JAKARTA, PortalJateng.id – Stasiun Jakarta Kota (Beos Lama) menyimpan lebih dari sekadar rel dan peron. Di balik dinding art deco-nya, ada jejak peradaban yang terbentang hampir seabad.
Komisaris Utama PT Kereta Api Pariwisata (KAI Wisata), Ibu Suria Ati Kusumah, melakukan kunjungan kerja ke stasiun bersejarah ini pada Jumat (3/7/2026). Langkah ini menjadi awal dari upaya melestarikan, membangkitkan kembali, dan memperkenalkan nilai sejarah stasiun-stasiun tua di Jakarta.
Kunjungan ini difokuskan pada potensi Stasiun Jakarta Kota dengan tema “Awal Perjalanan Batavia Modern”. Stasiun ini menjadi gerbang utama Batavia pada masa Hindia Belanda dan menjadi saksi lahirnya sistem transportasi modern di Indonesia.
Arsitektur Art Deco dan Sejarah yang Terekam
Stasiun yang kita kenal sekarang ini diresmikan pada 8 Oktober 1929 . Dirancang oleh arsitek Belanda, Frans Johan Louwrens Ghijsels, dengan gaya Art Deco yang masih sangat terjaga . Stasiun ini menghadirkan inovasi teknik pada zamannya berupa atap bentang lebar tanpa banyak tiang penyangga, ciri khas yang membuatnya tetap megah hingga kini.
Nama BEOS sendiri berasal dari Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij, perusahaan kereta api swasta pada masa Hindia Belanda yang mengelola jalur kereta api timur Batavia. Versi lain menyebut BEOS sebagai singkatan dari Batavia en Omstreken Spoorwegen (Batavia dan Sekitarnya).
Dari Batavia Zuid ke Jakarta Kota
Sebelum menjadi Stasiun Jakarta Kota, terdapat stasiun lama bernama Batavia Zuid (Batavia Selatan) yang dibangun sekitar tahun 1870-an. Pada tahun 1926, stasiun itu ditutup dan direnovasi menjadi bangunan yang kini kita lihat.
Pada masa kolonial, hampir seluruh pejabat, pedagang, dan wisatawan yang datang dengan kereta memasuki Batavia melalui BEOS. Stasiun ini menjadi “wajah pertama” ibu kota, sekaligus simpul utama yang menghubungkan Batavia dengan Bandung, Semarang, Surabaya, hingga Merak.
Saksi Perjuangan dan Ikon Kota Tua
Setelah Proklamasi 1945, stasiun ini menjadi bagian penting dalam pengambilalihan aset perkeretaapian dari Jepang oleh para pegawai kereta Indonesia. BEOS turut menjadi saksi perjuangan kemerdekaan bangsa.
Lokasinya yang berhadapan langsung dengan kawasan Kota Tua menjadikan BEOS sebagai pintu gerbang wisata sejarah. Stasiun ini menghubungkan elemen perkeretaapian dengan kawasan cagar budaya di sekitarnya.
“BEOS bukan sekadar stasiun, tetapi gerbang yang menyambut jutaan perjalanan selama hampir satu abad, mulai dari pedagang di masa kolonial, pejuang kemerdekaan, para perantau, hingga komuter Jakarta masa kini,” ujar Suria Ati Kusumah.
Lima Stasiun Bersejarah yang Akan Diangkat
Ibu Suria Ati menyatakan bahwa KAI Wisata akan mengangkat 5 stasiun bersejarah di Jakarta dalam tema besar “Perjalanan Bersejarah dari Ibukota Kolonial di Jalur Keemasan Hindia Belanda”.
Empat stasiun lain yang termasuk dalam inisiatif ini:
- Stasiun Tanjung Priok — “Gerbang Perdagangan Dunia”
- Stasiun Manggarai — “Jantung Operasi Perkeretaapian”
- Stasiun Jatinegara — “Gerbang Menuju Pulau Jawa”
- Stasiun Bogor — “Menuju Buitenzorg, Kota Peristirahatan”
Kelima stasiun ini dipilih karena memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan peran strategis yang khas dalam membentuk lanskap perkeretaapian ibu kota.
“Melalui inisiatif ini, kami ingin menjadikan stasiun-stasiun bersejarah bukan hanya sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai pusat sejarah dan destinasi wisata heritage yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” tambah Suria Ati Kusumah.
Kunjungan ini menjadi langkah konkret KAI Wisata dalam melestarikan warisan perkeretaapian sekaligus mendukung pengembangan pariwisata berbasis sejarah di Jakarta dan sekitarnya.
Stasiun Jakarta Kota berdiri sejak 1929. Hampir satu abad ia menjadi saksi bisu perjalanan bangsa, dari derap sepatu kolonial, hingga langkah kaki komuter masa kini.
Arsitektur Art Deco-nya masih utuh. Dinding cokelat bertekstur kasar, lantai keramik, dan atap melengkung yang menjulang tetap memancarkan keanggunan.
KAI Wisata ingin menghidupkan kembali stasiun ini. Bukan hanya sebagai tempat transit, tetapi sebagai pusat sejarah yang bisa dikunjungi, dipelajari, dan dirasakan oleh generasi muda.
Lima stasiun akan diangkat dalam satu narasi besar: “Perjalanan Bersejarah dari Ibukota Kolonial di Jalur Keemasan Hindia Belanda.” Jakarta Kota, Tanjung Priok, Manggarai, Jatinegara, dan Bogor. Masing-masing menyimpan kisah yang berbeda, tapi saling terhubung oleh rel yang sama.
Semoga langkah ini membawa manfaat: bahwa stasiun-stasiun tua tidak hanya dikenang, tetapi juga dirawat dan dihidupkan kembali. Karena sejarah bukanlah beban. Ia adalah cermin yang mengajarkan kita dari mana kita berasal, agar tahu ke mana kita melangkah.



