Sabtu, 21 Februari 2026
27 C
Semarang

Bukan Sulap Bukan Sihir: Sekali Telepon Mentan, Harga Ayam Langsung Anjlok Rp15 Ribu!

Sidak Kilat Berawal dari Laporan Masyarakat

Berita Terkait

JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuktikan bahwa koordinasi cepat dengan aparat penegak hukum bisa menjadi “senjata ampuh” menurunkan harga pangan dalam hitungan menit. Dalam inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, Jumat (20/2/2026), Amran berhasil menurunkan harga ayam dari Rp40 ribu menjadi Rp25 ribu per kilogram hanya dengan sekali telepon.

“Ini bukan sulap, ini koordinasi!” begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan Mentan Amran kepada para spekulan pangan yang biasa bermain di momen Ramadan.

Sidak Kilat Berawal dari Laporan Masyarakat

Insiden bermula saat Mentan Amran sedang memimpin rapat di kantornya, Jumat pagi. Tiba-tiba laporan masuk tentang kenaikan harga ayam dan bawang putih yang memberatkan masyarakat. Tanpa buang waktu, rapat dihentikan dan Amran langsung meluncur ke Pasar Kebayoran.

Hasilnya mencengangkan. Begitu tiba di lokasi, Mentan tak segan mengangkat telepon dan berkoordinasi dengan jajaran kepolisian, dari Kapolda, Dirkrimsus, hingga Kapolres setempat.

“Kami tadi pagi sedang rapat, laporan datang ke kantor, mengatakan bahwa harga ayam naik, harga bawang putih naik. Setelah kita telepon, Pak Kapolda, Pak Dirkrimsus dengan Pak Kapolres, harganya langsung turun dari 40 ribu menjadi 25 ribu. Jadi ternyata telepon itu menurunkan harga 15.000 per kilo,” kata Mentan Amran di lokasi.

Tak hanya ayam, harga bawang putih ikut merosot dari Rp60 ribu menjadi Rp38 ribu per kilogram, bahkan berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

MinyaKita Bandel: Harga Rp19 Ribu, Siap Disegel!

Namun, di tengah keberhasilan menekan harga ayam dan bawang, sidak justru menemukan keanehan pada minyak goreng rakyat. MinyaKita yang seharusnya dijual Rp15.700 per liter, ditemukan dipatok Rp19.000 oleh pedagang.

Mentan Amran tak tinggal diam. Ia langsung menginstruksikan aparat untuk menelusuri rantai distribusi hingga ke sumbernya.

“Ini minyak goreng tertulis 15.700. Tapi dijual tadi 19.000. Ini kami minta Pak Dirkrimsus, aku serahkan ini diproses hukum, segel unit usahanya. Tapi jangan pak penjual pengecernya enggak boleh. Ini akan ditelusuri,” tegasnya.

Bahkan, untuk memperkuat penyelidikan, Amran sengaja membeli dua kantong MinyaKita sebagai barang bukti.

Stok Pangan Melimpah, Tak Ada Alasan Harga Naik

Mentan Amran memastikan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi aman dan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan.

“Pasokan telah kami pasok dari sebelum bulan suci Ramadan itu lebih dari cukup. Beras kita melimpah, minyak goreng kita mensupply dunia,” katanya.

Ia menegaskan, tak ada alasan logis bagi harga minyak goreng untuk melonjak di dalam negeri, mengingat Indonesia adalah negara eksportir minyak goreng ke berbagai dunia.

“Kita mengekspor minyak ke seluruh dunia. Kenapa naik? Enggak ada alasan minyak goreng naik di Indonesia. Enggak boleh diberi ampun. Bagi orang yang ingin memanfaatkan bulan suci Ramadan itu harus ditindak,” pungkasnya.

Imbauan Keras ke Pengusara: Jangan Main-Main di Bulan Suci!

Dalam kesempatan itu, Mentan Amran juga menyampaikan pesan tegas kepada para pengusaha dan distributor agar tidak memanfaatkan momen Ramadan untuk mencari untung berlebih dengan cara menzalimi rakyat.

“Kepada seluruh saudaraku, sahabatku, pengusaha, tolong deh jangan main-main di bulan suci Ramadan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pemerintah tidak berniat mengganggu pengusaha yang mencari rezeki halal, tetapi akan bertindak tegas terhadap mereka yang mengganggu stabilitas harga dan menyengsarakan rakyat.

“Kami tidak mau berniat ganggu seluruh pengusaha. Ayo cari rezeki tetapi jangan mengganggu pemerintah, jangan mengganggu rakyat, jangan mengganggu saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah puasa Ramadan,” pesannya.

Catatan Redaksi

“Telepon sakti” Mentan Amran yang mampu menurunkan harga ayam Rp15 ribu dalam hitungan menit ini seperti adegan dalam film aksi, pahlawan datang, menelepon, dan penjahat langsung gentar. Tapi tunggu dulu, ini bukan soal kekuatan super, melainkan bukti nyata bahwa koordinasi vertikal yang cepat antara pemerintah dan aparat penegak hukum bisa menjadi solusi instan atas persoalan klasik, mainan harga oleh spekulan.

Namun, ada ironi di balik keberhasilan ini. Kenapa harus menunggu menteri turun tangan dan mengangkat telepon dulu baru harga turun? Di mana pengawasan rutin yang seharusnya berjalan setiap hari? Dan yang lebih menggelitik, bagaimana mungkin MinyaKita, produk bersubsidi yang harganya sudah ditetapkan, masih berani dijual di atas HET? Apakah para distributor besar merasa kebal hukum?

Kasus ini juga membuka mata kita pada realitas pahit, Indonesia, negara penghasil minyak goreng terbesar yang mengekspor ke seluruh dunia, justru warganya harus membeli minyak dengan harga lebih mahal di dalam negeri. Sebuah absurditas yang tak bisa ditolerir.

Langkah Mentan Amran membeli dua kantong MinyaKita sebagai barang bukti adalah gestur simbolis yang kuat. Ia tak sekadar bicara, tapi mengumpulkan bukti untuk proses hukum. Ini sinyal bahwa pemerintah kali ini serius, tak hanya sekadar ancaman verbal.

Pelajaran penting dari sidak ini, spekulan pangan ternyata pengecut. Mereka hanya berani bermain ketika pengawasan longgar dan aparat diam. Begitu ada koordinasi dan ancaman hukum, harga langsung jeblok. Artinya, selama ini kenaikan harga bukan karena kelangkaan stok, tapi murni ulah oknum yang ingin untung besar di momen ibadah.

Maka, tugas kita selanjutnya adalah memastikan efek jera benar-benar terjadi. Proses hukum terhadap pelanggar MinyaKita harus transparan dan publik tahu hasilnya. Jangan sampai “telepon sakti” hanya jadi sensasi sesaat, sementara setelah Ramadan usai, para spekulan kembali bermain seenaknya.

Sebab pada akhirnya, keadilan pangan tak cukup dijamin oleh sekali telepon menteri. Ia butuh sistem pengawasan yang kuat, penegakan hukum yang konsisten, dan partisipasi aktif masyarakat untuk terus melapor jika ada keanehan harga. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga harga pangan tetap bersahabat.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru