang rumah Pak Berkah yang sederhana, ada kebun kecil dengan gazebo bambu. Di sanalah ia biasa menghabiskan malam Minggu, sendirian atau kadang bersama istri.

Pandangan matanya kosong memandang langit. Bukan lelah, tapi berpikir.

“Ibu, kita ini cuma numpang, ya,” katanya pada istri.

“Maksud Bapak?”

“Jabatan ini. Kita cuma numpang lima tahun, mungkin sepuluh tahun. Setelah itu, kita kembali jadi warga biasa. Rumah ini tetap rumah kita. Motor ini tetap motor kita. Ga usah kaya-raya, ga usah hutang. Yang penting, pas turun nanti, orang masih mau sapa kita. Masih mau ajak ngopi.”

Istrinya hanya tersenyum, mengusap punggung suaminya. Ia tahu, lelaki ini memang lahir dari rahim kesederhanaan.

Di warung kopi pinggir pasar, obrolan warga tentang Pak Berkah selalu hangat.

“Bupati kita itu aneh, ya? Tapi aneh yang bener.”

“Maksudmu?”

“Ya, biasanya bupati sibuk potong pita, diundang ke mana-mana, dapat amplop. Ini malah sibuk ke desa-desa, duduk di warung, tanya-tanya soal pipa bocor.”

“Lah, emang bupati kerjanya apa menurutmu?”

“Ya… itu… potong pita, resepsi, rapat…”

“Bodoh kamu. Itu yang bupati kemarin-kemarin. Sekarang, baru ini bupati beneran. Kerjanya ya mengurus rakyat, bukan mengurus undangan.”

Semua tertawa. Tapi ada rasa bangga di hati mereka. Untuk pertama kalinya, mereka merasa punya pemimpin yang benar-benar hadir.

Lima tahun kemudian, Pilkada kembali digelar. Pak Berkah mencalonkan diri untuk periode kedua. Bukan karena ambisi, tapi karena rakyat memintanya.

“Satu periode lagi, Pak. Kami belum puas.”

Dan ia menang lagi, dengan selisih suara lebih telak.

Di hari pelantikan, ia tetap pakai kemeja putih lusuh yang sama. Motor tuanya masih terparkir di halaman. Jon, pengawalnya, kini sudah diangkat sebagai staf khusus, tapi tetap setia boncengan.

Saat dimintai keterangan pers, seorang wartawan bertanya,

“Pak Berkah, apa warisan yang ingin Bapak tinggalkan untuk Pandai Kayal?”

Pak Berkah berpikir sejenak, lalu tersenyum.

“Saya tidak ingin meninggalkan gedung megah atau jalan beraspal mulus. Saya hanya ingin meninggalkan satu hal, keyakinan bahwa pemimpin itu bisa hidup sederhana, dekat dengan rakyat, dan tetap bekerja maksimal. Kalau rakyat percaya itu, maka setelah saya pun, mereka akan pilih pemimpin seperti itu lagi. Itu warisan yang sebenarnya.”

Wartawan itu terdiam. Lalu mencatat sesuatu di buku kecilnya.

Persis seperti yang selalu dilakukan Jon.

Malam itu, di gazebo kecil belakang rumah, Pak Berkah duduk sendiri. Ia memandang bintang-bintang. Di tangannya, secangkir teh hangat. Di kejauhan, suara azan Isya bergema.

“Ya Allah, aku hanya hamba-Mu yang lemah. Jangan biarkan aku tergoda. Jaga hati ini tetap bersih. Karena rakyat sudah percaya padaku. Dan percaya itu… mahal harganya.”

Istri keluar membawa selimut tipis.

“Pak, masuk. Malam sudah dingin.”

“Iya, Bu. Sebentar lagi. Aku lagi ngobrol sama Allah.”

Istrinya tersenyum, duduk di sampingnya. Mereka berdua diam, menikmati malam, menikmati kesederhanaan yang mungkin tidak dipahami banyak orang.

Tapi di desa-desa, di warung-warung kopi, di sawah-sawah, orang-orang tahu, ada satu bupati yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Bupati Pandai Kayal. Bupati naik motor. Bupati yang bonceng pengawalnya sendiri. Bupati yang tidak pernah minta difoto, tapi selalu minta dicatat.

Dan catatan itu, kelak, akan menjadi sejarah.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru