Semarang – Geliat pengelolaan sampah berbasis masyarakat kian terasa di berbagai sudut Kota Semarang. Di tengah tantangan meningkatnya volume sampah perkotaan, muncul inovasi yang perlahan mengubah cara pandang warga terhadap limbah rumah tangga. Salah satu upaya nyata itu hadir melalui ATM Sampah yang dikelola Bank Sampah Sendang Barokah, berlokasi di Wonodri Sendang RW 05, Kelurahan Wonodri, Semarang.
ATM Sampah tersebut bukan sekadar sarana teknis pengelolaan sampah, melainkan ruang edukasi dan pemberdayaan warga. Sampah anorganik seperti botol plastik, kertas, dan logam yang sebelumnya berakhir di tempat pembuangan, kini dipilah dan ditabung layaknya uang. Dari proses sederhana ini, tumbuh kesadaran baru bahwa sampah memiliki nilai dan masa depan.
Ketua Bank Sampah Sendang Barokah, Kus Haryanti, menuturkan bahwa kehadiran ATM Sampah berangkat dari kepedulian warga terhadap kondisi lingkungan sekitar. Menurutnya, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan pemerintah, melainkan perlu gerakan dari tingkat paling bawah. “Kami ingin mengajak warga melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda, bukan sebagai masalah, tetapi sebagai potensi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep ATM Sampah dirancang agar mudah dipahami oleh semua kalangan. Warga cukup memilah sampah dari rumah, membawanya ke bank sampah sesuai jadwal, lalu sampah ditimbang dan dicatat sebagai saldo tabungan. Pendekatan ini dinilai efektif karena memberikan manfaat langsung sekaligus membangun kebiasaan baru yang ramah lingkungan.
“Ketika warga sudah terbiasa memilah dan menabung sampah, rasa tanggung jawab terhadap lingkungan akan tumbuh dengan sendirinya,” kata Kus Haryanti. Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari program ini bukan sekadar nilai ekonomi, tetapi perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat dalam jangka panjang.
Aktivitas Bank Sampah Sendang Barokah kini semakin hidup. Setiap hari penimbangan, suasana kebersamaan terasa kuat di lingkungan RW 05. Ibu rumah tangga, anak-anak, hingga lansia datang membawa sampah yang telah dipilah rapi. Para pengurus bank sampah dengan telaten melayani, sekaligus memberikan edukasi ringan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Menurut Kus Haryanti, cinta lingkungan menjadi fondasi utama dari seluruh gerakan yang dijalankan. Tanpa rasa memiliki terhadap lingkungan tempat tinggal, program sebaik apa pun akan sulit bertahan. “Kami selalu menanamkan bahwa lingkungan bersih adalah tanggung jawab bersama. Dari situlah semangat gotong royong dan kepedulian bisa terus dijaga,” ungkapnya.
Dampak keberadaan ATM Sampah mulai dirasakan secara nyata. Lingkungan sekitar menjadi lebih bersih dan tertata, sementara jumlah sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara berangsur berkurang. Selain itu, hasil tabungan sampah juga kerap dimanfaatkan untuk kegiatan sosial warga, sehingga manfaatnya kembali dirasakan secara kolektif.
Lebih jauh, Kus Haryanti berharap gerakan ini dapat menular ke wilayah lain di Kota Semarang. Ia meyakini bahwa inovasi lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi mahal, melainkan komitmen, konsistensi, dan partisipasi aktif masyarakat. Dengan pengelolaan yang transparan dan manfaat yang nyata, kepercayaan warga akan tumbuh dan memperkuat keberlanjutan program.
Di akhir wawancara, ia menegaskan pesan yang selalu menjadi ruh Bank Sampah Sendang Barokah. “Tagline kami sederhana, jadikan sampah menjadi berkah. Dari sampah, kita belajar peduli, disiplin, dan saling menguatkan untuk lingkungan yang lebih baik,” tuturnya penuh optimisme.
Geliat ATM Sampah di Wonodri Sendang RW 05 menjadi bukti bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan terkecil. Ketika sampah dikelola dengan kesadaran dan kebersamaan, ia tidak lagi menjadi beban, melainkan jalan menuju lingkungan yang lebih sehat, mandiri, dan penuh berkah bagi warga Semarang.
Din Tajudin – Pegiat Sosial



