Rabu, 11 Februari 2026
24 C
Semarang

Tata Kelola Secara Modern hingga Orientasi Pasar Dinilai Jadi Kunci Keberhasilan Kopdes Merah Putih

Berita Terkait


Semarang
 – Keberhasilan Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih perlu ditopang sejumlah faktor. Mulai dari tata kelola, sumber daya manusia, manajemen, hingga visi pengurus. 

Demikian  benang merah yang mengemuka dalam diskusi Semarang Trending Topic bertema “Mampukah Koperasi Desa Merah Putih Mengangkat Potensi Ekonomi Lokal? Yang diselenggarakan Radio Idola Semarang, di Hotel Rooms Inc Jl Pemuda Semarang, Rabu 23 Juli 2025.

Hadir sebagai narasumber: Dwi Silo Raharjo (Kepala Balai Pelatihan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah (Balatkop UKM) Provinsi Jawa Tengah),  Bayu Bagas Hapsoro SE, MM  (Pengamat Ekonomi UNNES),  Andang Wahyu Triyanto (Ketua Dewan Koperasi Indonesia Daerah Jawa Tengah), dan Setio Budi  (Ketua Koperasi Desa Merah Putih Desa pakopen, Bandungan). Acara dipandu host Dony Asyhar (penyiar Radio Idola Semarang)

Menurut Dwi Silo Raharjo, di  Provinsi Jawa Tengah terdapat 8.523 Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih. Dari jumlah itu, 11 koperasi di antaranya menjadi pilot project yang sudah aktif beroperasi dan diresmikan Presiden Prabowo Subianto, Senin (21/7) lalu.  

“Dari 8 ribuan Kopdes Merah Putih di Jateng, sebagian sudah memiliki berbagai gerai untuk memenuhi kebutuhan warga. Mulai dari gerai pupuk/sarana pertanian, kantor pos/logistik, sembako, simpan pinjam, klinik desa, dan apotek desa,” kata  Dwi Silo Raharjo. 

Adanya, kopdes Merah Putih, diharapkan dapat mengatasi persoalan. Mulai dari rantai distribusi panjang kebutuhan pokok, keterbatasan modal usaha, hingga fluktuasi harga. “Rantai distribusi kebutuhan pokok selama terlalu panjang. Misal, untuk kebutuhan bibit, benih, hingga pupuk,” ujarnya. 

Ditanya mengenai apakah Koperasi Desa Merah Putih mampu mengangkat potensi ekonomi lokal? Dwi Silo menjawab, optimistis bisa. Bahkan, ia yakni. “Tentu yakin bisa. Karena KDMP (koperasi desa merah putih-Red) tak hanya Menteri Koperasi dan UKM yang ditugasi. Tercatat, ada 14 kementerian yang juga ikut gabung untuk mengeroyok program ini agar sukses,” ujarnya.  

Koperasi Harus Dikelola Secara Modern

Sementara itu, Andang Wahyu Triyanto, menuturkan agar berhasil dan mampu mengangkat ekonomi desa, Kopdes Merah Putih harus dikelola secara modern. Manajemen harus bagus. SDM yang mengelola harus kapabel. 

“Kalau ingin Kopdes Merah Putih berkelanjutan, maka harus ada reorganisasi berkesinambungan,”ujar Andang yang juga anggota DPRD Jawa Tengah ini. 

Menurut Andang, Kopdes Merah Putih akan mampu angkat potensi ekonomi lokal dengan syarat: pengurus Kopdes miliki: sense of business, mau belajar, dan pengurus jeli melihat potensi lokal. 

“Kami akan bergerak di masing-masing wilayah sesuai peran kami. Untuk menyukeskan program Presiden ini,” tuturnya. 

Orientasi Pasar Kopdes Merah Putih Berbasis Based on Riset

Pengamat Ekonomi UNNES, Bayu Bagas Hapsoro menambahkan, Kopdes Merah Putih hampir semua fokus pada, “bagaimana memproduksi?” Tetapi, yang lebih penting “siapa yang membeli?

“Soal pasar ini penting. Saya berharap, dalam pengembangan Kopdes, orientasi para pengelola pada market. Dan perlu diperhatikan, pasar sekarang  beda dengan lima  tahun lalu,” ujarnya.

Terkait pasar, Bayu menyarankan, agar Kopdes Merah Putih tak tanggung-tanggung dalam memilih pasar agar kompetitif. “Saran saya pada pengurus Kopdes Merah Putih, “Main atas sekalian, atau murah sekalian,” ujarnya.

Terkait orientasi pasar, lanjut Bayu, para pengelola Kopdes Merah Putih dapat belajar pada pengelolaan koperasi yang sudah berhasil. “Best practice dari koperasi dunia. Semua berbasis pada riset. Based on riset. Koperasi di Spanyol produk juga diriset. Bukan berdasarkan keingianan atau selera pengurus,” ujarnya. 

Selain itu, menurut Bayu, kopdes merah putih akan mampu mengangkat potensi lokal jika pengurusnya memiliki sistem kepengelolaan yang baik, menerapkan sistem merit (meritokrasi), dan pengurusnya memiliki kapabilitas dan integritas.

“Dengan kepengelolaan yang profesional, koperasi akan mendapatkan trust dari masyarakat. Jika sudah mendapatkan trust, jangankan potensi lokal, potensi global, hingga sebagai soko guru perekonomian di Indonesia, bisa didapat dari koperasi,” tuturnya.

Sementara, Setio Budi, Ketua Koperasi Desa Merah Putih Desa Pakopen Bandungan, mengatakan, koperasinya sudah aktif berjalan dengan potensi usaha sayur-mayur di Desa Pakopen Bandungan. Strategi saat ini, pengurus sedang  mencarikan market dengan harapan dapat memperoleh nilai jual yang lebih bagus. 

“Selama ini petani hanya jualan di pasar tradisional yang harganya relatif masih rendah. Selain itu, harapannya ke depan pengurus bisa membimbing para petani yang nanti menjadi anggota untuk dibuatkan pola tanam yang stabil setiap tahun sehingga tetap bias menjaga pasokan sayuran,” ujarnya.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru