Jumat, 26 Juni 2026
32.3 C
Semarang

Sadranan di Makam Ki Mandung Gunung Kalong: Ziarah, Tradisi Tanpa Tempe, dan Toleransi dengan Vihara

Ribuan Warga Susukan Ngalap Berkah, Hidup Rukun dengan Vihara Avalokittesvara

Berita Terkait

UNGARAN, PortalJateng.id – Ribuan warga Kelurahan Susukan memadati kompleks makam Ki Mandung dan Nyi Mandung di Gunung Kalong, Jumat Wage (26/6/2026). Mereka datang bukan untuk berduka. Mereka datang untuk bersyukur, bersilaturahmi, dan ngalap berkah.

Sadranan atau merti desa ini berlangsung sejak pukul 06.30 WIB. Warga membawa bungkusan berisi nasi, buah-buahan, dan jajanan pasar. Mereka duduk lesehan di atas tikar, karpet, bahkan bekas koran. Berhadap-hadapan, berbagi cerita, berbagi makanan.

Uniknya, makam ini persis bersebelahan dengan Vihara Avalokittesvara, Yayasan Sri Kukus Redjo, Gunung Kalong. Dua tempat ibadah dari agama berbeda berdiri berdampingan. Bukan saling menjauh, tapi saling mendukung.

Sejarah Ki Mandung dan Nyi Mandung

Ribuan warga berziarah dan berbagi makanan.

Ketua Pengurus Harian Makam Ki Mandung-Nyi Mandung, Moslem, menceritakan sejarah leluhur mereka.

“Ki Mandung dan Nyi Mandung ini, dulunya mengikuti perjalanan Bupati Semarang Pandanaran dari Kauman menuju Bayat, Klaten. Ceritanya dalam perjalanan sampai daerah Susukan ini dibegal, kemudian memutuskan tidak melanjutkan perjalanan menuju Bayat dan melakukan syiar agama Islam di sini,” kata Moslem.

Sadranan ini dilangsungkan setahun sekali, pada bulan Sura. Tepatnya hari Jumat Wage atau Jumat Kliwon.

“Jumat Wage merupakan hari pasaran meninggalnya Ki Mandung, sedangkan Jumat Kliwon merupakan hari pasaran meninggalnya Nyi Mandung,” jelas Moslem.

Tradisi Tanpa Tempe

Ada keunikan dalam sadranan ini, yaitu warga tidak boleh membawa tempe.

“Ceritanya dulu Ki Mandung melihat seorang yang sedang menstruasi membuat tempe. Ki Mandung tidak suka dengan tempe,” tutur Moslem.

Yang harus disediakan, ingkung, kambing, dan bubur Sura. Tahun ini, mereka menyembelih dua ekor kambing, satu untuk sadranan dan satunya untuk wayangan.

Hidup Rukun dengan Vihara

Ribuan warga berziarah dan berbagi makanan, di dekat Vihara Avalokittesvara

Keberadaan makam yang berdekatan dengan vihara tidak menjadi masalah. Bahkan, mereka saling hidup rukun.

“Kami saling bantu-membantu. Listrik yang mengaliri sini dan karpet yang kami pakai dari Vihara. Pokoknya saling bantu-membantu dan hidup rukun,” kata Moslem.

Vihara Avalokittesvara diperkirakan berdiri sekitar tahun 1960-an. Makam lebih dulu ada. Tapi keduanya hidup berdampingan dalam harmoni.

Ajang Silaturahmi Warga

Ribuan Warga Susukan Ngalap Berkah, Hidup Rukun

Lurah Susukan, Suhartono, mengatakan sadranan ini diikuti oleh seluruh warga Susukan.

“Ini dilakukan setiap setahun sekali. Acara ini bisa jadi ajang silaturahmi antar warga,” ujar Suhartono.

Ia berharap tradisi ini terus lestari. Bukan hanya sebagai ritual tahunan, tapi sebagai pengikat persaudaraan.

“Kami ingin generasi muda juga ikut merasakan bahwa kebersamaan ini penting. Sadranan bukan hanya tentang ziarah, tapi tentang menjaga tali silaturahmi yang sudah dibangun oleh para leluhur,” tambah Suhartono.

