Selasa, 10 Februari 2026
30 C
Semarang

Belajar dari Bencana 2025: Ikhtiar, Iman, dan Peringatan dari Desa Sunyi

"Menanam pohon itu ibadah, mengelola sampah itu ibadah, jika niatnya untuk menjaga amanah-Nya"

Berita Terkait

GUNUNG KIDUL – Tahun 2025 tercatat meninggalkan jejak duka mendalam melalui serangkaian bencana alam yang dahsyat. Dari banjir bandang di Sumatera yang merenggut ratusan nyawa hingga fenomena alam tidak biasa di Telaga Sarangan, tahun ini seakan menjadi cermin betapa kecilnya manusia di hadapan kuasa alam.

Suara renungan datang dari Eyang Sudaryanto (67), pengampu sebuah Mushola sederhana, di Desa Wotawati, Gunung Kidul. Sebuah desa terpencil dan unik di lembah bekas aliran Sungai Bengawan Solo Purba, yang menyampaikan pesan untuk dibaca sebagai tanda.

“Semua yang terjadi, besar kecil, hanya dengan izin Yang Maha Kuasa. Ini ujian, agar kita belajar. Belajar bahwa kekuatan kita terbatas, bahwa ilmu kita ada batasnya. Inti dari semua ujian ini cuma satu, mengingatkan kita untuk kembali pada-Nya. Sadarlah, sebelum semuanya benar-benar terlambat”, ujarnya lirih Minggu (04/01/2025).

Catatan Duka 2025, Dari Aceh hingga Magetan Sebagai Refleksi

Tahun ini diawali dan diakhiri oleh air dan tanah yang bergerak di luar kendali. Berikut lima musibah terdahsyat yang menyayat:

  1. Banjir & Longsor di Sumatera (November 2025): Tragedi terparah dengan 916 jiwa meninggal, ratusan hilang, dan ribuan mengungsi di Aceh, Sumut, dan Sumbar.
  2. Banjir & Longsor di Denpasar (Januari 2025) Tanah longsor menewaskan 5 orang.
  3. Hujan Es di Yogyakarta (Maret 2025) Fenomena langta yang menggemparkan kampus Universitas Gadjah Mada.
  4. Tanah Longsor di Sumatera Barat (2025) Menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
  5. Cuaca Ekstrem di Jawa (2025) Menelan korban dan merusak sarana publik.

Fenomena aneh Danau Sarangan yang berombak seperti laut di Magetan pada Maret 2025 menambah daftar kejadian yang mengingatkan pada kekuatan alam yang tak terduga, serta masih banyak lagi kejadian alam maupun angka kecelakaan yang mengakibatkan kerugian material maupun korban jiwa.

Namun, di sela kabar duka, secercah respons positif tumbuh. Tahun 2025 juga diwarnai peningkatan kesadaran lingkungan dan pengembangan teknologi hijau yang lebih gencar. Ini adalah bentuk “belajar” yang nyata dari manusia.

“Menanam pohon itu ibadah, mengelola sampah itu ibadah, jika niatnya untuk menjaga amanah-Nya,” pesan sang sesepuh dari lembah purba. “Jangan sampai kita sibuk memperbaiki dunia, tapi lupa memperbaiki hubungan dengan Pencipta dunia”, imbuhnya.

Maka, di Tahun 2026 ini, pesan yang lahir dari kesunyian Desa Wotawati bisa menjadi pegangan, untuk lebih “Bersiap dan Berserah”.

Bersiap, dengan segala ikhtiar lahiriah:

· Memperkuat mitigasi bencana dengan ilmu dan teknologi.
· Meningkatkan kesadaran ekologis secara kolektif.
· Membangun solidaritas sosial yang tangguh.

Berserah, dengan kesadaran batiniah yang terdalam:

· Mengakui bahwa masa depan adalah rahasia Sang Maha Esa. Tidak ada satu pun algoritma yang bisa memastikan esok hari.
· Memahami bahwa kesiapan terbaik adalah kesiapan hati, hati yang tawakal, tidak sombong saat diberi kemudahan, dan tidak putus asa saat diuji.
· Mengalirlah seperti air di lembah purba ini. Berikhtiarlah sepenuh hati, namun biarkan hasilnya mengalir mengikuti ketetapan yang Maha Tahu. Lawanlah kesombongan dengan kerendahan hati, dan hadapi ketidakpastian dengan ketenangan iman.

Tahun 2026 sudah menyapa kita semua dengan bahasanya sendiri. Mungkin dengan kemajuan, mungkin dengan ujian baru. Dari lembah bekas sungai purba ini, kita diingatkan, makna kesiapan sejati bukanlah tentang mengontrol segala sesuatu, tetapi tentang memiliki ketenangan batin untuk menghadapi apa pun yang telah ditakdirkan untuk terjadi.

Dalam penutupnya beliau mengakatan, “Kedepan agar kita lebih belajar, bukan dengan ketakutan, tetapi dengan kewaspadaan yang tenang, ikhtiar yang maksimal, dan hati yang selalu ingat kepada siapa kita akan kembali”, pungkasnya.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru