Menu ✖

Mode Gelap

Menurunnya Empati dan Kepekaan Sosial

2 Jan 2026 · 10:14 WIB ·


					Menurunnya Empati dan Kepekaan Sosial Perbesar

Menurunnya empati dan kepekaan sosial menjadi gejala yang perlahan terasa dalam kehidupan remaja masa kini. Layar gawai hadir hampir di setiap momen, dari bangun tidur hingga menjelang terlelap kembali. Interaksi yang dulunya penuh tatap mata kini sering tergantikan oleh notifikasi dan pesan singkat.

Remaja tumbuh dengan kecepatan informasi yang luar biasa, namun minim ruang untuk jeda dan perenungan. Percakapan berlangsung cepat, dangkal, dan sering berakhir tanpa benar-benar memahami perasaan lawan bicara. Emosi direduksi menjadi emoji, sementara ekspresi wajah jarang dibaca dengan saksama.

Ketika interaksi sosial didominasi layar, kemampuan membaca situasi nyata menjadi kurang terasah. Remaja tidak terbiasa menangkap bahasa tubuh, nada suara, atau jeda canggung dalam percakapan langsung. Padahal, unsur-unsur itulah yang selama ini membangun empati secara alami.

Hubungan pertemanan pun berubah menjadi sekadar koneksi digital yang mudah terhubung dan mudah pula terputus. Konflik sering dihindari dengan cara menghilang, memblokir, atau berhenti membalas pesan. Proses belajar memahami perbedaan dan menyelesaikan masalah akhirnya terlewatkan.

Kepekaan sosial membutuhkan latihan yang berulang dan pengalaman yang nyata. Saat remaja jarang bersentuhan dengan realitas sosial, rasa peduli terhadap sekitar ikut melemah. Orang lain mudah dilihat sebagai profil, bukan manusia dengan perasaan kompleks.

Di ruang kelas, di rumah, bahkan di tempat bermain, layar kerap menjadi pusat perhatian. Kehadiran fisik tidak selalu berarti kehadiran emosional yang utuh. Banyak remaja duduk bersama, namun masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri.

Empati sejatinya tumbuh dari kebiasaan mendengar dan merespons dengan tulus. Tanpa interaksi nyata, kemampuan ini perlahan memudar dan dianggap tidak lagi penting. Akibatnya, sikap acuh dan kurang peka terasa semakin wajar dalam keseharian.

Bukan berarti teknologi sepenuhnya harus disalahkan atas perubahan ini. Masalah muncul ketika layar menggantikan, bukan melengkapi, hubungan antarmanusia. Keseimbangan menjadi kunci agar teknologi tetap manusiawi.

Remaja membutuhkan ruang aman untuk berinteraksi secara langsung dan apa adanya. Kegiatan bersama, diskusi tatap muka, dan pengalaman sosial nyata dapat menghidupkan kembali empati yang meredup. Dari situ, kepekaan sosial dapat tumbuh perlahan namun kuat.

Menjaga empati di tengah dunia digital adalah tantangan bersama, bukan hanya tugas remaja. Orang dewasa perlu memberi teladan tentang hadir sepenuhnya dalam interaksi. Dengan begitu, layar tidak memisahkan, melainkan mendukung hubungan yang lebih bermakna.

Din Tajudin – Pegiat Sosial

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

Wajib Nonton! GJLS: Berapi-api Sajikan Komedi Segar Sekaligus Kisah Dramatis Petugas Damkar

18 Oktober 2026 - 19:35 WIB

Wajib Nonton! GJLS: Berapi-api Sajikan Komedi Segar Sekaligus Kisah Dramatis Petugas Damkar

Dari Donasi hingga Adopsi, PET KINGDOM Ajak Masyarakat Berbagi untuk Anabul

15 Oktober 2026 - 15:15 WIB

Dari Donasi hingga Adopsi, PET KINGDOM Ajak Masyarakat Berbagi untuk Anabul

Selama Tiga Hari, The Market Bloom District Hadirkan 115 Tenant di DP Mall Semarang

4 September 2026 - 12:41 WIB

Selama Tiga Hari, The Market Bloom District Hadirkan 115 Tenant di DP Mall Semarang

Dua Buku Lahir dari Tanah Rantau, Nikmat Harahap Mengubah Perjuangan Menjadi Karya

26 Agustus 2026 - 07:29 WIB

Dua Buku Lahir dari Tanah Rantau, Nikmat Harahap Mengubah Perjuangan Menjadi Karya

Tari Musikal Jejak Peradaban, Membawa Alumni SMAN 1 Semarang Bernostalgia

22 Agustus 2026 - 05:55 WIB

Tari Musikal Jejak Peradaban, Membawa Alumni SMAN 1 Semarang Bernostalgia

Kisah Nyata Baby Udon Hadir di Semarang, Penonton Tak Kuasa Menahan Air Mata

17 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Kisah Nyata Baby Udon Hadir di Semarang, Penonton Tak Kuasa Menahan Air Mata
Trending di Lifestyle

Tinggalkan Komentar