Selasa, 10 Februari 2026
25 C
Semarang

Di Balik Tawa Kepedihan: Refleksi Warga di Tengah Sandiwara Kekuasaan

Tertawalah pada Sandiwara Politik, tapi Jangan Pernah Berhenti Peduli

Berita Terkait

Catatan Redaksi – Tertawa sering kali menjadi senjata terakhir rakyat yang lelah. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa pedas menyaksikan konser “bulsit” di panggung kekuasaan yang semakin tak terbantahkan. Di depan kamera, wajah-wajah penuh khidmat berkoar tentang integritas dan nasionalisme. Namun, di balik layar, yang terdengar hanyalah gelak tawa bagi-bagi proyek dan bisik-bisik koalisi.

Fenomena ini bukan lagi rahasia umum, melainkan semacam budaya baru politik-media yang diterima dengan pasrah. Masyarakat diajak menyaksikan sebuah stand-up comedy bernuansa tragis, dimana para pemainnya serius memerankan peran, tetapi naskahnya adalah lelucon yang sama berulang setiap lima tahun.

Nostalgia Beracun: Mengapa Orde Baru Selalu Dirindukan?

Salah satu titik kritis yang muncul adalah narasi nostalgia terhadap masa lalu. Ungkapan seperti, “Dulu zaman 3 partai lebih baik…” atau “Hanya Pak Harto yang bisa kelola negara dengan aman,” kerap menjadi pelipur lara di tengah karut-marut demokrasi kini.

“Zaman 3 Partai menawarkan stabilitas namun membungkam demokrasi. Zaman banyak partai menawarkan kebisingan namun sering kosong substansi. Rakyat terjebak memilih antara ketertiban yang bisu atau keriuhan yang mandul,” kata salah seorang pengamat di Indonesia.

Pandangan ini memang provokatif, tetapi mengandung kebenaran emosional. Masyarakat melihat demokrasi kontemporer sebagai politik yang selalu dalam mode kampanye, di mana program kerja hanya jadi batu loncatan untuk pemilu berikutnya. Namun, penting untuk mengingat bahwa stabilitas Orde Baru dibangun di atas fondasi otoritarian, korupsi tersentralisasi, dan pembungkaman hak asasi manusia yang sistematis. “Aman dan baik” itu adalah ilusi yang mahal, dibayar dengan kebebasan dan keadilan bagi banyak pihak.

Anatomi “Bulsit” Kekinian: Korupsi yang Telanjang dan Tak Terjangkau

Kenapa situasi sekarang terasa lebih menjengkelkan? Korupsi zaman dulu ibarat penyakit dalam yang tersembunyi, sementara korupsi sekarang adalah luka bernanah yang dipamerkan tetapi seolah-olah tak bisa diobati. Dulu, musuh terlihat jelas berupa rezim tunggal. Sekarang, musuh itu abstrak, sebuah sistem oligarki yang bersembunyi di balik jargon demokrasi, koalisi, dan kebebasan pers.

Inilah yang melahirkan istilah jenaka namun getir, “Bulsit semua ‘poti’tikus’ itu.” Mereka adalah tikus-tikus berjas, berdasi, dan berpidato merdu yang berkeliaran di gudang kekuasaan, sementara rakyat hanya bisa menonton dengan senyum kecut.

“Mereka ingin kita sinis, karena orang sinis akan berhenti peduli. Dan saat itulah mereka leluasa berkuasa,” sebuah peringatan yang tertulis dalam narasi reflektif.

Mencari Keluhuran di Reruntuhan Spiritualitas Politik

Dari kacamata spiritual, esensi masalahnya tetap sama, yaitu kerakusan akan kekuasaan dan harta. Korupsi era dulu dan sekarang sama-sama merupakan pengambilan hak orang lain. Perbedaannya hanya pada kemasannya, yang satu terselubung rapi, yang lain dijadikan tontonan reality show politik yang tak kunjung tamat.

Spiritualitas mengajarkan keikhlasan dan pelayanan tanpa pamrih. Namun, di tingkat negara, yang tumbuh subur adalah pelayanan transaksional, di mana setiap kebijakan dan jabatan memiliki harga politisnya. Di sinilah keluhuran sebagai bangsa terus terkikis, digantikan oleh kalkulasi kursi dan pembagian kue kekuasaan.

Lalu, Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Menyerah dan tenggelam dalam sinisme bukanlah pilihan. Ada beberapa jalan keluar kolektif yang bisa ditempuh:

  1. Tertawalah, tapi jangan biarkan tawa itu menjadi bentuk kepasrahan. Jadikan ia tameng agar tidak larut dalam emosi dan drama yang mereka ciptakan.
  2. Tolak Dibodohi. Ukur politisi bukan dari retorikanya, tapi dari track record dan konsistensi tindakan nyatanya.
  3. Pilih dengan Cerdas. Meski sulit, tetap dukung calon yang bukan berasal dari “pabrik politik” lama yang telah menjadi bagian dari masalah.
  4. Jaga Ingatan Sejarah. Jangan biarkan frustrasi masa kini memutihkan noda kelam masa lalu. Nostalgia buta terhadap otoritarianisme adalah jebakan berbahaya.

Memang, kita hidup di era di mana kepura-puraan kadang lebih dihargai daripada kejujuran, di mana gaya bicara lebih penting daripada isi kerja. Tawa getir kita adalah bukti bahwa nalar sehat kita belum sepenuhnya mati; ia masih bisa membedakan antara drama dan realitas.

Namun, di balik semua kelakar dan sindiran ini, tersimpan sebuah panggilan luhur: untuk tidak menyerah pada sikap apatis. Kritik dan tawa pedas adalah dua sisi mata uang yang sama—keduanya adalah bentuk kepedulian yang masih tersisa. Saat kita berhenti memperhatikan, saat itulah panggung sandiwara itu benar-benar menjadi realitas satu-satunya yang kita miliki.

Jangan biarkan nostalgia akan “stabilitas” yang dibungkam membawa kita mundur ke dalam kandang yang lebih nyaman namun gelap. Demokrasi yang berisik dan berantakan ini adalah ruang belajar kita yang mahal harganya. Tugas kita bukan meratapi kekurangannya, tetapi secara aktif dan cerdas memperbaiki kualitasnya, memilih pemain yang lebih baik, dan menuntut naskah yang lebih bermartabat.

Teruslah tertawa agar tidak menangis. Teruslah mengkritik agar tidak tunduk. Dan yang terpenting, teruslah peduli, karena hanya dengan kepedulian kolektif itulah sandiwara “bulsit” ini suatu hari akan digantikan oleh lakon yang lebih mulia, oleh pemerintahan yang jujur, adil, dan benar-benar melayani. Titik tawa kita hari ini bisa menjadi awal dari perubahan besok, asalkan kita tidak berhenti mempercayai bahwa politik yang berintegritas bukanlah mimpi, tetapi sebuah keharusan yang harus kita wujudkan bersama.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru