Semarang – Suara mesin jahit berdengung tanpa henti di kawasan Mangkang, Semarang. Puluhan pekerja sibuk menyelesaikan berbagai pesanan seragam kerja, mulai dari wearpack, polo shirt, work shirt, safety jacket, safety pants, tas hingga raincoat yang akan dikirim ke berbagai penjuru Indonesia bahkan mancanegara.
Pemandangan itu sulit dibayangkan jika menengok perjalanan awal PT Moko Garment Indonesia yang beralamat di Jl. Mangkang Wetan – Mangunharjo No. 158, Semarang, pada 2012 silam.
Saat itu, tidak ada pabrik. Tidak ada ratusan pekerja. Tidak ada ribuan produk yang diproduksi setiap bulan. Yang ada hanya sebuah kamar berukuran tiga kali tiga meter di rumah orang tua yang bekerja sebagai petani, tiga mesin jahit, dan mimpi besar dua anak muda yang nekat membangun usaha meski tidak memiliki latar belakang garmen.
Mereka adalah Budi Turmoko dan Ryan Muhammad, dua kakak beradik yang sama-sama lulusan Universitas Diponegoro. Budi merupakan alumni Ekonomi, sedangkan Ryan berasal dari Fisip.
Sebelum mendirikan Moko Garment, Budi menjalankan usaha advertising saat masih kuliah. Ketika mendapat pesanan seragam, pengerjaannya disubkontrakkan kepada pihak lain. Namun hasil yang diterima sering kali tidak sesuai harapan.
“Kualitas dan ketepatan waktunya sering tidak sesuai standar yang kami inginkan. Akhirnya kami berpikir, kenapa tidak membuat sendiri?” kenang Ryan.
Keputusan itu tentu penuh risiko, apalagi keduanya bahkan tidak bisa menjahit. Modal yang dimiliki pun sangat terbatas. Sebuah Vespa milik Budi dijual dan menghasilkan dana sekitar Rp5 juta. Uang tersebut digunakan untuk membeli dua mesin jahit, sementara satu mesin lagi diperoleh dengan cara mencicil.
Dari tiga mesin itulah perjalanan dimulai. Mereka belajar membangun usaha dari nol. Bukan sebagai penjahit, melainkan sebagai pencari talenta dan penyusun standar kualitas. Mereka merekrut tenaga profesional, mengatur sistem kerja, hingga menentukan standar produk yang menyasar segmen menengah ke atas.
Hari-hari awal bukanlah masa yang mudah. Berkali-kali mereka menawarkan jasa kepada perusahaan dan berkali-kali pula ditolak. Bahkan ada masa ketika pintu kantor calon pelanggan belum sempat mereka sentuh, penolakan sudah lebih dulu datang.
Namun pengalaman itu justru menjadi bahan bakar untuk terus maju. Promosi dilakukan melalui Facebook dan berbagai komunitas daring. Perlahan pesanan mulai berdatangan. Nama Moko Garment pun semakin dikenal.
Kini kondisinya berbalik. Perusahaan-perusahaan yang dulu menolak justru banyak yang datang menjadi pelanggan.
“Dulu kami yang mengetuk pintu mereka. Sekarang kami menerima siapa saja yang datang dengan pintu terbuka,” ujar Ryan, Direktur Moko Garment Indonesia.
Saat ini Moko Garment mampu memproduksi sekitar 10.000 pieces aneka produk seragam kerja. Pasarnya menjangkau seluruh Indonesia bahkan merambah Malaysia, Singapura, Timor Leste, Taiwan, Oman hingga Siprus.
Sekitar 90 persen pemasaran dilakukan secara online melalui website perusahaan yang menjadi pintu masuk pelanggan dari berbagai negara.
“Pasar luar negeri baru berkontribusi sekitar 10 persen, tetapi makin menjanjikan,” ungkap. Ryan optimis.
Di balik pertumbuhan tersebut, Moko Garment juga berkomitmen memberdayakan masyarakat sekitar. Dari sekitar 100 pekerja, 60 persennya berasal dari lingkungan sekitar perusahaan. Mereka juga membuka pelatihan menjahit gratis untuk warga sekitar serta program magang atau PKL bagi siswa SMK yang tidak hanya belajar produksi, tetapi juga digital marketing, administrasi, hingga bisnis. Mereka yang potensial mendapat kesempatan berkarya di Moko Garment.
Selain itu Moko Garment memberi kesempatan pada sejumlah karyawannya yang berpengalaman untuk membuka usaha penjahitan di rumah sebagai mitra di bawah naungan dan standart perusahaan.
JNE Hantarkan Produk Hingga Pelosok Negeri
Di tengah meningkatnya permintaan dari berbagai daerah, dukungan logistik menjadi salah satu faktor penting dalam pertumbuhan perusahaan.
Komisaris Moko Garment Indonesia, Budi Turmoko menuturkan, sejak awal merintis usaha, ia mempercayakan sebagian besar pengirimannya kepada JNE. Jika dahulu timnya harus mengantar paket langsung ke kantor JNE, kini layanan penjemputan memudahkan proses distribusi setiap hari.
Sekitar 70 persen pengiriman Moko Garment menggunakan layanan JNE. Rata-rata lebih dari 100 pelanggan dilayani setiap hari, dengan tujuan pengiriman mulai dari kota besar hingga daerah pelosok di Indonesia.
“Alasan kami memilih JNE karena jangkauannya luas, aman, tepat waktu, dan bisa menjangkau daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau ekspedisi lain,” kata Budi.
Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangerti Alam, mengataka, JNE terus berkomitmen mendukung pertumbuhan UMKM dan industri lokal. Di wilayah Semarang, JNE didukung sekitar 600 sumber daya manusia dan lebih dari 100 armada operasional.
Secara nasional, volume pengiriman JNE mencapai rata-rata satu juta kiriman per hari. Kontribusi UMKM dan korporasi bahkan mencapai lebih dari 40 persen dari total pengiriman.
Selain layanan pengiriman, JNE juga menyediakan layanan fulfillment yang membantu pelaku usaha dalam pengelolaan stok, pergudangan, pengemasan hingga distribusi produk kepada pelanggan.
Bagi Moko Garment, dukungan JNE yang andal menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan yang tersebar dari Aceh hingga Merauke, sekaligus mendukung langkah perusahaan menembus pasar internasional.
Di tengah pencapaian tersebut, Budi dan Ryan tetap memegang prinsip yang dipegang teguh sejak awal usaha berdiri. Setiap bulan perusahaan menyisihkan sekitar 5 persen keuntungan untuk membantu anak yatim dan kaum dhuafa.
“Doa orang tua dan anak-anak yatim adalah salah satu kunci keberhasilan kami. Selain itu, bekerja dengan jujur dan tidak menyakiti orang lain,” tutur Budi.
Dari sebuah kamar berukuran tiga kali tiga meter milik keluarga petani di Mangkang Wetan, mimpi dua anak muda itu kini tumbuh menjadi perusahaan yang produknya menjangkau ribuan orang di berbagai penjuru negeri, bahkan mancanegara..



