Selasa, 16 Juni 2026
34.2 C
Semarang

Catatan Redaksi: Menjadi Hasanah di Dunia yang Serba Bahlil

Di Tahun Baru Islam, Siapa yang Dominan dalam Diri Kita: Bahlil atau Hasanah?

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Kita baru saja mengganti lembaran kalender. Muharram tiba, tahun baru Islam menyapa.

Tapi di luar sana, manusia tetap sibuk dengan kegaduhan yang sama. Yang satu sibuk pamer pencapaian. Yang lain sibuk mengeluh ketidakadilan. Dan yang lainnya lagi sibuk mencari siapa yang paling salah.

Di tengah keramaian itu, saya membayangkan dua sosok, Bahlil dan Hasanah.

Mereka bukan tokoh nyata. Tapi saya yakin kita pernah bertemu dengan keduanya. Bahkan mungkin, kita sendiri adalah salah satunya.

Bahlil: Manusia yang Selalu Merasa Kurang

Bahlil adalah tipe manusia yang selalu merasa kurang. Ia sibuk membandingkan.

Tetangga punya motor baru, ia iri. Teman dapat promosi, ia cemburu. Rezeki orang lain selalu terlihat lebih besar. Sedangkan rezekinya sendiri selalu terasa kurang.

Ia lupa bahwa yang ia miliki sebenarnya masih cukup. Asal tidak terus-menerus dibandingkan dengan milik orang lain.

Bahlil juga suka mengeluh. Hujan deras ia keluhkan karena banjir. Panas terik ia keluhkan karena gerah.

Kehidupan selalu bersalah padanya. Padahal ia sendiri tidak pernah berhenti sejenak untuk bersyukur.

Bahlil tidak jahat. Ia hanya lelah, lelah mengejar, lelah membandingkan, lelah merasa tidak cukup.

Ia tidak sadar bahwa kelelahan itu bukan berasal dari luar. Tapi dari dalam dirinya sendiri.

Hasanah: Kucing Kampung yang Tenang

Lalu ada Hasanah. Kucing kampung yang kurus, bulu kusut, tidak punya rumah, tidak punya jaminan hidup esok hari.

Tapi matanya tenang. Ia tidak pernah menuntut.

Ia datang, duduk diam, menatap, lalu pergi. Tidak pernah mengeluh. Tidak pernah membandingkan.

Ia hadir tanpa beban. Ia pergi tanpa meninggalkan luka.

Ia tidak lebih pintar dari Bahlil. Tapi ia lebih tahu cara cukup.

Di Tahun Baru, Siapa yang Kita Pilih?

Di tahun baru Islam ini, saya ingin mengajak kita, termasuk diri saya sendiri, untuk bertanya,

“Siapa yang selama ini lebih dominan dalam diri kita, Bahlil atau Hasanah?”

Saya tidak bermaksud menggurui. Saya juga bukan orang yang paling bijak.

Tapi saya percaya, setiap dari kita pernah menjadi Bahlil. Pernah iri. Pernah mengeluh. Pernah merasa tidak adil.

Dan di sisi lain, kita juga pernah menjadi Hasanah. Pernah diam, pernah menerima, pernah hadir tanpa pamrih.

Pertanyaannya, siapa yang lebih sering kita pilih?

Pergantian Tahun Hanya Formalitas Jika Jiwa Tak Berubah

Kita sedang berada di awal tahun baru. Tapi kalau hanya angka yang berganti, sementara jiwa kita masih sama, masih penuh iri, masih sibuk mengeluh, masih lupa bersyukur, maka pergantian tahun itu hanya formalitas belaka.

Di sinilah saya melihat relevansinya dengan kondisi bangsa kita.

Masyarakat kita sedang sibuk dengan urusan yang tidak penting. Ribut di media sosial. Saling serang di kolom komentar. Berebut pengakuan tanpa pernah benar-benar berbuat.

Mereka seperti Bahlil yang merasa paling benar, paling sial, paling berhak marah.

Padahal, di luar sana, ada ribuan Hasanah yang diam-diam berbagi, diam-diam memberi, dan diam-diam menyembuhkan tanpa perlu disebut-sebut.

Jika setiap dari kita, di tahun baru ini, memilih sedikit lebih banyak menjadi Hasanah daripada Bahlil, maka perubahan besar tidak perlu ditunggu dari pemerintah atau tokoh masyarakat.

Perubahan itu akan dimulai dari diri kita sendiri.

Menjadi Hasanah Bukan Berarti Pasrah

Tapi tunggu dulu. Jangan salah paham.

Menjadi Hasanah bukan berarti pasrah dan tidak pernah berusaha. Bukan berarti menerima ketidakadilan dengan diam.

Menjadi Hasanah adalah tentang bagaimana kita hadir.

Kita bisa berjuang, tapi tanpa menyakiti. Kita bisa berbeda pendapat, tapi tanpa menghakimi. Kita bisa menginginkan lebih, tapi tanpa merendahkan yang lain.

Hasanah mengajarkan bahwa kehadiran tanpa pamrih, entah dalam bentuk senyum, bantuan kecil, atau sekadar mendengarkan dengan tulus – adalah kekuatan yang sering diremehkan.

Ia tidak berisik. Ia tidak instagramable. Tapi ia meresap. Dan karena meresap, ia mengendap di hati.

Belajar dari Hasanah

Kita tidak harus menjadi kucing. Tapi kita bisa belajar dari Hasanah, untuk lebih sedikit mengeluh, lebih sedikit membandingkan, dan lebih sering memberi tanpa syarat.

Di akhir tahun lalu, mungkin kita sudah cukup banyak mengeluh. Sudah cukup banyak membandingkan diri dengan orang lain. Sudah cukup banyak merasa tidak adil.

Tahun ini, mari kita coba cara lain: hadir, diam, dan memberi tanpa berharap balasan.

Jangan jadi Bahlil yang sibuk mengeluh, lalu lupa bahwa ia sendiri punya banyak hal untuk disyukuri.

Jadilah Hasanah. Kehadiran yang tidak berisik. Tapi terasa hangat.

Catatan Redaksi
Dari sudut yang tidak berpretensi paling benar.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru