Selasa, 17 Februari 2026
26 C
Semarang

“Di Balik Tawa, Aku Juga Cape”: Tragedi Siswi SD di Demak dan Jeritan Sunyi yang Tak Terdengar

Sempat dilarikan ke RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang, namun nyawanya tak tertolong

Berita Terkait

DEMAK – Sebuah tragedi mengguncang Mranggen, Demak. SA (12), siswi SD, ditemukan meninggal dunia di rumahnya, Kamis (12/2/2026) sore. Ia tergantung menggunakan kain jarik pada alat olahraga pull up. Kasus ini menyisakan duka, sekaligus pertanyaan besar tentang kesehatan mental anak dan pola komunikasi keluarga di era digital.

Kronologi yang terekam CCTV menunjukkan ibu korban pulang bersama adik SA pukul 18.01 WIB. Dua menit kemudian, sang ibu keluar rumah berteriak histeris meminta tolong. SA sempat dilarikan ke RSUD KRMT Wongsonegoro Semarang, namun nyawanya tak tertolong. Hasil visum menyatakan korban meninggal karena mati lemas, dengan rentang waktu kematian 2-6 jam sebelum pemeriksaan.

Polisi memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan atau indikasi pembunuhan. Aktivitas terakhir di ponsel korban tercatat pukul 16.25 WIB, dan tidak ada orang lain yang masuk rumah selama rentang waktu tersebut.

Beberapa hari sebelum tragedi, SA mengunggah tangkapan layar percakapan WhatsApp dengan ibunya. Dalam percakapan itu, sang ibu mengirimkan pesan bernada kasar:

“Brengsek kamu Sekar. Kalau kamu ga angkat, kamarmu tak obrak-abrik.””Anj**ng kamu Sekar.””Tak bunuh kamu, kalau enggak mbok angkat.”

SA mengunggah screenshot itu dengan keterangan yang menyayat hati:

“Di balik tawa gua, di sisi lain aku juga cape.”

Polisi membenarkan bahwa tangkapan layar itu diunggah korban beberapa hari sebelum kejadian. Namun Kasat Reskrim Polres Demak, Iptu Anggah Mardwi Pitriyono, mengingatkan agar tidak terburu-buru menyimpulkan satu faktor tunggal sebagai penyebab.

“Penyebab SA mengakhiri hidupnya belum diketahui secara pasti. Pesan kasar itu terjadi jauh sebelum kejadian dan tidak ada tanda-tanda keributan. Bunuh diri biasanya dipicu akumulasi tekanan psikologis yang kompleks,” ujarnya.

Alarm Kesehatan Mental: Anak-anak Rentan, Negara Gagal?

Direktur LBH APIK Semarang, Raden Rara Ayu Hermawati, menyoroti pentingnya deteksi dini terhadap kondisi psikologis anak.

“Anak-anak yang rentan bunuh diri biasanya mengalami depresi berat. Pemicunya bisa perundungan, masalah pengasuhan, atau tekanan ekonomi. Tanda-tandanya, bisa penurunan nafsu makan, kurang tidur, sering bicara soal kematian. Orang dewasa di sekitar anak harus peka dan menciptakan ruang dialog yang aman,” jelasnya.

Sementara itu Ketua DPRD Demak, Zayinul Fata, mengajak orang tua untuk merenungkan kembali pola komunikasi dengan anak. Ia mengutip Al-Qur’an surat Thaha ayat 44 tentang perintah Allah kepada Nabi Musa dan Harun saat menghadapi Firaun:

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia sadar atau takut.”

Ia menegaskan, bahkan kepada Firaun, manusia paling durhaka dalam sejarah, diperintahkan berkata lembut. Apalagi kepada anak sendiri.

“Kita perlu ruang konseling ramah anak di sekolah dan desa. Komunikasi yang keras hanya akan melukai, bukan mendidik,” ujar Zayinul.

Ketika Kata-kata Jadi Luka

Tragedi ini bukan sekadar berita kriminal. Ia adalah jeritan sunyi seorang anak yang tak terdengar oleh orang terdekatnya.

SA sudah memberi sinyal, unggahan di media sosial, caption yang menyayat, dan pesan-pesan yang menunjukkan kepenatan. Tapi sinyal itu luput.

Di era digital, anak-anak kita mungkin lebih fasih mengungkapkan perasaan melalui status WhatsApp atau caption Instagram daripada berbicara langsung.

Pertanyaannya, apakah kita cukup peka untuk membaca bahasa diam mereka?

Kata-kata punya daya hancur. Apalagi jika datang dari orang yang paling dikasihi. Marah boleh, cemas boleh, tapi cara menyampaikan menentukan apakah anak merasa diperhatikan atau justru tertekan.

Kontak Bantuan

Bagi siapa pun yang merasa tertekan, depresi, atau punya kecenderungan menyakiti diri sendiri:

· Call Center Halo Kemenkes: 1500-567 (24 jam)

· Aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku

· Email: kontak@kemkes.go.id

· SMS/WA: 081281562620

Bunuh diri bukan solusi. Masalah pasti ada jalan keluarnya, dan kamu tidak sendiri.

Catatan Redaksi

SA pergi meninggalkan dunia yang mungkin terlalu bising baginya. Di balik tawa yang ia tampilkan, ada kepenatan yang tak sempat ia bagi. Di balik unggahan media sosial, ada jeritan sunyi yang tak terdengar.

Kita bisa sibuk mencari siapa yang salah. Polisi sudah menyatakan ini bukan kasus kriminal. Tapi mungkin yang lebih penting bukan mencari kambing hitam, melainkan bertanya pada diri sendiri:

sudahkah kita menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak kita?

Zayinul Fata mengingatkan tentang qaulan layyinan, kata-kata lembut. Bahkan kepada Firaun diperintahkan berkata lembut. Lalu mengapa kepada anak sendiri, yang darah daging kita, yang setiap hari kita lihat tumbuh, kita justru lupa?

SA mungkin sudah pergi. Tapi masih ada ribuan anak lain yang mungkin sedang bergulat dengan kegelapan yang sama. Mereka butuh ruang aman untuk bercerita, bukan ruang penuh tekanan. Mereka butuh didengar, bukan hanya dididik.

Negara boleh sibuk merancang kebijakan, sekolah boleh sibuk mengejar kurikulum, tapi di ujungnya, yang paling menentukan adalah keseharian kita di rumah. Apakah anak pulang ke ruang yang hangat, atau justru ke ruang yang penuh ancaman?

Tertawalah pada anggapan bahwa “anak kecil tak punya masalah berat”. Tapi jangan berhenti merenung, mungkin selama ini kita hanya melihat tawa mereka, tanpa pernah bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu rasakan, Nak?.”

Semoga almarhumah SA diterima di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Dan semoga kita semua belajar bahwa cinta tak cukup dirasakan, ia harus diucapkan dengan cara yang bisa diterima hati kecil yang paling rentan sekalipun.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru