MAGELANG, PortalJateng.id – Operasi pencarian dua penambang pasir korban banjir lahar dingin di Sungai Senowo, Kabupaten Magelang, resmi dihentikan pada Senin (9/3/2026) sore. Keputusan pahit ini diambil setelah tim SAR gabungan melakukan penyisiran maksimal selama tujuh hari tanpa membuahkan hasil.
Kedua korban yang masih belum ditemukan adalah Maryuni dan Hasyim, keduanya merupakan penambang pasir yang terseret arus lahar dingin Gunung Merapi pada Selasa (3/3/2026) pekan lalu. Dengan dihentikannya pencarian, status kedua korban resmi dinyatakan hilang.
Kronologi Lengkap, Dari Lima Terseret, Dua Tak Ditemukan

Sebagaimana diberitakan sebelumnya dalam artikel “Tragedi Lahar Dingin Merapi, Empat Penambang Hilang, Satu Tewas, Belasan Truk Tertimbun di Magelang” (4/3/2026), bencana bermula saat hujan deras mengguyur kawasan puncak Gunung Merapi pada Selasa (3/3/2026) siang hingga sore.
Intensitas tinggi memicu banjir lahar dingin yang meluncur deras di aliran Sungai Senowo, sisi barat daya Merapi, Kabupaten Magelang.
Lima orang penambang yang sedang beraktivitas di bantaran sungai terseret arus. Mereka adalah:
1. Maryuni – warga Kabupaten Magelang (hingga kini belum ditemukan)
2. Heru – warga Kabupaten Magelang (ditemukan hari kedua pencarian)
3. Hasyim – warga Kabupaten Magelang (hingga kini belum ditemukan)
4. Fuad – warga Kabupaten Magelang (ditemukan hari kedua pencarian)
5. Iman Setiawan (21) – warga Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Tugu, Kota Semarang (ditemukan malam hari saat kejadian)

Jasad Iman Setiawan ditemukan langsung pada Selasa malam (3/3). Dua hari kemudian, Rabu pagi (4/3), tim SAR berhasil menemukan jasad Heru dan Fuad. Namun hingga hari ketujuh pencarian, Maryuni dan Hasyim tak kunjung ditemukan.
Tujuh Hari Pencarian, Kendala Alam Jadi Penghalang
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Semarang, Budiono, menjelaskan bahwa timnya telah bekerja maksimal selama sepekan. Empat alat berat dikerahkan untuk membuka tumpukan pasir tebal di area yang diduga menjadi lokasi korban.
“Kami telah mengerahkan empat alat berat berupa ekskavator untuk membantu membuka tumpukan pasir di area diduga korban berada, namun luasnya area pencarian membuat usaha tim hingga kini belum membuahkan hasil,” ujar Budiono.
Pencarian dilakukan dengan memaksimalkan ekskavator di sekitar Lokasi Kejadian Kecelakaan (LKK) hingga DAM 1, kurang lebih 600 meter. Penyisiran berulang juga dilakukan dari DAM 3 sejauh 1 kilometer ke arah hilir, namun nihil.
“Setelah kami berdialog dengan semua unsur yang terlibat serta dengan perwakilan keluarga korban, maka disepakati proses pencarian pada hari ini, Senin 9 Maret 2026 resmi dihentikan dan ditutup. Untuk status kedua korban atas nama Maryuni dan Hasyim kami nyatakan belum ditemukan,” imbuh Budiono.
Meski operasi dihentikan, Budiono membuka ruang jika suatu saat nanti ada warga yang menemukan kedua korban. “Apabila ada warga yang mengetahui atau menemukan keberadaan kedua korban, silakan hubungi kami melalui Unit Siaga SAR Borobudur. Kami siap melakukan evakuasi,” pungkasnya.
Bencana lahar dingin ini tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga menghancurkan alat-alat berat dan kendaraan para penambang.
Berdasarkan data yang dihimpun:
· 3 unit truk penambang pasir hanyut terbawa arus
· 12 unit truk lainnya tertimbun material pasir dan batu
· 2 unit alat berat (ekskavator) rusak terkubur lahar
· 6 orang petani di sekitar lokasi mengalami luka-luka saat menyelamatkan diri
Akses jalan di sejumlah titik sempat terputus dan dua dusun dilaporkan terisolasi akibat material banjir yang menutup badan jalan.
Catatan Redaksi
Tujuh hari pencarian, empat alat berat dikerahkan, puluhan personel turun tangan, namun Maryuni dan Hasyim tetap tak ditemukan. Sungai Senowo seolah enggan mengembalikan mereka, menelan rapat-rapat di antara tumpukan pasir vulkanik yang setiap hari menjadi sumber penghidupan para penambang.
Tragedi ini bukan sekadar angka, dua nama yang kini berstatus hilang, keluarga yang harus merelakan tanpa kepastian, dan puluhan truh serta alat berat yang hancur dalam sekejap. Di balik semua itu, ada pertanyaan besar yang menganga, apakah sistem peringatan dini bencana di lereng Merapi sudah berfungsi optimal?
Alarm EWS (Early Warning System) memang terpasang di sejumlah titik. Namun saat lahar dingin datang, apakah peringatan itu sampai ke telinga para penambang yang tengah sibuk bekerja di bantaran sungai?
Apakah mereka punya akses informasi cuaca real-time yang memadai? Ataukah sekali lagi, alam menunjukkan kuasanya yang tak terbantahkan, sementara manusia hanya bisa pasrah?
Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu mengevaluasi sistem mitigasi bencana di kawasan rawan Merapi. Jangan sampai tragedi seperti ini terulang hanya karena kelengahan atau ketidaksiapan. Nyawa para penambang, yang setiap hari mempertaruhkan segalanya demi nafkah, adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar.
Selamat jalan Maryuni, selamat jalan Hasyim. Kalian mungkin tak kembali secara fisik, tapi nama kalian akan terus disebut. Sebagai pengingat bahwa di lereng Merapi, kehidupan dan maut berjalan beriringan. Dan untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga ketabahan menyertai.
Jika suatu saat nanti sungai mengembalikan mereka, SAR Borobudur siap. Tapi untuk sekarang, kita semua hanya bisa berdoa.



