Sabtu, 25 April 2026
29 C
Semarang

Ngabuburit di Ketinggian: Bocah 5 Tahun Taklukan Dinding Panjat, Puasa Tetap Semangat!

Ramadan Produktif Olahraga Sambil Ngabuburit.

Berita Terkait

SEMARANG – Di tengah hiruk-pikuk persiapan buka puasa yang biasanya diisi dengan berburu takjil atau sekadar rebahan, sekelompok bocah dan mahasiswa di Kota Semarang memilih petualangan yang berbeda, memanjat dinding setinggi langit-langit. Siapa bilang berpuasa harus lemas dan bermalas-malasan?

Di area Wall Climbing Kampus 2 Universitas Wahid Hasyim (Unwahas), Gunungpati, Semarang, Rabu sore (4/3/2026), suasana Ramadan berubah jadi ajang adu nyali dan kekuatan. Yang paling mencuri perhatian bukanlah para mahasiswa kekar, melainkan dua bocah mungil, Anjani Rengganis (6) dan adiknya, Kerinci Maharani (5).

Berbalur bubuk magnesium di telapak tangan, Anjani dengan fokus luar biasa menggenggam setiap point (pegangan) berwarna-warni di dinding setinggi belasan meter. Tubuh mungilnya bergelayutan, sesekali berayun mencari pijakan berikutnya. Di usianya yang baru Taman Kanak-kanak, ia sudah akrab dengan tantangan vertikal.

“Capek, nanti kan buka,” ucap Anjani singkat namun penuh keyakinan usai turun dari dinding. Ia mengaku berpuasa setengah hari, tapi semangatnya tak luntur sedikit pun. “Suka, dan sudah lama latihan di sini,” jawabnya polos.

Ramadan Produktif, Olahraga Sambil Ngabuburit

Anjani dan Kerinci bukan sekadar penonton. Mereka adalah peserta termuda dalam acara “Ngabuburit Climbing” yang digelar oleh Mahasiswa Pecinta Alam Mahapawha Unwahas. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 orang, mulai dari mahasiswa pecinta alam (Mapala) se-Kota Semarang, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unwahas, hingga masyarakat umum.

Salah satu peserta dewasa, Dina Rahayu dari Mapala Institut Teknologi dan Statistika Bisnis Muhammadiyah Semarang, mengaku merasakan sensasi berbeda memanjat saat berpuasa.

“Seru banget. Di atas itu takut tapi seru. Ini kedua kalinya manjat. Memang belum sampai top, baru setengah. Tadi dikit lagi sampai atas, tapi kuat kok walau puasa,” ungkapnya penuh semangat.

Filosofi Panjat Taklukan Rasa Takut, Jaga Silaturahmi

Ketua Penyelenggara Ngabuburit Climbing Mahapawha, Ainun Khotib, menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keinginan sederhana, mengisi sore Ramadan dengan sesuatu yang bermanfaat.

“Tujuan utama kami lebih ke silaturahmi antar-mapala. Selain itu supaya puasanya enggak cuma tidur. Jadi sore hari kita isi dengan olahraga panjat sambil menunggu azan Maghrib, lalu buka bersama,” ujar Ainun.

Menurutnya, berolahraga saat puasa tetap aman asal dilakukan dengan bijak. “Secara kondisi sebenarnya sama saja seperti hari biasa. Bedanya energi kita lebih sedikit karena asupan makan berkurang. Tapi itu tidak mengurangi semangat. Kalau capek ya istirahat. Tidak ada target khusus,” jelasnya. Bahkan, ia menyebut olahraga sore menjelang buka justru bisa membantu pembakaran kalori lebih optimal.

Anak-anak dan Panjat Tebing, Bermain Sambil Berlatih

Yang paling membanggakan, kehadiran peserta cilik seperti Anjani dan Kerinci menunjukkan bahwa olahraga ekstrem sekalipun bisa dinikmati semua usia, asal dengan pendampingan yang tepat.”Untuk anak-anak lebih ke permainan dan fun climbing.

Kami tidak masukkan ke program berat. Biar mereka tetap asyik, enggak jenuh, dan tetap bisa bergerak meski puasa,” tegas Ainun.

Pendekatan ini penting agar anak-anak tidak merasa terpaksa berolahraga, justru mereka akan menikmati prosesnya. Melihat Anjani yang dengan lincah berpindah dari satu pegangan ke pegangan lain, jelas sekali bahwa ia sedang bersenang-senang, bukan sekadar menjalani latihan berat.

Semarang, Surga Baru Panjat Tebing?

Ainun juga mengungkapkan kabar gembira bagi pecinta panjat tebing di Kota Semarang. Perkembangan olahraga ini dinilai cukup pesat.

“Di Semarang sudah ada pemusatan latihan. Latihannya juga terjadwal dan ada pelatihnya. Jadi perkembangan panjat tebing di sini cukup baik dan terjaga,” ujarnya.

Dengan adanya fasilitas memadai dan pembinaan berkelanjutan, bukan tidak mungkin Semarang akan melahirkan atlet panjat tebing andal di masa depan, mungkin salah satunya adalah Anjani atau Kerinci.

Sahabat, cerita dari Unwahas ini mengajarkan kita sebuah hal sederhana namun dalam, Ramadan bukan alasan untuk berhenti bergerak. Justru, bulan penuh berkah ini bisa menjadi momen untuk menemukan cara-cara baru dalam beraktivitas.

Anjani, dengan tubuh mungilnya, membuktikan bahwa usia bukan halangan. Dina, dengan rasa takutnya, menunjukkan bahwa tantangan justru membuat petualangan semakin seru. Dan para penyelenggara, dengan ide ngabuburit panjat dinding, memberi contoh bahwa silaturahmi bisa dilakukan sambil berkeringat.

Kegiatan “Ngabuburit Climbing” ini rencananya akan menjadi agenda tahunan setiap Ramadan. “Insyaallah akan kami adakan setiap tahun. Supaya Ramadan tetap produktif dan sehat,” tutup Ainun.

Jadi, tahun depan, jika Anda bosan dengan ngabuburit yang itu-itu saja, mungkin saatnya mencoba tantangan baru, panjat dinding, hadapi ketinggian, dan buktikan bahwa puasa tidak melunturkan semangat. Seperti kata Anjani, capek? “Nanti kan buka.”

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru