SEMARANG, PortalJateng.id – Bulan Ramadan selalu menjadi momen istimewa untuk berbagi. Tak terkecuali bagi PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang. Sepanjang 10-13 Maret 2026, pengelola bandara ini menggelar InJourney Airports Safari Ramadan, sebuah program berbagi yang menyalurkan total 1.000 paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan.
Dengan tagline “Bersama Ciptakan Ramadan Penuh Makna” , kegiatan ini bukan sekadar seremonial tahunan. Di balik angka 1.000 paket, ada cerita tentang kepedulian yang menyasar berbagai lapisan masyarakat: dari kaum dhuafa, anak yatim, hingga personel pendukung bandara yang selama ini bekerja di balik layar.
General Manager Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang, Sulistyo Yulianto, menjelaskan bahwa program ini merupakan implementasi dari tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

“Dengan adanya kegiatan InJourney Airports Safari Ramadan ini, kami berharap dapat memberikan manfaat serta membantu meringankan kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadan, dan dapat memperkuat silaturahmi antara Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang dan masyarakat,” ujar Sulistyo.
Tiga Sasaran, Satu Tujuan: Berbagi Kebahagiaan
Ribuan paket sembako itu didistribusikan ke tiga kelompok penerima manfaat dengan proporsi yang berbeda:
1. 500 paket untuk kaum dhuafa dan anak yatim. Mereka adalah kelompok yang paling membutuhkan uluran tangan, terutama di bulan penuh berkah ini.
2. 320 paket untuk personel supporting bandara. Mereka adalah petugas kebersihan, keamanan, dan tenaga pendukung lain yang setiap hari bekerja keras memastikan bandara beroperasi dengan lancar, namun sering luput dari sorotan.
3. 180 paket untuk masyarakat di wilayah Kelurahan Tambakharjo, Semarang. Sebagai tetangga terdekat bandara, warga Tambakharjo menjadi prioritas dalam program berbagi ini.
Setiap paket sembako berisi bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, gula, dan teh. Sederhana, tapi sangat berarti bagi mereka yang menerima. Apalagi di tengah gejolak harga pangan yang tak menentu, bantuan ini menjadi penolong yang sangat dinanti.
Lebih dari Sekadar Bantuan Materi
Bagi para penerima, paket sembako ini bukan sekadar barang. Ia adalah simbol bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada pihak-pihak yang peduli. Di Kelurahan Tambakharjo, warga menyambut kedatangan tim bandara dengan penuh antusias. Senyum merekah di wajah-wajah yang biasanya hanya bisa melihat gedung bandara dari kejauhan.
Sementara bagi personel supporting, perhatian ini menjadi pengakuan atas kerja keras mereka. Selama ini, mereka bekerja diam-diam: membersihkan toilet, menjaga keamanan, mengatur lalu lintas kendaraan. Tak banyak yang tahu nama mereka, tapi tanpanya, bandara tak akan berfungsi dengan baik.
“Ini bentuk apresiasi kami kepada mereka yang setiap hari bekerja keras memastikan kenyamanan penumpang. Semoga bantuan ini bisa sedikit meringankan beban mereka di bulan Ramadan,” ujar salah satu panitia.
Ramadan dan Semangat Berbagi di Lingkungan Bandara
Bandara mungkin identik dengan hiruk-pikuk penumpang, pesawat yang lalu-lalang, dan kesibukan tak berujung. Namun di balik semua itu, ada ruang untuk kebaikan. Safari Ramadan ini membuktikan bahwa institusi sebesar bandara pun bisa hadir dengan wajah humanis.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa tanggung jawab sosial tidak selalu harus berupa proyek besar dengan anggaran miliaran. Kadang, 1.000 paket sembako yang disalurkan dengan hati bisa memberikan dampak yang jauh lebih besar.
Apalagi dengan melibatkan personel supporting, ada pesan inklusivitas yang kuat. Mereka yang biasanya memberi pelayanan, kali ini justru menerima pelayanan. Sebuah sirkulasi kebaikan yang patut dicontoh.
Catatan Redaksi
Ada yang menarik dari program CSR Bandara Ahmad Yani kali ini. Sasaran penerimanya tidak hanya kaum dhuafa dan anak yatim, yang memang lazim menjadi target sedekah, tapi juga personel supporting dan warga sekitar. Ini menunjukkan bahwa konsep “berbagi” tidak harus selalu berorientasi pada mereka yang “fakir”, tapi juga pada mereka yang “bekerja”.
Personel kebersihan dan keamanan bandara adalah garda terdepan yang sering tak terlihat. Mereka datang lebih pagi, pulang lebih malam, dan bekerja saat orang lain libur. Dengan memberikan bantuan kepada mereka, manajemen bandara mengirim sinyal bahwa kontribusi mereka dihargai.
Demikian juga warga Tambakharjo. Sebagai tetangga terdekat, mereka adalah bagian dari ekosistem bandara. Kebisingan pesawat, lalu lintas yang padat, dan berbagai dampak operasional lainnya sehari-hari mereka rasakan. Maka, berbagi dengan mereka adalah bentuk timbal balik yang adil.
Sulistyo Yulianto dan tim patut diapresiasi. Di tengah kesibukan mengelola bandara yang terus meningkat di musim mudik, mereka masih menyempatkan diri untuk berbagi. Ini membuktikan bahwa kesibukan bukan alasan untuk tidak peduli.
Semoga semangat berbagi ini terus berlanjut, tidak hanya di bulan Ramadan, tapi di setiap kesempatan. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa membuat orang lain tersenyum.
Selamat menjalankan ibadah puasa, dan selamat berbagi berkah untuk semua.