Ngalap Berkah

Salah seorang warga Ngemplak Susukan, Mbah Sugeng (67) , mengaku setiap tahun mengikuti sadranan.

“Harapan kami biar rezeki terus mengalir. Kami pun libur meladang untuk ikut sadranan ini,” tuturnya.

Menurutnya, tahun ini warga mulai berhemat. Dulu, satu orang bisa membawa makanan super banyak dan semua dibagi serta dimakan bersama.

“Mungkin jamanya sudah lain, namun suasana tradisi itu masih kental terjaga,” ujar Mbah Sugeng.

Doa bersama dilakukan dalam suasana khusyuk. Setelah itu, warga menikmati makanan yang dibawa dari rumah secara bersama-sama. Berbaur, saling mencicipi, saling berbagi.

Makna di Balik Ziarah

Sadranan Makam Ki Mandung Gunung Kalong

Makam di lereng bukit yang teduh itu tidak sunyi. Ratusan orang berkumpul dalam keramaian yang tertib. Pohon -pohon rindang dan tanaman hias memberi kesan bahwa alam ikut menyambut para peziarah.

Cahaya matahari yang menembus dedaunan menciptakan atmosfer yang terang dan sejuk. Mengingat orang yang telah tiada bukanlah tentang kesedihan abadi. Melainkan tentang ketenangan jiwa.

Nilai kekeluargaan dan gotong royong bersinar paling terang. Anak -anak bermain di sela makam. Remaja asyik dengan dunianya namun tetap hadir bersama orang tua. Para lansia menjadi pusat perhatian.

Ini adalah reuni akbar yang dipicu oleh rasa hormat kepada leluhur. Tali persaudaraan yang mungkin renggang karena kesibukan sehari-hari, kembali erat di bawah naungan pohon-pohon pemakaman.

Tradisi dan Modernitas Berjalan Beriringan

Ribuan warga berziarah dan berbagi makanan.

Di satu sisi, warga menikmati udara segar perbukitan. Duduk di atas rumput dan merasakan tekstur tanah.

Di sisi lain, ponsel pintar tetap menjadi bagian tak terpisahkan. Digunakan untuk mengabadikan momen, berkomunikasi, atau sekadar mengisi waktu jeda.

Tradisi tidak harus menolak modernitas. Keduanya bisa berjalan beriringan. Anak muda tetap bisa menghormati leluhur sambil tetap terhubung dengan dunia digital mereka.

Rangkaian Kegiatan

Sadranan ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan Kelurahan Susukan:

  1. Sadranan Makam Kyai Mandung — Jumat, 26 Juni 2026, pukul 06.30 WIB
  2. Hiburan Tarling — Jumat, 26 Juni 2026, pukul 19.30 WIB di area parkir Gunung Kalong
  3. Pagelaran Wayang Kulit — Sabtu, 27 Juni 2026, di area parkir Gunung Kalong

Sadranan mengajarkan kita bahwa kematian bukanlah akhir segalanya. Ia adalah pintu menuju kesadaran, bahwa kita adalah bagian dari rantai panjang yang tak terputus.

Ki Mandung dan Nyi Mandung telah tiada ratusan tahun lalu. Tapi namanya tetap hidup dalam doa, dalam tradisi, dan dalam kebersamaan warga Susukan.

Vihara dan makam berdampingan. Islam dan Buddha hidup rukun. Listrik dari vihara mengalir ke makam. Karpet dari vihara dipakai warga untuk duduk.

Ini adalah wajah Indonesia yang sebenarnya, ramah, religius, mencintai alam, dan tak pernah lupa dari mana ia berasal.

Ziarah kubur, dalam konteks ini, bukan lagi tentang ketakutan akan akhir hayat. Melainkan tentang merayakan keberadaan, keberadaan leluhur yang jasmaninya telah tiada namun rohnya selalu hadir dalam doa, keberadaan keluarga yang saling mendukung, dan keberadaan diri sendiri yang terus tumbuh di atas warisan nilai-nilai luhur.

Selamat sadranan, warga Susukan. Semoga tradisi ini terus lestari. Semoga rezeki terus mengalir. Dan semoga kita semua selalu ingat dari mana kita berasal, untuk lebih tahu ke mana kita akan melangkah.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru