UNGARAN TIMUR, PortalJateng.id – Senin malam (06/07/2026), Mushola An-Nur tidak seperti biasanya. Lampu-lampu di teras menyala terang. Karpet digelar rapi memanjang ke dalam. Suara takbir dan shalawat terdengar bergantian, membawa suasana yang berbeda dari rutinitas malam Selasa.
Di tengah ruangan, puluhan anak duduk dengan rapi, menekan lutut masing-masing, seolah mereka sedang menunggu hadiah terbesar dalam hidup mereka.
Mereka adalah anak-anak yatim dan piatu dari lingkungan RT 06 RW 08 Sitalang, Susukan, Ungaran Timur. Pada malam itu, mereka bukan sekadar penerima santunan. Mereka adalah alasan mengapa puluhan warga rela menyisihkan penghasilan, mengorbankan waktu istirahat, dan saling bahu-membahu demi satu tujuan, yaitu berbagi dengan tulus.
Kegiatan bertajuk “Santunan Anak Yatim dan Piatu, Indahnya Berbagi Mulianya Menyantuni” ini berlangsung dari pukul 19.30 hingga 21.30 WIB. Total dana terkumpul mencapai Rp5.700.000, sebuah angka yang cukup besar, tapi bagi panitia, nilainya tak sebanding dengan senyum yang mereka lihat malam itu.
Mata yang Berbicara Lebih Keras dari Kata

Ketua Panitia, Aris Prastyo, mengaku tidak bisa menahan haru saat momen pembagian tiba. Ia melihat satu per satu anak maju ke depan. Ada yang menunduk malu, ada yang tersenyum lebar, ada pula yang matanya berkaca-kaca.
“Sorot mata mereka yang polos memancarkan binar kebahagiaan yang tulus,” kenang Aris.
Ia bercerita, beberapa anak bahkan spontan mencium tangan para panitia setelah menerima amplop. Langkah kecil yang dilakukan dengan sangat takzim itu, membuat semua orang yang hadir tersentuh.
“Bagi kami, ekspresi kegembiraan dan rasa syukur yang terpancar dari wajah-wajah suci mereka itu nilainya jauh lebih besar dan tidak bisa diukur dengan materi berbentuk uang,” ujarnya dengan suara lirih.
Salah satu momen yang paling dikenang adalah bagaimana anak-anak memperlakukan amplop yang mereka terima. Ada yang menggenggamnya sangat erat, seolah isinya bukan sekadar uang, tapi secercah harapan. Ada yang langsung menyerahkan ke ibunya dengan penuh kebanggaan. Ada pula yang memilih menyimpannya sendiri, seolah ingin merasakan sendiri bahwa malam itu, mereka diperhatikan.
Gotong Royong di Tengah Keterbatasan

Mengumpulkan Rp5,7 juta dalam waktu singkat bukan perkara mudah. Aris mengakui, ada keraguan di awal. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang masih belum sepenuhnya pulih.
“Kami kadang sempat ragu apakah target bisa tercapai. Tapi kami yakin dengan transparansi dan komunikasi yang intens, warga akan merespons,” jelasnya.
Mereka menggunakan grup WhatsApp sebagai pusat koordinasi. Selain itu, dengan kesigapan Sekretaris, Paul Hendrik juga menerapkan sistem jemput bola, mendatangi para donatur satu per satu. Hasilnya, keraguan itu perlahan terkikis.
Respons warga pun luar biasa. Bahkan mereka yang ekonominya pas-pasan tetap bersikeras ikut menyumbang. Ada ibu-ibu yang datang membawa camilan buatan sendiri, tanpa mau dibayar, hanya karena ingin ikut berbagi.
“Solidaritas lingkungan RT, jemaah Mushalla An-Nur, dan juga warga sekitar, seperti Kuncen Kepodang, Sitalang RT 05, jamaah Masjid Bunpolo, benar-benar solid,” kata Aris dengan nada bangga.
Baginya, malam itu bukan hanya tentang uang yang terkumpul. Melainkan tentang bagaimana sebuah lingkungan kecil bisa bergerak bersama, tanpa pamrih, tanpa paksaan.
Dari Santunan untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Acara yang digelar setahun sekali di bulan Muharram ini memang bersifat seremonial. Tapi bukan berarti kepedulian berhenti di situ.
Ketua RW 08, Abdussalam Tri Murdopo, dalam sambutanya menyampaikan harapan besar.
“Kegiatan seperti ini sangat bagus untuk memberikan semangat kepada anak-anak yatim agar tidak minder dan merasa diperhatikan. Ini adalah tanggung jawab kita semua sebagai umat Muslim,” ujarnya.
Warga RT 06, Bapak Parno, juga turut angkat bicara. Ia menilai acara ini memberi pesan yang kuat bagi anak-anak bahwa mereka tidak sendiri.
“Ya, itu tanggung jawab kita semua. Dengan diacarakan seperti ini, mereka jadi lebih percaya diri dan merasa diperhatikan,” katanya.
Meski belum ada program lanjutan yang terstruktur, Mushalla An-Nur tetap aktif dengan berbagai kegiatan rutin. Mulai dari pengajian kitab Riyadus Sholihin setiap malam Selasa, hingga peringatan hari besar Islam seperti Maulud Nabi.
“Kami akan tetap mempertahankan santunan ini setiap tahun,” pungkas Aris.
Berbagi yang Mengalir, Bukan Sekadar Seremonial
Malam itu, ruang mushola menjadi saksi bisu dari sebuah perjalanan kecil yang sarat makna. Doa dipanjatkan bersama. Air mata haru jatuh tanpa suara. Amplop demi amplop diserahkan, bukan sebagai sedekah semata, melainkan sebagai pengingat bahwa kebersamaan adalah warisan yang tak pernah habis.
Panitia menutup acara dengan doa dan ucapan terima kasih.
“Alhamdulillah, uang santunan terkumpul sebesar Rp5.700.000. Bantuan yang Anda berikan sangat berarti bagi mereka dan telah kami salurkan dengan amanah. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan Bapak/Ibu dengan berkah yang melimpah, kesehatan, serta kelancaran dalam segala urusan,” tutup mereka dengan suara yang serempak dan penuh keyakinan.
Santunan mungkin sudah usai. Tapi kesan yang ditinggalkan malam itu, tatapan mata anak-anak, eratnya genggaman tangan kecil pada amplop, dan hangatnya pelukan warga, akan terus hidup. Bukan di dalam laporan panitia. Tapi di dalam hati yang pernah diberi kesempatan untuk berbagi.
Karena pada akhirnya, kebaikan sejati tidak pernah berhenti pada acara. Ia terus mengalir, dari satu hati ke hati lainnya, sampai ia menjadi cahaya bagi mereka yang membutuhkan.



